Kegauduhan Romantis

Zulfadli Jep
Karya Zulfadli Jep Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 April 2016
Kegauduhan Romantis

Kau menyimpan seribu tanya di dalam kepalaku yang menua cercaan yang paling mesra ku gaduhakan kepada tuhan. Sadarku tak lagi ada jika ku tatap kedua bola mata yang penuh dengan cahaya, kadang pula mata begitu miris untuk kutatap ibarat seperti bulan yang kurang utuh, kadang pula hanya sepotong saja seperti bulan sabit. Kadang pula engkau bagai pelangi yang membentang di jalanan yang datang ketika hujan reda dan melebur dengan basahnya lembah.

Di dalam diam ada renungan tentang pertanyaan yang sama sekali akupun tidak tahu, kenapa harus engaku yang membentang di jalan ketika hujan reda. Tentang seruan yang menyapaku harus berjalan ketika engkau tiba, sebuah kata kata ganjil yang telah engkau endapkan, tidak bisa hanya mendefinisakan kata itu dalam kata-kata gelap yang engkau kecap dalam tanya. Dalam laumanan itu begitu bergegas menyambut datangnya terang.

Kenapa harus ada?
Awan tak lagi tebal untuk mendatangkan hujan setelah ini, kini senja yang berbaris rapih membentang di arah barat dengan renungan yang tak kunjung usai. Ia memiliki sayap seperti bintang yang mendekati bulan.
Apa ini bagaian dari adukan tangan tuhan yang di kirim untuk menjadi gelap terangnnya kehidupan?

Dalam doa yang ku gadukan berkali-kali dalam malamku tiidak ada sesal sama sekali, sekali lagi tidak ada!!!
Tidak pula menyalahkan tuhan karena ini mungkin wujud ceritaku kepadanya yang mengarah kebulan.

 

  • view 96