Jejak Bahari Kota Solo

Zuly Kristanto
Karya Zuly Kristanto Kategori Sejarah
dipublikasikan 13 September 2016
Jejak Bahari Kota Solo

Sejarah Bahari Bengawan Solo

Julukan Kota Solo sebagai Kota Bengawan lahir bukannya tanpa sebab. Selain dikarenakan kota ini dilalui salah satu sungai terpanjang di pulau Jawa yakni bengawan Solo. Sebutan tersebut lahir karena di masa lampau keberadaan bengawan Solo bagi sebagian masyarakatnya sangatlah penting. Bengawan Solo tidak hanya dimanfaatkan airnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja, lebih dari itu, aliran bengawan Solo ditambah sungai yang cukup dalam dimanfaatkan untuk sarana transportasi serta lalu lintas perdagangan yang cukup ramai pada masanya.

Bukti sejarah tentang adanya aktifitas lalu lintas air dan perdagangan yang menggunakan bengawan Solo sampai saat ini masih bisa dilihat buktinya. Beberapa bekas bandar atau sandaran kapal di masa lalu masih dapat dijumpai disejumlah daerah di Solo. Selain itu kebesaran tradisi bahari yang ada di bengawan Solo tentu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sejumlah barang tinggalan masa lalu yang kini tersimpan di Musium Radya Pustaka.

Perlu diketahui sebelum tahun 1884 M di tanah Jawa belum ditemukan jalur kereta api. Jadi lalu lintas perairan dianggap merupakan sesuatu yang aman dan juga efisien. Oleh karena itu pada masa itu sungai-sungai besar yang ada di Jawa selalu ramai dengan aktifitas perdagangan. Pada jaman itu industri pembutan kapal di tanah Jawa juga berkembang dengan pesat. Bukti tertulis tentang adanya aktifitas bahari di sungai, khususnya di bengawan Solo ini dibuktikan dengan adanya catatan dari Bupati Bodjanegara, Raden Adipati Harya Reksa Kusuma dengan aksara Jawa Carik dan diterbitkan oleh Napirus Betawi menyebutkan,

Benawi Sala menika awit saking kitha Ngawi dumugi ing muaranipun saged kaambah dening Baita.kathah sanget baita saking tlatah Ngawi amot dagangan dhateng Cepu, awit ing ngriku pekenipun ageng. Wonten ugi baita ingkang amot dagangan ngantos dumugi peken ing kalitidu, Bosjanegara, Babat, dumugi Sidayu lan Gresik. Sak derengipun wonten trem saking Gundi dumugi Surabaya, Baita dangan ingkang lelayaran ing Bengawan Sala makathahipun ngantos atusan.

artinya

Sungai bengawan Solo itu dari kota ngawi sampai dengan muaranya dapat dilalui dengan menggunakan perahu. Pada masa itu banyak sekali perahu dari ngawi membawa barang dagangan menuju cepu, sebab disitu pasarnya besar, adapula kapal yang membawa dagangannya sampai dengan kalitidu, Bodjanegara, Babat, sampai dengan Sedayu dan Gresik. Sebelum trem (kereta api) dari Gundi sampai dengan Surabaya, perahu dagang yang berlayar di bengawan Solo jumlahnya ratusan.

Dengan membaca catatan diatas bisa dibayangkan bagaimana ramainya aktifitas perdagangan yang ada di bengawan Solo sebelum adanya jalur kereta api. Sayangnya, aktifitas perdagangan dengan menggunakan bengawan Solo sebagai jalur utama ini sedikit demi sedikit mengalami kemunduran seiring dibuatnya jalur kereta api dari Solo menuju Semarang. Pemasangan jalur kereta api ini pulalah yang menyebabkan aktifitas perdagangan yang ada di bengawan Solo mulai ditinggalkan. Perdagangan dengan menggunakan kapal mulai dianggap kuno dan kurang efisien. Di lain sisi sebagai salah satu pemerintahan sah yang ada kala itu Krataon Kasunanan Surakarta juga memiliki banyak sumbangan terhadap tradisi bahari yang ada di bengawan Solo.

Tentang hal ini dibuktikan dengan adanya Cantik Rajamala yang saat ini tersimpan di Musium Radya Pustaka. Cantik Rajamala sendiri merupakan bagian dari Kapal Gung Rajamala milik Kraton Kasunanan Surakarta. Sebagai pemegang pemerintahan yang sah kala itu tidaklah mengherankan apabila Kapal Gung Rajamala ini merupakan salah satu kapal terbesar di jamannya. Sedikit erlu diketahui pembuat asli dari kapal ini sampai sekarang masih misterius dan belum diketahui secara  pasti. Namun, di dalam Babon Babad Baita yang ditulis atas titah dari Sunan Paku Buwana IX menyebutkan bahwa Baita Gung Rajamala ini dibuat dengan jalan merenovasi kapal tua yang sudah tidak digunakan. Meski menggunakan balungan kapal tua karena bahan pembuat kapal terbuat dari kayu pilihan. Tidaklah aneh apabila kapal ini masih bisa dipergunakan untuk perjalanan jauh.

