~ AKU MEMANGGILNYA YANTI~

Zohra Bilondatu
Karya Zohra Bilondatu Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 Oktober 2017
~ AKU MEMANGGILNYA YANTI~

Aku memanggilnya "YANTI". Perempuan mungil nan cantik yang aku Kenal sejak 14 tahun silam. Ini kali pertama aku berani menulis tentang nya. Yah.. Tentang dia yang diam-diam telah aku kagumi sejak zaman SMA. 
 
Bila ada yang bertanya, siapa yang telah menginspirasi saya hingga menjadi seperti sekarang ini?  Yah.. Dia adalah "YANTI". 
 
2003, Kala itu aku memasuki bangku Sekolah Menengah Atas. Sekolah swasta yang biasa saja. Namun menjadi saksi sejarah pertemuan kami. 
 
Rambut tergerai panjang nyaris sampai pinggang, rok panjang dan baju longgar. Itulah aku kala itu. 
Belum mengetahui tentang menutup aurat itu adalah wajib.
 
Aku yang terlahir di keluarga bukan keturunan ulama ataupun Ustadz. Aku yang hanya bermodalkan doa dari orangtua. Akhirnya di dekat kan dengan sosok "YANTI". 
 
Diam-diam aku sering memperhatikan nya. Cerdas, sopan, lembut bahkan marahnya pun aku kagum. Saat jalan dengan "YANTI" dan dua orang teman yang sudah menutup suratnya, aku pun tersadar dan merasakan menjadi aneh diantara mereka. 
 
Aku aneh karena berada diantara perempuan yang sholihah. Aku aneh karena sudah baligh namun belum menutup aurat. Aku aneh karena pada akhirnya merengek ke ibu untuk segera membelikan saya kerudung dan pakaian sekolah lengan panjang. 
 
"YANTI".... Mungkin dulu aku hanyalah teman biasa dimatamu. Kita tidak pernah curhat satu sama lain soal Kehidupan yang kita jalani. Mungkin kamu tidak mengingat, dulu aku sempat menarik diri, karena tersadar aku ini siapa. Rasanya tak pantas menjadi temanmu. Hanya perempuan biasa, pintar tidak, berpunya pun tidak. 
 
Kamu dikelilingi oleh orang-orang yang hebat. Dan aku bangga akan hal itu. Banyak yang senang berteman denganmu, sehingga aku berpikir... Aku menjauhimu pun takkan membuatmu sadar. 
 
Mungkin kamu tidak pernah sadar, aku fans setiamu. Diam-diam sering merhatiin aktivitas mu di sosial media, hanya untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. 
 
Bulan september menjadi bulan duka untukmu dan keluarga besarmu. Sosok pria yang begitu kamu cintai berpulang ke sisi Ilahi. Kali pertama yan, aku melihat sosok setegar kamu dan keluarga. Terlebih kamu. 3 jam lebih yan aku merhatiin sosok keluargamu kala ayahanda belum dimandikan. 3 jam lebih menunggu mu tiba kala itu. Hingga lupa sarapan, tapi tidak merasa lapar, sibuk merhatiin keadaan saat itu. Berusaha menangkap hikmah dibalik kepergiaan ayahmu.
 
YANTI.. Maafkan aku yang tak pandai merangkai kata saat kita bertemu, hanya bisa berucap :"Yang sabar dan kuat yah :')"
 
Aku sempat merenung, siapa orang-orang hebat yang telah mendidik mu hingga semenawan itu. Tidak lain mereka adalah ayah dan ibumu. 
 
Bahwa memang benar, bila orangtua mendidik anaknya dengan baik maka dia pun akan tumbuh menjadi orang yang baik. 
 
Terimakasih ku kepada ayah yang telah membesarkanmu penuh cinta. Berkat beliau aku bisa mengagumi sosokmu. 
 
Terimakasih ku kepadamu om Sudirman, bahkan saat sosokmu telah kaku, aku tetap mendapatkan pelajaran berharga. Om mengajarkan bahwa selama kita hidup, jadilah orang yang baik. Berbuat lah yang baik kepada siapapun itu, dan maafkanlah siapapun yang menyakitimu. Dengan begitu kita akan menggores di jejak langkah kita sebagai sosok yang pantas dikenang. 
 
