Jujurlah

Azwanil Fakhri
Karya Azwanil Fakhri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Maret 2016
Jujurlah

JUJURLAH
???????

"Ayah bohong! Kemarin ayah janji membelikan cokelat untukku kalau aku dapat nilai bagus." Ujar si anak sambil menangis.

"Iya nak. Ayah lupa." Ujar sang Ayah, "Ayah janji besok akan ayah beli."

Keesokan harinya. "Ayah, mana cokelatnya?" Si anak antusias bertanya. "Astaga, ayah lupa nak." Ucap sang Ayah. Si anak lantas menangis sambil berteriak ayahnya pembohong.
***

Pernahkah Anda mendengar, atau terlibat percakapan seperti ilustrasi di atas? Perhatikan bagaimana si ayah, dalam ilustrasi, di'cap' pembohong oleh anaknya.

Jujur kini menjadi sesuatu yang langka. Boleh jadi kita turut andil melahirkan generasi 'pembohong' tanpa kita sadari. Ukurannya sederhana, jika kita dulu suka dibohongi, atau kita malah menjadi pelaku dalam membentuk sifat 'bohong' pada anak kita, maka itu akan membekas, hingga akhirnya menjadi karakter pada diri individu kita.

Kebohongan adalah satu dari sekian sifat buruk dan mesti kita hindari. Dalam ilmu komunikasi, kebiasaan berbohong dikenal dengan 'interpersonal deception theory' atau 'teori kebohongan antarpribadi'.

Teori kebohongan pertama kali diperkenalkan oleh David Buller dan Judee Burgoon. Teori kebohongan mengatakan bahwa ada kalanya seseorang harus berbohong. Bohong merupakan manipulasi dari sebuah informasi. Seseorang yang akan berbohong memiliki strategi. Strategi tersebut diantaranya, adalah : [1] Falsification atau pemalsuan; [2] Concealment atau penyembunyian; dan [3] Equivocation atau pengelakan.

Setiap orang berbohong pasti memiliki tujuan tertentu, yaitu sasaran, memelihara tujuan dan menyelamatkan muka (diri sendiri). Deception atau 'kebohongan' memerlukan usaha dan kerja keras. Pembohong harus terus berurusan dengan tugas-tugas yang kompleks berkaitan dengan mengatur strategi kebohongannya. Jika bohong sudah terlalu banyak, maka akan terjadi kebocoran atau leakage. Dan kebocoran ini akan berpengaruh pada perilaku non-verbal (leakage the truth will come out).

Bohong juga menciptakan perasaan bersalah dan keraguan, yang akan terlihat dari tindak-tanduk atau perilakunya. Pada tingkat akut, ini akan menjadi karakter pada individu kita. Pasalnya, sesuatu yang sering dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan, akhirnya akan melekat sebagai satu 'karakter' pada diri kita.

Inilah yang terjadi pada dunia keseharian kita. Bahwa betapa kebohongan telah menjadi kebiasaan dan karakter sebagian kita. Betapa banyak kabar dan informasi yang kabur 'berseliweran' di sekitar kita, tanpa teruji validitas kebenarannya.

Asalnya memang berbohong itu terlarang, namun dikecualikan dalam tiga hal. Ketika itu berbohong jadi rukhsah atau keringanan karena ada maslahat yang besar. Sebagian kita menggelarinya 'bohong putih'. Ada hadits yang menyebutkan hal ini.

Ummu Kultsum binti ?Uqbah bin ?Abi Mu?aythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi shallallahu ?alaihi wa sallam. Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda, ?Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan dia antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih).?

Ibnu Syihab berkata, ?Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, ?Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).? (HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Bohong atau dusta hanyalah diringankan pada suatu perkara yang dianggap punya maslahat yang besar yaitu yang disebutkan dalam hadits di atas. Dalam suatu kondisi berdusta malah bisa diwajibkan untuk menghindarkan diri dari kehancuran atau kebinasaan seseorang. (Lihat Nuzhatul Muttaqin karya Syaikh Prof Dr. Musthofa Al Bugho, dkk, hal. 134).

Pertanyaannya kemudian, bagaimana sikap kita dan apa yang dilakukan untuk mencegah kebohongan? Sederhana sekali jawabannya, jujurlah.

Lawan karakter bohong adalah jujur. Jujur atau kejujuran mengacu pada aspek karakter, moral dan berkonotasi atribut positif dan berbudi luhur seperti integritas, kejujuran, dan keterusterangan, termasuk keterusterangan pada perilaku, dan beriringan dengan tidak adanya kebohongan, penipuan, perselingkuhan, dan lain-lain. Selain itu, kejujuran berarti dapat dipercaya, setia, adil, dan tulus. Kejujuran dihargai di banyak budaya, etnis, dan agama.

Orang tua kita dulu pernah berpesan, "Nak, jujurlah. Tidak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini daripada kehilangan kejujuran, martabat, dan harga diri."

'Kejujuran adalah kebijakan terbaik' (Benjamin Franklin).

Semoga bermanfaat. Selamat siang kawans.
???????

Rabu, 17/02/2016

?#?MuhasabahDiri?
?#?AyoLebihBaik?!

  • view 159