Menatap Keadilan dan Menata Hati untukmu Wahai Dokterku

Zuhrotun Ulya
Karya Zuhrotun Ulya Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 Oktober 2017
Menatap Keadilan dan Menata Hati untukmu Wahai Dokterku

Selamat Hari Dokter Nasional!

Hari ini, 24 Oktober 2017, merupakan salah satu hari Nasional bagi seluruh dokter Indonesia. Sejarah mencatat bahwa 67 tahun yang lalu berdirilah organisasi Ikatan Dokter Indonesia. Kini, hubungan paternalistik antara dokter dan pasien semakin menggantung dan menguap jauh entah kemana rimbanya. Seringkali kita mengikuti di media massa pemberitaan yang menunjukkan ketidakberpihakan kepada dokter dan tenaga medis, seolah apapun yang dilakukan selalu salah dan layak untuk “digoreng” beritanya hingga habis kikis tuntas pupus tidak bersisa. Tindakan persekusi, menendang, membanting dan memaki dokter di muka umum layaknya sikap heroik yang layak dipertontonkan. Kata-kata kasar dan makian seperti menjadi camilan sehari-hari. Lantas masih adakah kebanggaan menjadi seorang dokter, mulai dari mana kami bisa menatap keadilan dan mampu menata hati?

Era media sosial membentuk pola masyarakat yang semakin jeli untuk melihat dan mencari informasi kesehatan. Namun demikian, tidak sedikit yang memahami sudut pandang kesehatan secara utuh. Tidak jarang informasi sepenggal yang diberikan diterima mentah tanpa proses filterisasi kebenaran dari informasi tersebut. Masyarakat cenderung mempercayai apa yang menjadi unsur pemenuhan kebutuhannya serta tidak jarang melakukan attack apabila tidak sesuai. Hal ini merambah pada penatalaksanaan lingkup gerak kedokteran dan kesehatan. Sesuai dengan Pasal 8 UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, masyarakat sadar sepenuhnya bahwa mereka memiliki hak memperoleh informasi tentang data kesehatan diri termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterima dari tenaga kesehatan.

Salah satu hak pasien adalah mendapatkan informasi yang jelas dan lengkap dari dokter yang mengetahui dan menangani kondisi penyakitnya, yaitu hak atas informasi yang merupakan bagian dari hak untuk menentukan diri sendiri (the rights of self-determination), yang merupakan salah satu hak dasar pasien. Pasien memiliki hak untuk menentukan dan mendapatkan pelayanan kesehatan (the rights to health care), mencari pertolongan dan berhubungan dengan tenaga medis dalam rangka pemenuhan kesehatan yang menjadi komponen asas Hukum Kedokteran.

Hubungan pasien dokter sudah dimulai sejak pasien datang untuk meminta pertolongan atas permasalahannya di bidang kesehatan. Kondisi tersebut membentuk suatu hubungan terapeutik yang terikat dalam suatu kontrak/ perikatan/ transaksi terapeutik. Transaksi ini memiliki hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban bagi kedua pihak yang berbeda dengan perjanjian pada umumnya. Upaya yang dilakukan dokter dan tim medis ditujukan untuk perbaikan dan kesembuhan pasien (inspanning verbintenis), hal ini yang membedakan dengan kontrak atau perjanjian pada umumnya yang lebih menekankan pada hasil sebagai tujuan (resultaat verbintenis).

Memahami inspanning verbintenis inilah yang perlu ditekankan pada para dokter dan masyarakat. Bahwa bukan dokter ingin dianggap dan menjadi dewa yang mewajibkan kami mampu menyembuhkan dan menjanjikan perbaikan. Melainkan segala upaya yang dilakukan dokter adalah usaha untuk perbaikan dan kesembuhan bukan sebuah perjanjian. Dalam praktik kegawatdaruratan, dokter pun memiliki prioritas layanan, bukan berdasarkan ada tidaknya asuransi kesehatan. Namun lebih kepada tingkat kegawatan yang dialami oleh pasien. Dalam praktik rawat inap dan rawat jalan, dokter tetap mengupayakan perbaikan dari semua pasiennya.

