Di Hatimu Kulihat Bintang

Zulfa Yulia
Karya Zulfa Yulia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2016
Di Hatimu Kulihat Bintang

 
Bintang itu akan selalu ada Zahra, namun tak selalu terlihat, mungkin karena kabut yang menghalangi atau mata kita yang tak mampu melihat . . . tapi dia akan tetap disana . . . memenuhi takdir dari Tuhannya . . .

***

Alunan senandung malam kian mengusik kalbu, menyampaikan hasrat kesejukan melalui angin yang selalu menyapa dedaunan ketika senja menjelang . Pesona itu, akan selalu ada di sini, di sanubari ini, menemaniku dalam tempaan harapan berbalut keraguan yang nyata. Menemani aku, dalam harap yang entah kapan akan menjadi keniscayaan, seperti bintang, yang selalu ada . . . namun terkadang tak tampak . . .

Malam ini lagi-lagi aku hanya bisa termenung, mungkin lebih tepatnya hampir menangis, karena seperti malam kemarin, malam ini pun aku belum mampu berbuat apapun untuk orang tuaku, asa yang sedikit lagi akan kembali menyala, akankah semuanya kembali meredup? Entahlah, tapi semoga saja tidak, karena warna hati kian tak jelas untuk ku terka.

“Maafkan bapak ya kak? Bapak belum bisa ngasih uang yang cukup buat kakak, insya Allah, nanti bapak cari pinjeman ke temen bapak.”

Pedih. Pedih sekali hati ini mendengar bapak berucap seperti itu, haruskah aku melakukan ini ya Rabb? Sedangkan diri ini tak punya daya apapun selain daripadaMu.

“gak usah pak, kakak ga jadi ikut lombanya kok. Lagipula temen kakak yang kemarin juga belum digantiin,”

“benar itu pak, udah ga usah oinjem-pinjem uang lagi, ibu ga enak sama tetangga. Lagipula kan ini Cuma lomba, belum tentu menang juga kan?,”

Pasrah. Yah, hanya pasrah. Harus bagaimana lagi? Semua benteng pertahanan dalam diri ini telah runtuh kan ? perlahan ku seka air mata yang menyapa wajah senduku, berharap bintang itu tak ikut larut dalam nada pilu. bersamaMu ya Rabb, ingin kulangkahkan kaki ini selalu.

***

Bintang itu takkan bersinar dengan sempurna Zahra. Ia hanya mampu berkedip kepadamu, mengajakmu untuk selalu ceria dalam segala harap.

Berkali-kali aku menoleh kea rah sana, ke map itu, map yang bertuliskan “Lomba Karya Tulis Ilmiah Antar SMA se-kabupaten”. Semakin sering ku melihat, hati ini terasa semakin tak menentu. Uang tiga puluh ribu itu harus ku cari kemana? Haruskah aku mengundurkan diri ‘hanya’ karena tak punya uang untuk pendaftran? Tapi itu adalah kenyataan yang harus aku terima, karena uang tiga puluh ribu itu bukan jumlah yang sedikit, butuh dua hari untuk bapak mengumpulkannya, 2 hari bekerja di sawah milk orang lain sebagai tukang cangkul, tukang polah, buruh tani, atau apalah namanya. Yang jelas, rupiah yang didapat tak pernah sedikitpun mencoba menghargai tenaga yang selalu habis terkuras.

Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku baru sadar kalau bapak be;lum pulang setelalh ibu mengajakku mencari bvapak.

“kita tunggu sebentar lagi ya bu, mungkin sedang di jalan,” ucapku mencoba menenangkan

Ibu menuruti ucapanku. Ia mencoba untuk tenang, meskipun kecemasan yang amat sangat tak dapat Ia sembungyikan.

Tepat pukul 10 malam, terdengar suara langkah kaki di beranda rumah. Aku terkesiap, pintu pun terbuka dengan cepat.

“Assalamu’alaikum . . . “ sapanya ramah.

“Wa.. wa’alaikumussalam…”

“bapak darimana?” Tanya ibu spontan.

“bapak abis dari rumah Pak Amir bu, bantu bikin sapu. Alhamdulillah cukup untuk kakak daftar lomba besok.”

Hening. Tak ada yang berbsuara. Dengan lembut bapak meraih tanganku dan menyelipkan sesuatu ke dalamnya.

“buat kakak”, ucapnya pelan

Air mataku menetes tanpa sempat kutahan, perasaan haru menyelimuti rongga hati ini. Tangannya yang sanagt kasar kini telah terluka, tubuh tegapnya kini tak seperti dulu, wajah lelahnya tak sebersih dulu. Ku perhatikan baik-baik sosok di hadapanku ini, tubuh yang kurus, berotot sedikit di bagian tangannya, telapak tangan yang sangat kasar, nyaris luka, yang terkikis oleh kerasnya hidup. Tapi kenapa, kelelahan itu tak pernah Nampak ayah? Kenapa selalu aku yang merasa lelah? Du lihat segumapl asa yang tak pernah mati, di hatimu ku lihat bintang ayah, bintang yang akan selalu bersinar. Yang selalu ada… untukku…

Air mata ini terus mengalir dengan derasnya, sama derasnya dengan ketika satu minggu kemudian aku mendapatkan surat undangan dari bapak bupati untuk menerima pengahargaan sebagai juara I lomba karya Tulis ilmiah antar SMA tingkat kabupaten. Bintang itu akan selalu ada Zahra, namun tak selalu terlihat, mungkin karena kabut yang menghalangi atau mata kita yang tak mampu melihat . . . tapi dia akan tetap disana . . . memenuhi takdir dari Tuhannya . . .
 

  • view 93