Awas Sarjana Prematur

Zulfadli Jep
Karya Zulfadli Jep Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Awas Sarjana Prematur

Menjadi mahasiswa adalah sebuah tanggung jawab berat, bukan persoalan status yang diperjuangkan, melainkan ketika menjadi mahasiswa kita akan bisa belajar banyak hal tentang pengetahuan. Sehingga tidak heran, jika setiap orang berbondong-bondong melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Terbukti, setiap tahun ajaran baru, kampus-kampus di seluruh Indonesia, baik negeri maupun tidak pernah sepi dari pendaftar. Tapi pernahkah kita berfikir, bahwa menjadi mahasiswa tidaklah segampang yang kita pikir. Jika salah pilih mungkin kita akan masuk ke jurang gelap dan keluar dengan kesesatan arah, mungkin dampaknya akan seperti itu.

Sebagian mahasiswa memutuskan menjadi sarjana sebelum matang (sarjana prematur). Tanpa bermaksud mengklaim yang sudah sarjana, tapi inilah fakta yang terjadi. Banyak kalangan sarjana muda setelah lulus kuliah strata satu masih kebingungan arah dan tak tahu mau kemana. Ibarat kata, ia bagaikan bertapa dalam gua selama beberapa tahun dan setelah keluar dari gua tidak tahu arah dan tujuan. Akhirnya, mau tidak mau mereka memilih menjadi seorang pengagguran, maka jangan heran jika di negeri ini banyak pengangguran.

Universitas alias sarjana. Inilah potret buram pengangguran terdidik di negeri kita. Para sarjana ini memaksakan diri lulus di usia dini, di saat potensi dirinya masih belum terasah dan kapasitas dirinya masih absurd. Padahal, para sarjana tersebut idealisnya membawa perubahan dalam memajukan negerinya, tapi malah sebaliknya, menjadi bagian problematika kebangsaan yang begitu buruk.

Setidaknya ada beberapa hal yang melatar belakangi lahirnya sarjana prematur di negeri ini. Pertama, di saat menjadi mahasiswa mereka hanya berkonsentrasi pada dunia akademik, tanpa memberi makan otak di luar bangku kuliah. Sistem perkulihan saat ini membuat mahasiswa terkungkung dari ruang kreatifitasnya. Tugas-tugas kuliah menumpuk serta targetan absensi tujuh puluh lima persen dalam satu semester membuat mahasiswa takut untuk beraktifitas di luar kampus. Padahal, kedirian seorang mahasiwa tidak ditentukan oleh seberapa besar asupan informasi pengetahuan yang diberikan dosen, melainkan yang menentukan adalah asupan pengalaman. Karena pengalaman itulah yang akan memberikan kita kedewasaan, ketegaran dan proses memahami realitas hidup yang sesungguhnya.

Dan nalar kritis mahasiswa sudah menumpul. Diakui atau tidak, paradigma berfikir mahasiswa hari ini terjebak pada suatu hal yang sifatnya simbolis dan pragmatis. Kebanyakan mahasiswa memahami dunia kampus hanya sebatas mencari ijazah dan pemenuhan gelar untuk memperoleh status sosial yang tinggi dikalakangan masyarakat. Kampus tidak lagi dimaknai sebagai ruang proses pencarian jati diri dan pematangan pribadi sebagai kaum terdidik. Akibatnya, ruang dan dimensi kehidupan yang ada di kampus hanya dijadikan alat untuk mencari kepuasan lahiriah. Terbukti, meraka berlomba-lomba menjadi sarjana muda hanya untuk mengangkat status sosialnya. Padahal idealisnya mampu memahami kampus sebagai penempaan keilmuan serta berintelektual, bukan pada pemenuhan gelar sarjana saja.

Ada beberapa sindirin dari musisi tenama atau sering di panggil om Iwan Fals dalam lirik lagunya?sarjana muda dan resa mencari kerja hanya mengadalkan ijaza, sia sia?ini tamparan keras bagi mahasiswa ataupun yang sudah sarjana di negeri ini. Jelas, menjadi sarjana prematur adalah pilihan bodoh dalam kaca mata pendidikan kritis, sebab ia hanya mengandalkan ijazah, bukan kemampuan berfikir. Efeknya, di saat lahan pekerjaan kosong, ia tidak bisa bergerak sebab mkendaraan pribadi sebagai sarjana belum diasah secara maksimal di saat menjadi mahasiswa.

Bukan menunda kelulusan, melainkan merancang langkah dan stretegi pasca kelulusan. Dalam catatan history kampus. Atau setidaknya memperbaiki kerangka berfikir. Jangan tergesa-gesa dan memaksakan diri untuk lulus di usia dini atau sarjana prematur sebelum diri kita benar-benar matang dalam segala hal, baik dalam potensi diri, pengalaman,

 

  • view 155