Ridho Orang tua

Ziyana Nur Hida
Karya Ziyana Nur Hida Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Mei 2017
Ridho Orang tua

“Pokoknya saya pingin nikah muda deh..”

Mendengar pernyataan ini dari teman kuliah memang tidak membuat saya kaget. Diusia saya sekarang memang sudah menjadi pembicaaran yang hangat bagi teman seumuran saya tentang menikah. Walau dilihat dari raut muka, belum lah terlihat keseriusan yang mendalam, tapi adanya pernyataan seperti itu membuktikan adanya pemikiran mengenai hal tersebut. Ok saya putar balik pada diri saya sendiri, bagaimana dengan saya?

Ketahuilah bahwa saya adalah anak pertama dari empat bersaudara, orang tua memiliki impian dan harapan besarnya pada saya. Walau impian dan harapan orang tua terhadap saya tidaklah sebesar harapan dan impiannya kepada kedua adik laki-laki saya. Laki-laki bisa dibilang bebas dan memiliki waktu yang panjang dalam kurun untuk berkeluarga, sedangkan wanita jika sudah menikah maka Ridhonya ada bersama suami.

Ketika ada seorang lelaki mencoba menghubungi dan memulai komunikasi via Facebook, kami hanya bisa berkomunikasi dengan sedikit percakapan.

“apakah benar ini Annisa SMP 198??” tanyanya pada saya.

“benar, maaf apakah ada yang bisa saya bantu??” jawab saya singkat, karena kami sudahlah lama tak bersua dan dia adalah teman sekelas saya di SMP kelas. Namun, memang tidaklah mengenalinya secara dekat.

“bisa saya minta nomor hpmu??” tanyanya lebih lanjut.

“boleh, 081xxxxxxx namun saya hanya bisa dihubungi di waktu tertentu saja sekitar bulan september tanggal 20” jelas saya singkat.

Ya, hanya sesingkat itulah kiranya kami berkomunikasi. Sama sekali tidak ada pemikiran yang lebih untuk saya pikirkan, karena setahu saya dia adalah seorang lelaki yang berkomitmen. Dia hanya akan berbicara untuk sesuatu hal yang penting saja pada lawan jenisnya. Memang sudah sekitar 9 tahun kami tak bertemu, dan di tahun lalu reuni SMP saya belum sempat ikutserta. Mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan angkatan kami di SMP yang ingin dia sampaikan, itu saja yang saya fikirkan.

Hari ini September tanggal 23, telepon genggam saya berdering dari nomor yang belum ada di daftar kontak. Saya pun mengangkatnya.

“assalamu`alaikum” sapa saya dengan suara yang resmi.

“wa`alaikumussalam, ini dengan annisa??” suara dari sana pun terdengar jelas bahwa dia seorang lelaki.

“saya Fathir, bagaimana kabarmu??” lanjut pertanyaan darinya dan bertanya lagi mengenai beberapa hal perencanaan saya di tahun ini. Walau saya rasa kenapa pembicaraan ini mengalir begitu saja dan adanya kehangatan seolah teman yang sudah lama bertemu. Ingat, kami belum pernah bertemu lagi semenjak lulus SMP dan sekarang kami sama-sama lulusan universitas kami masing-masing.

Panjang dia bercerita mengenai teman-teman kami yang sudah menikah sesama angkatan. Hati ini hanya bisa beristighfar tanpa henti agar hati tetap terjaga dari perasaan-perasaan yang tidak perlu hadir. Saya mulai mengeraskan suara dengan beberapa penjelasan yang terlontar dari mulut ini secara spontan, ketika ada pernyataannya yang mengusik ketenangan hati saya.

“Lah, kamu kapan nikah rencananya??” tanya saya setelah penjelasan yang panjang lebar mengenai cita-cita saya untuk lanjut S2 yang sedang dalam proses menunggu panggilan.

“Saya menikah rencanya tahun ini.” Jawabnya singkat dan memancing saya tuk bertanya lagi.

“wah alhamdulillah, sama siapa nih? Semoga saya bisa datang.” Tanya saya padanya.

“sama kamu.”jawabannya yang singkat ini tidak membuat saya bahagia, namun memancing emosi saya walau saya hanya bisa tersenyum sinis.

“apa maksud kamu? Kita sudah 9 tahun tidak pernah bertemu lagi kita belum saling kenal, bahkan sama sekali saya tidak pernah memikirkan atau ingat kamu sama sekali. Pernikahan bukan hal yang kecil, dibutuhkan kesiapan mental fisik bahkan jiwa. Rumah tangga itu untuk selamanya, butuh ilmu dan kesepakatan antara kedua pihak. Tidaklah menjadikan satu dua insan, namun dua keluarga. Jadi jangan..” masih panjang penjelasan yang saya sampaikan disertai emosi yang masih bisa saya kontrol. Dan anehnya setelah saya berbicara panjang lebar, hanya terdengar suara senyum dengan tenangnya diujung sana.

“saya juga engga tau kenapa bisa seperti ini, ketika saya sholat malam dan selesai berdoa teringat aja sama nama kamu dan akhirnya saya cari di Facebook. Alhamdulillah biidznillah saya bisa berbicara sama kamu sekarang.” Jelasnya dengan suara yang bijaksana.

“baiklah, sebelum saya menikah saya masih milik orang tua. Maka silahkan datanglah kepada orang tua saya jika memang kamu berniat baik. Saya belum berhak untuk menjawab apa-apa dan orang tua saya lah yang berhak untuk menjawabnya.” Pinta saya dengan penjelasan yang ada di otak saya.

Itulah pembicaraan singkat kami yang harus saya sampaikan kepada orang tua atas niat baiknya. Memang sudah ada beberapa lelaki yang datang menghadap orang tua untuk mengajukan niat baiknya, namun waktu dan kondisi yang belum tepat.

Teringat pada nasehat ayah saya dari semenjak lama, bahwa sebagai wanita tidaklah boleh menolak niat baik seorang lelaki. Karena sesungguhnya dia tidaklah berhak atas hal tersebut, namun hak itu berada di tangan kedua orang tuanya. Tak lupa juga ayah menyampaikan beberapa hal mengenai shalat istikhoroh. Bahwa sholat istikhoroh memberikan 3 jawaban :

  1. Adanya Nasehat alim ulama mengenai pilihan terbaik
  2. Adanya kecondongan hati kita pada pilihan terbaik
  3. Adanya mimpi yang memberikan tanda pada pilihan terbaik

Tak lama setelah pembicaraan kami, dia pun memberitahukan akan kedatangannya ke rumah untuk bertemu orang tua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

 “Pilihlah keturunanmu.” Artinya, orang tua perlu memerhatikan kriteria moral dalam memilih calon istri atau suami untuk anak laki-laki dan perempuannya, dengan memeriksa orang tua dari pasangan anak mereka nanti. Jika orang tuanya alim, tentunya anaknya juga demikian, dan demikian pula sebaliknya.

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 26