kupang pung gaya bikin lupa daratan

Zikir Rullah
Karya Zikir Rullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Januari 2018
kupang pung gaya bikin lupa daratan

                       KUPANG PUNYA GAYA BIKIN LUPA DARATAN

                               Oleh : Aulia Rahmahtullah

                         Semester : VII/ A

      Kota Kupang secara geografis terletak di pulau timur, merupakan ibu kota salah satu propinsi di Indonesia tengah yaitu provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai jantung dan barometer NTT, kota Kupang menjadi sentral setiap aktivitas pemerintahan, perekonomian, pendidikan, sosial dan hiburan dan ketatanegaraan lainnya. Sebagai kota metropolisya NTT, Kupang dengan segala destinasinya yang mempesona, geliat pembangunan begitu pesat, serana pendidikan  memadai beserta pesona lainnya, menjadikan daya tarik tersendiri. Sebagai kota metropolis walaupun tidak semerak kota-kota besar lainnya di Indonesia, Kupang layak disebut kota metropolis. Sama halnya dengan kota besar lainya, kupang juga menyajikan gaya hidup metropolis, trending kekiniian yaitu gaya hidup ala kupang, biasa dikenal “ Kupang Pung Gaya “.          

     Kupang pung gaya adalah sebuah trending hidup di kota Kupang yang ditunjukan setiap individu dari tindak tutur tindak laku nya dengan lebel yang sama yakni Kupang pung gaya. Bagi mareka yang baru mendengarnya atau mengalaminya pasti merasa aneh, tapi bagi sebagian orang yang sudah lama di kota Kupang barang-tentu sudah lumrah dan terbiasa, seperti beta yang tiga tahun di kota karang.

      Ohh..iya perkenalkan nama beta  Jijo asli Ende, sekarang beta menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di kota Kupang yakni Universitas Muhammadiyah Kupang. Alhamdulillah tahun ini beta sudah semester tujuh. Kalau ditanya pekerjaan belum ada kali, kan beta belum wisuda.

       Sebagai anak rantauan, dengan latar belakang dari keluarga yang kurang mampu, ditambah anak kos-kosan membuat beta harus bisa mengendalikan hasrat pola hidup perkotaan yang acapkali menguras isi dompet, dan ini sering terjadi pada mahasiswa. Apalagi hidup dikota semuanya serba uang alias “ sonde  gratis kaka “.

   Belajar dari pengalaman membuat beta sadar bahwa segala sesuatu ditawarkan  kota seperti gaya hidup trendy, anak muda fashionable, tetapi dibalik itu semua ada pengaruh negatifnya. Apalagi beta hidup dirantauan belum lagi biaya hidup masih ditanggung orangtua. Tapi ada juga sebagian orang kebablasan gaya hidup perkotaaan. pingin dibilang anak kupang ujung-ujung kebablasan kayak adik semester beta.

    Nama tenarnya shii Riko padahal nama KTP Jalaluddin Rahmat ketemunya dimana coba. Aslinya Ende, sama dengan beta cuman beda kampung saja. Kemarin baru tiba di kupang itupun masih diantar juga orang tua. Rencananya mau kuliah dikampus yang sama dengan beta

Dengan statusnya mahasiswa baru, iklim perkotaan berbeda. Membuat Riko kaku dan malu-malu kucing. Wajar dong namanya juga anak baru. Sebelum orangtuanya kembali ke kampung ada pesan yang mendalam dari Sang-Ibu kepada Riko.

“Ana kami wi mhaze gha, ine ne baba  whezo kau ne abe ata kae pandia terus. kuliah tau mhozo-mhozo nak. Phati kami bangga, mae kemma tauw rewo, hee whazo kami ata kemma tauw iwa, kita ata ree baba. (Nak kami mau pulang, jaga diri baik-baik, kuliah yang benar. Buatlah kami bangga nak),” pesan Ibunya

   Pesan yang sangat  mendalam, beta hampir menitikan air mata tapi masih kegedean gengsi sama teman-teman. Orangtuanya pun menitipkan pesan ke beta, mungkin sama-sama orang Ende na.

