Dendrobium Lasianthera

Zulfa Yulia
Karya Zulfa Yulia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2016
Dendrobium Lasianthera

 

            Angin senja berhembus lembut, mengingatkanku untuk bergegas membuka jendela kamarku, melihat keluar. Dendrobiumku masih disana, berdiri kokoh dengan kuncupnya yang sebentar lagi akan mekar. Tak sabar rasanya menunggu Ia segera merekah. Dendrobium Lasianthera(1),  yang selalu setia menemani perjalanan hatiku.

***

            Desaku dianugerahi sejuta keindahan yang tersimpan di dalamnya. Dengan nuansa hijau yang terhampar luas di ujung timur negeri khatulistiwa. Menjadi pesona keanggunan alam yang seakan takkan lekang oleh waktu.

            Disinilah kami hidup, bersama dengan segala keindahan dan keanggunan bahari nusantara. Dan disini pulalah Ia hidup, memberi warna lain sungai Lorentz kami yang menawan,  Dendrobium Lasianthera.

            Ia banyak hidup di tempat kami, di hutan, sungai, rawa-rawa, juga rumah-rumah kami. Dan di rumahku, Ia hidup di tempat yang istimewa. Ia ku tempatkan di samping jendela kamarku, menjadi keindahan pertama yang ku lihat setiap ku membuka jendela ketika fajar menjelang.

            Menjadi keindahan pertama yang menyenangkan, dan akan terus menenangkanku melewati setiap perjalanan hatiku.

1)       Dendrobium  Lasianthera merupakan anggrek yang hidup di Indonesia seperti Papua dan Papua New Guinea. Di Indonesia dikenal sebagai anggrek stuberi, stroberi. Dalam bahasa Inggris biasa anggrek ini dikenal sebagai Wooly Pollina Dendrobium, atau dengan nama varietasnya semisal May River Red dan Sepik Blue. Di alam liar biasa ditemukan hidup di sekitar daerah aliran sungai, rawa-rawa, dan hutan di dataran rendah Papua.

 

***

            Mungkin sejak awal aku telah salah menilai, mungkin pula ku telah sembarang menyimpulkan. Bahwa segala keindahan takkan pernah ada yang sempurna, dan semua anugerah ini takkan selamanya dapat kami jaga dengan amat baik. Karena disini, juga takkan pernah ada manusia yang seutuhnya menerima dengan sebenar-benar penerimaan.

            Di sinilah semua bermulai. Suatu kenyataan yang perlu kita lumat bulat-bulat, bahwa  seringkali suatu ikatan harus putus karena kekuasaan dan harta, seringkali diri kehilangan nurani dan dibutakan oleh ambisi sesaat. Ya, persaudaraan terkadang menjadi sangat tiada arti bila dihadapkan dengan kemewahan dan janji-janji kehidupan ‘lebih baik’.

            Dan di daerah inilah, di tepi sungai Lorentz kami tercinta, kenyataan itu sedikit demi sedikit mewarnai hari-hari kami. Ketika perebutan kekuasaan itu terjadi, dan kami sedikitpun tidak  bisa mengelak.

                                                                        ***

Siang itu cukup terik, beruntung daerah kami berada di tengah rimbunnya hutan sehingga matahari hanya bisa menyusup diantara lebatnya dedaunan pohon yang menjulang. 

Di salah satu sudut desa kami, tampak dua orang terlibat pembicaraan serius. Seorang pemuda bernama Mako adalah salah-satunya.

“Bagaimana ini, perkebunan kelapa sawit harus segera kita bangun. Segera, kita harus menebang pohon-pohon di wilayah utara, Paman.” Ucap pemuda bernama Mako itu cemas, teringat persetujuannya dengan pengusaha dari kota seberang.

“Baiklah, karena pemilihan kepala desa tinggal beberapa bulan lagi. Maka terpaksa kita harus membayar orang untuk bisa melaksanakan tujuan kita. Kita harus mencari orang yang tepat, yang bisa kita pengaruhi dalam kepemimpinannya. Satu hal lagi, kita juga harus  menghalangi orang-orang yang mencalonkan diri.” Jawab pria yang disebut Benny itu.

            Mako adalah pemuda daerah kami yang belum lama ini kembali dari kota seberang dengan membawa misi besar. Ia berniat membangun perkebunan kelapa sawit di desa kami, suatu niatan yang pasti akan sangat sulit untuk kami terima. Beberapa kali tawaran, ajakan, himbauan, bahkan ancamannya pun diarahkannya kepada kami. Berkali-kali pula kami menolak dengan tegas. Tapi Ia dan pamannya seolah tidak akan pernah berhenti mengupayakan segala cara. Dan cara mereka kali ini adalah dengan jalur kekuasaan.

