Dimana kau letakkan emosi dan diam mu ?

Zuhrotun Ulya
Karya Zuhrotun Ulya Kategori Lainnya
dipublikasikan 04 Februari 2017
Dimana kau letakkan emosi dan diam mu ?

Sifat emosi manusia beragam adanya, seseorang dengan kecerdasan emosi yang baik mampu meletakkan emosi pada tempatnya tanpa harus mengumbar dan menjadi sumber derita. Emosi yang meledak menabrak semua arah tanpa tahu apa dan siapa tentu akan merusak. Demikian pula dirimu yang pendiam, mengertilah bahwa tidak semua orang memiliki kecerdasan meraba apa yang menjadi pikirmu saat ini. Berbicara tentang emosi, tidak terlepas dari struktur amygdala dan nucleus accumbens dalam otak.

Amygdala dan nucleus accumbens merupakan salah satu bagian dalam otak yang mengatur fungsi emosi, memiliki hubungan timbal balik dengan seluruh area otak termasuk prefrontal cortex. Struktur inilah yang menggerakkan emosi positif dan negatiif dalam diri seseorang. Mengertilah, bahwa ketika amygdala teraktifasi maka kerja bagian lain akan terblokade termasuk prefrontal cortex yang mengatur fungsi kognisi dan berfikir jernih. Mereka yang memiliki defisit fungsi emosi mengalami gangguan fungsi amygdala. Mereka dengan pola genetik, gangguan kepribadian, pola lingkungan yang mencetak diri menjadi orang yang menabrak kepentingan orang lain, tidak lagi menaruh hormat, menginjak hak sesama, mendiskusikan moral namun moral diri minus, tidak akan menyadari sepenuhnya makna cinta kasih. Terbayang kah oleh kita betapa merananya situasi ini? Emosi negatif yang muncul dari diri, justru orang lain yang harus membereskan. Sekiranya demikianlah orang yang dipenuhi emosi, maka sesungguhnya tidak akan mampu berfikir jernih, tenang, menggunakan rasa, logika dan cinta.

Cinta tidak hanya sekedar perasaan, karena cinta menjadikan suatu kekuatan bagi seseorang untuk tetap dekat bersama orang lain. Melihat, membayangkan dan merasakan kehadiran orang terkasih menyebabkan peningkatan aktivasi regio otak di bagian nucleus kaudatus, bagian dari basal ganglia, termasuk nucleus accumbens. Area kaudatus berkontribusi terhadap munculnya hasrat akan tercapainya tujuan, harapan akan hasil yang dicapai, integrasi input sensori untuk mempersiapkan aksi yang akan dilakukan. Cinta dan kasih sayang bisa menjadi suatu tujuan yang mengarah pada emosi spesifik seperti euphoria dan kecemasan. Bagaimana cinta tersebut mengarah pada rasa senang, hidup dan damai namun juga akan berdiri pada pintu cemas, harap dan kekecewaan.

Memahami intuisi yang ada dalam diri melibatkan proses neural dari sebuah kesadaran akan hidupnya sebuah emosi yang dimulai dengan penjelasan kesepahaman dan ketidaksepahaman, antara yang benar dan yang salah. Banyak orang terjebak pada kubu kesepahaman kelompok, memandang suatu kebenaran yang mengikat mutlak, menyingkirkan kebenaran yang sesungguhnya. Rasa sakit akibat penolakan, sikap atas trauma masa lalu, menjadikan seseorang tidak cukup mampu adil pada perasaan diri dan konsep realita. Kebanyakan orang membantu orang lain yang dianggap menderita dikarenakan memiliki tujuan emosional yang sama. Disinilah peran kesepahaman muncul, satu suara untuk satu aksi. Kesalahan bukan lagi terletak pada keinginan membela kebenaran terkait apa yang difahami.

Pada akhirnya dibutuhkan suatu kecerdasan moral dan spiritual untuk memberikan ruang pada diri kita, sudah benarkah yang kita lakukan, ada dimana kita sekarang, sampai kapan harus lari dan menghindar, perlukah suatu keberanian untuk mengungkapkan apa yang dirasakan, ataukah cukup diam menyendiri sambil menunggu dia yang datang padamu dengan keterusterangannya yang mungkin membuatmu terluka dan merasa aneh. Tidak ada satupun orang yang bisa mengetahui isi hati selain diri sendiri dan Tuhan, mau sampai kapan kau terdiam dan mendiamkan? Lalu sesungguhnya dimana kau letakkan emosi dan diam mu yang sesungguhnya?  

 

Salam Cerdas,

Zuhrotun Ulya

  • view 239