“tolong zimba ari gho nakai masi baru thaka pandia (tolong jaga adik mu, Ibu titipkan dia dengan kamu nak),” pintah Sang-Ibu

“Iya mama. Dia bagian dari tanggung jawab beta. Beta  akan ingat terus pesan mama. Mamanya pun langsung berpamitan pulang ke Ende, kembali lewat jalur laut.

  Sifatnya pemalu dan kaku, membuat Riko  jarang berteman dengan  penghuni kos. Jadi setiap hari kerjaannya hanya kurung diri di kamar kos, kalau keluarpun hanya makan sa.

“Riko..Riko makan dolo. Mari su, adii kaka dong su tunggu dari tadi,” seru Evans salah satu penghuni kos. Malu-malu Riko keluar dari kamar.

                                                           

                                                               ********

 

 

Di sela-sela makan Lili hiphop menyebur Riko dengan beribu pertanyaan.

“Riko kenapa lu nii sonde mau bergaul deng katong. Apa katong  jahat koo atau kermana?”  Riko bukannya menjawab malah menampakan ekspresi senyam-senyumnya. Melihat Riko yang kelimpungan, dengan sigap beta langsung bilang.

“Sudah su eee...buat apa katong tanya yang kayak ginian, namanya juga masih baru. Dia butuh adaptasi dolo, sekarang ni kasih Riko penyusuaian tho,” timpal beta.

  Sudah sebulan berada di kota karang Riko mulai menjalani aktivitas kampus layak mahasiswa seperti biasanya. Ada perubahan dari segi bahasa, Riko perlahan-lahan bisa berbahasa kupang. Di kos Riko dikenal sangat alim bahkan teman-teman di kos memanggilnya dengan sebutan ustadt. Lili sempat mengandaikan Riko sebagai calon imam kelak. Mimpi kalii yaa. Rutinitas perkuliahannya dijalani dengan semangat. Semangat kerja tugas, semangat catat..hiihhii..

                                                            *****  

   Waktu pun terus bergulir. Sudah satu setengah tahun di kota karang, sekarang Riko memasuki semester 2. Rutinitas kuliah berjalan lancar tapi ada yang mulai berubah dari  prilaku dan gaya hidup Riko. Hal yang paling menonjol mungkin fasih berbahasa kupang. Segi fashion layaknya anak perkotaan.

 Ada paristiwa yang membuat beta tekejut, tiba-tiba saja ortunya Riko menghubungi saya perihal apa yang diamanatkan Riko ke ortunya.

“Riko kesini dolo,” Panggil beta.

“Iya kaka tunggu bentar dolo  be masih mandi na, “ sahut Riko.

 Dari seberang kamar Lili berteriak “Oooww...Riko su jadi ana kupang ni maaa.”

“Hoooeeeww...koo kenapa jadiii?,’’ jawab Riko dengan santai.

“Ni ana pun sensi leee..katong cuman maen gila saa,” balas Lili.

“Suudaahhhh...jang terlalu ambil pusing namannnya ju adee-adee dong,” beta ikut jawab.

 

  Setelah selesai mandi riko pun datang ke kamar beta.

 “Kaka, perlu apa tadi?,’’ tanya-nya.

“Tadi ade pung ortu telepon bilang lu ada minta doi 3 juta, lu ada mau beli apa?’’

“Oowhh...iya kaka beta mau ganti rugi kawan pung motor, be ada kecalakaan deng dia pung motor na” Jawab Riko.

“Hhhmmm...okk su antar sore baru katong  pii Atm,” jawab beta.

   Setelah percakapan itu. Beta jadi penasaran ada yang aneh dengan Riko. Pasti dia punya tujuan yang tersembunyi, dibalik meminta uang sebanyak itu walaupun dia bisa meyakinkan ortuanya dengan berbagai alasan. Tapi ada yang masih mengganjal dalam pikiran beta. Seperti yang sudah dijanjikan sorenya kami pun mengambil uang di Atm. Di sela-sela perjalanan beta sengaja bertanya ke Riko.

“Riko, kapan lu ganti kawan pung motor?”

“Hhhmm..mungkin hari sabtu dolo , sekaligus servis terus motor di bengkel,” jawabnya.

“Lain kali jangan begitu lae, so hati-hati pinjam orang pung barang naa.”

“iya kaka,” jawabnya dengan jengkel.