Demi kepentingan pribadi, mereka mengabaikan akibat-akibat buruk yang akan mereka timbulkan. Warga pun resah, mengetahui pemilihan kepala desa tinggal beberapa waktu lagi sedangkan belum ada kandidat satupun dari mereka. Banyak yang mulai memikirkan keadaan terburuk, terutama sejak kepala desa mereka memutuskan untuk tidak mau mencalonkan diri kembali. Karena sebab yang tidak ada seorangpun diantara mereka yang tahu.

Dan di tengah-tengah kekhawatiran warga,  mereka melancarkan aksi mereka selanjutnya.

                                                            ***

Entah mengapa bunga itu sangat mempesona, hingga sepoi angin tak henti membelai tubuhnya, mengajaknya bermain di senja yang begitu ceria, tepat ketika dua orang lelaki paruh baya itu datang dan terlibat percakapan begitu serius dengan wanita itu, juga suaminya.

            “Kenapa harus saya ?” Tanya wanita itu tak mengerti.

Lebih dari separuh hatinya merasa takut. Takut Ia hanya akan dijadikan alat untuk melancarkan ambisi mereka. Lebih sepuluh menit yang lalu dua pria dihadapannya itu mendatangi rumahnya.  Sebagian hatinya menolak habis-habisan permintaan dua orang pria itu untuk menjadi kepala desa, tentu bukan hal yang mudah bagi dirinya memimpin sebuah desa yang demikian luasnya, terlebih Ia adalah seorang wanita tidak berpendidikan yang telah ditinggal pergi suaminya.

Namun, ketika melihat tumpukan uang yang disodorkan oleh Mako dan Benny, sebagian hatinya yang lain mengajaknya untuk lebih ‘realistis’. Sebentar lagi, putri sulungnya harus melanjutkan kuliah dan anak bungsunya pun harus melanjutkan ke sekolah menengah.

            “Karena hanya kamu yang mampu,” Jawab Mako meyakinkan wanita itu sebelum akhirnya berpandangan dengan pamannya penuh arti.

            “Seluruh biaya pencalonan akan kami atur,  semua demi desa kita tercinta Laura. Tidak ada satu orangpun pria yang berani maju sebagai pemimpin, mungkin inilah saatnya kami memberikan kepercayaan kepada wanita.” Ucap Benny menambahkan.

            Hening. Setetes air mata mengaliri pipi wanita itu. Sungguh pilihan yang teramat sulit baginya. Seandainya suaminya masih hidup mungkin semuanya takkan serumit ini. Saat ini hidup benar-benar tidak memberinya pilihan. Satu hal yang membebaninya adalah masa depan anak-anaknya, dan  Ia akan melakukan apapun untuk anaknya.

            “Baiklah, akan ku coba,” Ujarnya mengakhiri ‘perbincangan’ sore itu.

Begitulah akhirnya, wanita yang awalnya amat ragu itu memberanikan diri untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa kami. Begitulah cara wanita yang hanya pernah beberapa waktu menjadi guru di sebuah sekolah di ibukota provinsi kami itu ‘mengabdi’ pada desanya. Sebuah desa yang sarat dengan keluhuran budi dan ketaatan pada adat istiadat para leluhur.  Dan lihatlah Dendrobium, entah apa yang akan terjadi setelah ini. Ku harap kau masih setia bersamaku.

                                                                                    ***

Tepat dua bulan setelah pertemuan sangat serius itu, desa kamipun menyelenggarakan hajat lima tahunan, pemilihan kepala desa. Suasana balai desa ( pusat pemerintahan desa ) kami begitu ramai oleh seluruh warga yang akan menggunakan hak pilihnya. Dan tahukah kau, Dendrobium. Desa kami hanya memiliki calon tunggal. Ya, hanya wanita itu yang menjadi calon kepala desa kami. Entah kenapa dan bagaimana. Ini sangatlah aneh bagiku.

            Pemilihan tak berlangsung lama, bahkan sangat singkat menurutku. Sebagian besar warga terlihat sangat kecewa, begitupun dengan diriku. Senyum bahagia tak bisa tertutupi terpancar dari wajah wanita itu, juga para ‘pembesar’nya, tapi tidak dengan anak gadisnya.

                                                                                    ***

            Gadis itu gelisah sekali, Dendrobium. Ia bahagia melihat orangtuanya bahagia. Tapi sebagian hatinya merasa sakit, entah apa yang telah menghujam hatinya. Matanya nanar menatap langit-langit kamar. Entah mengapa, ia khawatir membayangkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

 Masih terngiang pembicaraan dengan ibunya siang tadi,

            “Mama sudah mendaftarkanmu ke salah satu perguruan tinggi terbaik di provinsi, setelah ujian akhir nanti segera persiapkan dirimu, Diana” Ucap wanita itu antusias, tak peduli dengan wajah bingung anak gadisnya.

            “Sungguh Ma ? Bukankah Mama waktu itu pernah bilang kepadaku bahwa aku harus bekerja dulu satu tahun untuk mengumpulkan uang jika ingin kuliah ?”

            Wanita itu menarik nafas panjang, dengan sabar menatap wajah putrinya.