Dalam catatan tersebut tidak disebutkan darimana asal mula kapal ini. Disitu hanya disebutkan tentang kerusakan yang ada pada kapal. Sebelum dilakukan renovasi total dari bagian leher cantik sampai dengan ujung buritan kapal ini memiliki panjang 47, 24 meter. Sedangkan untuk lebarnya sendiri kapal ini memiliki lebar 6,5 meter. Seperti halnya kapal-kapal besar pada umumnya kapal ini juga memiliki bangunan yang bentuknya mirip dengan rumah. Atap penutup bagian yang mirip rumah ini menggunakan gebyog. Pemasangannya tentu dimaksudkan agar penumpang kapal ini tetap merasakan kenyamanan saat melakukan perjalanan jauh.

Perihal perenovasian kapaltua ini dilakukan karena Sunan Paku Buwana V memiliki harapan agar ke depannya kapal ini bisa digunakan sebagai kapal dinas milik Kraton Kasunanan Surakarta. setelah dilakukan renovasi secara total pada akhirnya kapal tersebut memiliki panjang 68, 48 meter dan lebarnya tetap dipertahankan seperti semula yakni 6,5 meter. Dengan adanya penambahan soal panjang ini tentunya menyebabkan adanya tambahan berat total dari kapal itu sendiri. Diperkirakan setelah melalui renovasi totalini berat kapal mencapai 50 ton.

Tentang renovasi yang dilakukan bukan saja dari bagian luar yakni penambahan segi panjang dan lebar kapal saja. Bagian dalam kapal juga turut direnovasi, ini dikarenakan Sunan Paku Buwana V menginginkan bagian dalam kapal tersebut bisa dipergunakan untuk pentas tari serimpi, main gamelan, tempat untu Raja dengan permaisurinya, Residen, Sentana, Nayaka, prajurit dan para abdi dalem. Renovasi juga dilakukan untuk membuat ruang untuk tilam sari(ruang tidur khusus untuk raja), gudang senjata, dan tempat untuk membersihkan diri.

Renovasi dilakukan oleh seseorang yang diberikan mandat dan mendapat julukan Palu Mas. Mereka yang mendapat kepercayaan untuk melakukan pekerjaan ini berasal dari daerah Sangkrah dan Nusupan. Kedua daerah ini pada masa lampau memang dikenal sebagai daerah tinggalnya para pembuat kapal terbaik yang ada di kota Solo. Orang yang mendapat tugas ini selain mendapat upah yang cukup besar pada jamannya juga mendapat gelar kebangsawanan berupa ngabehi. Renovasi pembuatan kapal dilakukan di sebelah timur Pesanggrahan Langenharjo. Namun, setelah enovasi selesai dilakukan pembuat kapal ini bingung untuk bagaimana caranya agar bisa mengembalikan kapal ke bengawan Solo lagi.

Ratusan tenaga manusia ditambah dengan puluhan tenaga hewan digunakan untuk menarik kapal tersebut. Namun tetap saja kapal tersebut tidak bergeming. Untuk mengurangi kebingungannya akhirnya ketua renovasi kapal itu mengirim surat kepadan Sunan Paku Buwana V yang berisikan permintaan petunjuk bagaimana caranya agar kapal tersebut bisa berlayar. Setelah menerima surat tersebut Sunan Paku Buwana V langsung membalas surat tersebut. Di surat balasannya itu Sunan Paku Buwana mengatakan bahwa penarikan kapal tersebut dilakukan saat banjir besar datang melanda kota Solo.

Setelah dinantikan akhirnya datang dan proses penarikan pun segera dilaksanakan. Sebelum proses penarikan dilakukan terlebih dahulu jalur yang akan dilewati oleh kapal ini dipasangi bambu agar proses penarikan lebih mudah. Penarikan ini sendiri dilakukan oleh 1000 polisi Kraton Kasunanan Surakarta dengan dibantu oleh ribuan masyarakat Nusupan dan Sangkrah. Di saat kapal mulai di tarik bambu yang dilalui oleh kapal ini pecah dan menimbulkan suara keras laksana petir. Atas perjuangan yang cukup keras akhirnya kapal berhasil diluncurkan di bengawan Solo. Saat kapal berhasil meluncur kendali kapal langsung dipegang oleh tukang kapal atau diebut juga Satang.

Sebagai kapal dinas milik Kraton Kasunanan Surakarta, kapal ini juga dilengkapi dengan berbagai persenjataan. Diantara persenjataan yang dimiliki oleh kapal ini adalah meriam organik berjumlah enam. Pemasangan meriam ini dimaksudkan untuk melindungi raja dan para kerabat dari gangguan orang yang memiliki maksud jahat. Selain itu ada pula prajurit yang khusus mengawal perjalanan kapal ini. Prajurit ini adalah juru silem, tugas utama dari prajurit ini adalah melindungi penumpang kapal dari serangan buaya. Untuk melakukan tugas tersebut prajurit ini memiliki senjata khusus yang dinamakan pambelah baita.

Wujud senjata mirip dengan tombak namun bilahnya lebih besar dan lebih panjang. Barangkali perbedaan ini dimaksudkan karena lawan dari pemilik senjata ini adalah seekor buaya. Dalam catatan yang tertulis Kapal Gung Rajamala ini pernah digunakan untuk melamar putri dari kerajaan Madura. Sayangnya tradisi bahari yang pernah jaya di Sungai Bengawan Solo ini mau tidak mau harus tenggelam karena adanya perubahan jaman. Peralihan lalu lintas perdagangan dari sungai ke darat membuat bengawan Solo semakin ditinggalkan. Belumlagi pemasangan rel kereta api membuat pelayaran lewat sungai merupakan sarana perdagangan yang kurang efisien lagi.

  • view 192