   Anehnya selama satu minggu Riko sudah mulai jarang tidur di kos. Keluyuran malam, pagi baru pulang bukannya langsung kuliah, malah tidur-tiduran. Sorenya dandan rapi ajak maytua jalan-jalan, belanja pakaian, kayak anak pejabat. Parahnya tiap malam Riko ngumpul dengan teman-temanya kerjaannya hanya  minum barang-barang haram alias minum sopi, maupun moke.

     Berita itu pun sampai ketelinga beta, tapi beta belum terlalu yakin tentang kebobrokan gaya hidup Riko. Beta pun bertanya ke teman teman.

“Evans...benar ko sonde Riko belakangan ini kerjaannya bamabuk saa?”

“Iya Eja, selama ini eja KKN di luar daerah na, memang benar eja itu berita naa. Riko nii dia pung kerjaan tu, baminum saa. Kalau  sonde percaya naa, eja tanya su sama Lili,” Jelas Evans.

“Iya Jijo, bukan hanya itu Jijo. Tiap sore Riko ajak dia pung maytua belanja pakaian, jalan-jalan dong. Doi pung banyak lee Riko,” Jelas Lili .

  Beta hanya terdiam. Apa benar dugaan beta  selama ini, doi yang dikirim ortunya bukan untuk niat ganti rugi melainkan hanya untuk berfoya-foya. Moga-moga dugaan beta salah.

    Malamnya beta sengaja jalan-jalan sekaligus mampir ke kios belanja mie sama rokok. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggelegar di seberang jalan, tapi kedengaran tidak asing, kayaknya beta kenal dengan suara itu. Saking penasarannya, beta menyusuri sumber suara itu berasal. Dada ini berdegup kencang ketika sampai di sumber suara itu. Dibawah  cahaya lampu jalan yang remang-remang, terlihat Riko tertawa riang tanpa dosa, tanpa rasa bersalah. Bersama empat orang temannya duduk melingkar bersama 4 botol sopi ditengahnya.

   Beta langsung melabraknya walaupun beta tahu ini beresiko. Mungkin terdorong rasa sakit di bohongin.

“Owwh ini lung pekerjaan tiap malam adi, cuman  baminum sa?,“ tanya beta.

Sontak Riko kaget dan panik, mungkin kedatangan beta yang tiba-tiba. Beta menghampirinya untuk diajak berbicara empat  mata. Riko bangkit dari duduknya, sementara teman-temannya pada keheranan.

“Kita langsung omong damai saa.”

“Dong bilang adii tiap hari sonde pernah kuliah, terus sonde pernah tidur kos lee.”

“Sonde ada kaka dong pasti omong tipu tu, tadi teman ada ajak. Jadi beta sonde bisa tolak lee.”

“Lu nii penipu juu, beta su tau dari Evans dan Lili. Beta cuman tau ade jujur ko sonde, yang be takut lu tipu ortu di kampung sa.”

“Kermana deng doi tiga juta lu su kasih ganti kawan pung motor koo?’’

Mungkin tidak terima dengan semua hujatan dari beta, garangnya Riko  menjawab.

“Kakak ni siapa eew. Saudara ju bukan. Mau atur orang pung hidup. Ni be pung hidup terserah beta mau buat apa koo suka-suka beta too. Kakak ti da hak ikut campur. Urus saja kakak pung hidup yang ti jelas ituu,” hardik Riko.

“Okk..kalau itu lu pung mau naa. Beta sonde anggap lu beta pung adii lae. Meskipun beta masih pegang amanat lu pung mama na. Kalau maunya begitu naa beta mana-mana saa. Katong sonde usah baku tegur lagi eew,” ganti beta yang berteriak.

Kacang lupa kulit begitulah pepatah lama mengatakan. Demi memenuhi tuntutan gaya hidup kota, semua cara dilakukan. Apa yang menjadi tujuan utama ketika menginjakan kaki di kota menjadi sirna. Sungguh ironis, Riko si anak rantau digerus oleh gaya hidup perkotaan yang terkesan negatif. Hingga lupa akan tujuan utama sebenarnya, lupa akan daratan darimana dia berasal.

 

                                                         SEKIAN....

 

 

 

  

   

  • view 54