            “Sekarang kau tidak perlu berfikir tentang uang lagi sayang, belajarlah yang benar. Mama sudah mempersiapkan semuanya, terutama untuk pendidikanmu dan adikmu”

            Hening, sebagian besar hatinya masih tak mengerti.

            Dendrobium, sejak saat itu gadis itu merasa kehilangan sosok ibunya yang dulu. Ia merasa kesepian, hanya bunga tercintanya yang selalu menemaninya melewati perjalanan hatinya.

                                                                        ***

            Tahun demi tahun berlalu dengan cepat, seperti sepoi angin yang menyapamu dengan cepat setiap senja tiba, Dendrobium. Kini, gadis itu telah menyelesaikan studinya  di ibukota provinsi. Parasnya yang cantik menjadi semakin cantik. Namun apakah kau tahu Dendrobium,  semakin lama, semakin banyak keanehan yang hinggap dalam alam fikirnya. Ia tak pernah mengerti, kenapa dan bagaimana bisa dengan mudah orangtuanya mempunyai uang yang sangat banyak untuk menyekolahkannya, juga ia tak akan bisa mengerti bagaimana bisa rumah dan toko bututnya dulu kini telah menjadi sangat mewah. Yang Ia tahu hanyalah, bunga tercintanya masih tetap disana, menemani setiap perjalanan hatinya.

                                                                        ***

            Waktu berjalan semakin cepat, tepat tiga bulan lagi masa pemerintahan wanita itu akan berakhir. Awalnya, gadis itu merasa cukup senang menyadari kehidupan dan keluarganya akan kembali seperti sedia kala, namun apalah daya, kenyataan menjadi sangat tidak berpihak padanya ketika wanita itu memutuskan untuk mencalonkan diri kembali. Dan yang paling menyakitkan baginya ialah, wanita itu mencalonkan diri atas kemauannya sendiri.

            Berbeda dengan lima tahun lalu, saat dua orang pria itu  mendatangi rumahnya untuk meminta ibunya untuk menjadi calon kepala desa. Yang dengan begitu orangtuanya tidak perlu “berkorban” apapun untuk pemilihan tu. Namun kali ini, entah iblis mana yang telah merasuki orang tuanya, hingga rela “berkorban” habis-habisan bahkan tak segan berhutang untuk mencapai ambisi sesaat.

            Mungkin kau telah lebih dulu tahu, Dendrobium, Gadis itu kini tengah berada pada puncak kekhawatirannya. Matanya semakin nanar menatap langit-langit kamar. Angin malam menyapanya lembut, mengajaknya untuk segera menyapa bunga tercintanya, yang selalu menemani perjalanan hatinya.

                                                                        ***

             Wanita itu masih terus menangis, meratapi nasibnya yang kini terasa amat berbalik. Berkali-kali ia meratap, berkali-kali pula ia menyebutkan hartanya yang telah habis, dan berkali-kali pula, ia menumpahkan kekesalannya kepada keheningan.

             Berita tentang pencalonan kembali dirinya sebagai kepala desa menyebar dengan sangat cepat. Pihak-pihak yang membencinya bahkan banyak yang dulu berpihak kepadanya telah menyusun strategi jitu untuk menggagalkan ambisi wanita itu. Mereka tidak akan pernah lagi mau untuk dipimpin oleh wanita tidak berpendidikan dan tidak beragama seperti dirinya.

            Tepat dua bulan sebelum  pemiihan itu, dua kali pihak kepolisian mendatangi kediamannya. Wanita itu tersangkut dua kasus korupsi senilai ratusan juta rupiah ! Ya, tidak aneh memang, toh ‘kemajuan’ ekonomi keluarganya sangat terlihat. Menerima kenyataan seperti itu wanita itu tidak patah arang, dengan gagah ia akan tetap maju dan sangat yakin akan kembali terpilih.

            Namun apalah daya Dendrobium, ambisi tinggalah ambisi. Karena masyarakat sudah terlanjur kecewa dengan banyaknya korupsi yang telah dilakukannya. Sudah terlalu banyak kerusakan yang Ia lakukan dengan menyetujui pembangunan perkebunan kelapa sawit itu. Tinggalah Ia kini bersama kesana-kemari untuk melunasi hutang-hutang untuk pencalonannnya kemarin. Dan seluruh harta yang dikumpulkannyapun habis tak berbekas !

                                                                        ***

            Angin senja berhembus lembut, mengingatkannya untuk bergegas membuka jendela kamarnya, melihat keluar. Dendrobiumnya masih disana, berdiri kokoh dengan kuncupnya yang sebentar lagi akan mekar. Tak sabar rasanya menunggu ia segera merekah.

            Kini, gadis itu telah bebas, Dendrobium. Seluruh yang ia miliki memang telah habis, tapi tidak dengan hatinya. Karena telah sejak lama, hatinya dan seluruh kisahnya telah  ia titipkan kepada dia yang selalu menemani perjalanan hatinya, Dendrobium Lasianthera.

  • view 145