Kita memang tidak akrab om, baru sekali saya berbicara dengan om saat bulan Ramadhan kemarin, tapi aku yakin.... om memang orang yang sangat baik. 
 
Tidak lama merasakan yang namanya sakaratul maut, bahkan jalanmu kembali Kepadanya begitu mudah. Doaku... Semoga terang tempat pembaringan terakhirmu. 
 
In Syaa Allah, ketiga anak perempuanmu akan membawa langkah kaki om kelak ke surga. Semoga kelak om dan tante masuk ke surga tertinggi tanpa hisab. 
 
YANTI..., Terimakasih ya telah hadir dalam hidupku. Terimakasih sudah mendidikku menjadi perempuan yang lebih baik. Mungkin kamu merasa tidak melakukan apa-apa untukku, tapi dengan perlakuan baikmu itu aku pun tersentuh dan selalu berusaha menjadi perempuan yang baik.
 
Terimakasih atas nasihat-nasihatnya soal pernikahan.
Terimakasih selalu bersedia menjadi tempatku berbagi cerita. 
Terimakasih karena kini kita menjadi akrab.
Terimakasih karena sampai detik ini kamu selalu sehat.
 
 
YANTI.... Maukah menjadi sahabat sejati ku? 
YANTI... izinkan tanganku memegang erat tanganmu untuk nanti kita sama-sama memasuki surgaNya ?
 
Berkata Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu: 
 
“Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan yang lebih besar setelah keislaman, selain sahabat yang sholih. Maka apabila kalian mendapati teman yang sholih, peganglah ia erat-erat”
 
Berkata Imam Syafi’i: 
 
” Apabila kalian memiliki teman yang membantumu dalam ketaatan, maka genggam erat tangannya, karena mendapatkan seorang sahabat itu sulit sedangkan berpisah darinya itu mudah.”
 
Berkata Al Hasan Al Bashri:
 
“Sahabat-sahabat kami lebih kami cintai daripada keluarga dan anak-anak kami, karena keluarga kami mengingatkan kami pada dunia, sedangkan sahabat-sahabat kami mengingatkan kami pada akhirat. Dan sebagian sifat mereka adalah : itsar (mendahulukan orang lain dalam perkara dunia).”
 
 Berkata Luqman Al hakim pada anaknya:
 
“Wahai anakku hendaknya yang pertama engkau usahakan setelah keimanan kepada Allah adalah mencari sahabat yang jujur. Karena ia ibarat pohon, bila engkau duduk berteduh di bawahnya, ia akan meneduhimu, bila engkau mengambil buahnya dia akan mengenyangkanmu, dan bila ia tidak memberimu manfaat, ia tidak merugikanmu.”
 
 Ketika Imam Ahmad rahimahullah sakit, sampai terbaring di tempat tidurnya, sahabat beliau, Imam Syafi’i rahimahullah menjenguknya. Maka tatkala Imam Syafii melihat sahabatnya sakit keras, beliau sangat sedih, sehingga menjadi sakit karenanya. Maka ketika Imam Ahmad mengetahui hal ini, beliau menguatkan diri untuk menjenguk Imam Syafi’i. Ketika beliau melihat Imam Syafi’i beliau berkata: 
 
“Kekasihku sakit, dan aku menjenguknya
 
Maka aku ikut menjadi sakit karenanya
 
Kekasihku telah sembuh dan ia menjengukku
 
Maka aku menjadi sembuh setelah melihatnya.”
 
 Allah berfirman :
 
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” [Al-Baqarah: 137]
 
Imam Ibnul Qayyim berkata menafsirkan ayat ini: “Allah enggan memasukkan manusia ke dalam surga dalam keadaan sendirian, maka setiap orang akan masuk surga bersama sama dengan sahabatnya.”
 
 Aku memohon kepada Allah, dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang mulia, agar kita menjadi sahabat sejati dalam ketaatan, yang kelak tangan-tangan ini akan menggandeng tangan yang lain memasuki surgaNya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin
 
 
YANTI... Uhibbuki Fillah ^_^
 
 

  • view 31