Sudahkah Jiwamu Sehat?

Zuhrotun Ulya
Karya Zuhrotun Ulya Kategori Kesehatan
dipublikasikan 19 Agustus 2016
Sudahkah Jiwamu Sehat?

Sudahkah Jiwamu Sehat?

Zuhrotun Ulya Fathoni

 

Sekiranya apabila Bapak WR. Supratman masih hidup, jika diizinkan saya ingin bertanya, mengapa beliau menuliskan sajak “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”

Mengapa harus jiwa? Ada apa dengan jiwa? Kenapa harus jiwa yang dibangun?

 

Sederhana saja, karena dari jiwa yang sehat akan terlahir cetusan-cetusan gagasan, letupan suara hati, sumbangan guratan ide dan produktifitas karya yang membanjiri otak dan selalu ingin berkarya. Pertanyaannya berikutnya, sudahkah jiwamu sehat?

 

Sehat jiwa bisa dimaknai sebagai kemampuan fungsi jiwa, dalam hal pikiran, suasana hati dan perilaku yang menghasilkan kegiatan produktif, mampu menjalin hubungan dengan orang lain dan mampu beradaptasi dengan perubahan situasi dan mampu menyelesaikan masalah. Lalu bagaimana ciri orang sehat jiwa? mari kita lihat adakah ini dalam diri kita.

  • Persepsi realistis

Orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Mereka tidak mempercayai bahwa orang di luar dirinya dan lingkungan bersikap kurang bersahabat atau semuanya baik menurut prasangka pribadi terhadap realitas serta mampu menghadapi tantangan kehidupan, menerima orang lain sebagaimana adanya, dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Dalam perjalanan menuju persepsi realistis dibutuhkan suatu kematangan dimana peran orang tua mempengaruhi perkembangan anak. Jika seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup, adanya perasaan aman maka akan menumbuhkan identitas diri dan konsep diri. Demikian pula jika seorang anak yang dibesarkan dalam kondisi tidak aman, agresif, penuh tuntutan, egosentris, pertumbuhan psikologisnya berkurang. Sebagai seorang dewasa, orang itu akan dikontrol oleh dorongan masa kanak – kanak dan oleh keinginan atau konflik yang mungkin akan berkembang menjadi suatu bentuk gangguan.

  • Pemahaman diri

Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain. Biasanya orang seperti ini akan diterima dengan lebih baik oleh orang lain. Orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang. Dengan demikian akan mampu menguasai segala faktor dalam hidup, menguasai kekalutan mental sebagai akibat dari tekanan-tekanan perasaan, memiliki harapan hidup optimis, mampu memanfaatkan segala potensi, kapasitas, kreativitas, energi dan dorongan dalam diri, serta memanfaatkan kapasitas-kapasitas secara efektif. Efisiensi mental sebagai cara menggunakan kapasitas diri untuk mencapai tujuan hidup sebaik mungkin.

  • Berorientasi ke masa depan

Hal ini akan diarahkan pada tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang akan datang dan rencana-rencana jangka panjang. Dorongan yang menyatukan adalah arah (directness), dan lebih terlihat pada kepribadian yang sehat. Arah akan membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan seseorang alasan untuk hidup.

  • Komitmen terhadap pekerjaan

Salah satu cara untuk memperoleh arti dari kehidupan adalah dengan nilai-nilai daya cipta, memberi sesuatu kepada dunia, dan nilai ini dengan sangat baik diungkapkan melalui pekerjaan atau tugas seseorang.

  • Kemampuan memberi dan menerima cinta.

Apabila kita dicintai, kita menjadi orang yang sangat diperlukan dan tidak dapat diganti. Apabila kita mencintai, kita dapat membuat orang yang dicintai sanggup merealisasikan potensi-potensi yang belum dimanfaatkan dengan menyadarkan mereka tentang potensi mereka untuk menjadi apa.

 

Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari Gerald Corey yang bisa menjadi renungan bersama bahwa jiwa yang sehat akan mengantarkan kita pada hidup yang bebas memilih dan bertindak yang disertai tanggung jawab. Kesadaran atas kematian berarti penting bagi seseorang, dengan kesadaran tersebut manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa diri ini memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualisasikan potensi diri .

Dari paparan diatas, saya jadi ingin bertanya sudahkah ciri sehat jiwa tersebut ada dalam kita?

  • view 486