Trilogi rahasia kedokteran (informed consent, rekam medik dan rahasia kedokteran) yang dijunjung tinggi hingga saat ini tidak hanya memberikan payung hukum pada pasien, namun juga dokter dan fasilitas pemberi layanan kesehatan. Maka, sudah seyogyanya kita mampu menakar usaha yang sudah dilakukan. Apabila dokter telah melakukan layanan medik sesuai standar prosedur operasional, maka perlindungan hukum sudah didapatkan sesuai dengan Pasal 51 UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Bahwa dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien.

Bagi rekan-rekan dokter muda dan residen yang menjalankan praktik residensi di rumah sakit pendidikan dan rumah sakit satelit juga mendapat perlindungan hukum sesuai Pasal 31 UU No. 20 Tahun 2013 tentang Kedokteran yang menjelaskan bahwa setiap mahasiswa berhak memperoleh perlindungan hukum dalam mengikuti proses belajar mengajar, baik di Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi maupun di Rumah Sakit Pendidikan dan Wahana Pendidikan Kedokteran.

Namun, tidak dipungkiri bahwa masalah waktu dan komunikasi menjadi faktor penghambat atau memunculkan konflik terapeutik. Second opinion atas pilihan pasien masih harus dihormati, dengan asumsi bahwa dokter telah memberikan informasi sesuai informed consent. Pada akhirnya informed consent yang diberikan tidak selalu mendapat persetujuan namun juga penolakan. Tidak masalah apabila pasien memilih jalur lain, tentu hal tersebut tidak perlu diperdebatkan karena sudah masuk dalam ranah keyakinan. Apabila hingga hari ini ini pun masih saja ada pasien dan masyarakat yang bersifat skeptis terhadap dokter, sesungguhnya hal tersebut adalah hak mereka, maka tidak perlu diperpanjang.

Masyarakat tidak akan tahu berapa jam dokter tidur dalam satu hari, sedang memiliki masalah keluarga atau tidak, sudah makan belum, apakah keluarga dokter sedang sakit atau tidak, sedang putus cinta atau sedang dikejar tugas lain. Masyarakat tidak perlu tahu mengenai itu, melainkan tuntutan akan layanan kesehatan paripurna.

Maka, tidak perlu bersedih hati bagi rekan dokter di seluruh Nusantara. Kita perlu percaya bahwa masih ada yang akan memperbaiki sistem yang sudah berjalan. Tugas kita saat ini adalah berjalan dalam orbit sistem dan mengupayakan kebaikan. Untuk saat ini biarkan semua berjalan pada orbitnya, karena tunas-tunas baru penggebrak sistem juga akan belajar dan berjalan untuk membaca apa yang terjadi hari ini, mengupayakan perbaikan di masa depan dan meraih kejayaan bagi seluruh dokter di Indonesia. Kejar apa yang menjadi mimpimu, tidak masalah jika pilihanmu menjadi dokter sekaligus pendidik, peneliti, penulis, aktor, wirausaha, ibu rumah tangga. Tidak masalah mengenai pilihanmu, namun ketika Bangsa ini memanggilmu, mengetuk nuranimu, bangkitlah, jawablah dan lakukanlah sesuai harkat martabatmu sebagai seorang dokter.

Selamat memperingati Hari Dokter Nasional, do your best then let God do the rest. Sematkan nama Tuhan dan bangsamu dalam jejak langkah pengabdian, titipkan harga diri kehormatan dan keluarga padaNya. Semoga setiap langkah kita senantiasa diarahkan Tuhan, diberkahi dan selalu siap untuk membangun kesehatan bangsa Indonesia menjadi lebih baik dari hari ke hari.

  • view 66