Ustad Sontoloyo

Zezen ZM
Karya Zezen ZM Kategori Agama
dipublikasikan 22 Januari 2016
Ustad Sontoloyo

April 1940. Harian?Pemandangan, surat kabar yang terbit saat itu, menurunkan sebuah berita: seorang guru agama dijebloskan ke penjara karena memperkosa muridnya.? Guru ngaji itu tak merasa bersalah dengan semua perbuatannya. Justru ia berdalih bahwa semua perbuatannya didasari oleh fikih. Ia telah melakukan akad terlebih dahulu, katanya.

Diceritakan, sang guru itu setiap Jumat malam mengadakan pengajian. Dalam pengajian itu, murid lelaki dan perempuan dipisahkan. Alasannya karena mereka bukan muhrim. Santri-santri perempuan bahkan mengenakan tutup muka. Menurut keyakinan kyai itu, muka dan suara perempuan adalah aurat yang tak boleh dilihat kecuali oleh muhrimnya.

Sang guru mulai menemukan masalah. Santri perempuankan harus ngaji. Tentu harus ada komunikasi langsung: bertatap muka dan berbicara. Padahal melihat mukanya saja dosa. Akal-punya akal, akhirnya beberapa muridnya itu dinikahi dulu biar jadi? muhrim dan sah dilihat mukanya, juga sah berbicara dengan mereka. Sekarang, kyai itu punya lisensi untuk tidak hanya mengajar dengan leluasa?sebagaimana tujuan awalnya?tetapi berabuat apa saja. Santri-santri perempuan hanya tahu bahwa akad nikah itu adalah semata-mata mekanisme ?penghalalan? komunikasi dalam pengajaran.

Namun suatu hari sang guru terpikat seorang muridnya. Ia memaksa muridnya untuk melayani birahinya. Terjadilah perbuatan nista itu.

Pemberitaan itu mendapat reaksi keras dari Soekarno, dalam tulisannya di?Panji Islam?pada bulan yang sama. Menurutnya, itulah Islam sontoloyo. Dan perbutan itu memang sah, tapi, menurutnya, sah menurut paham Islam sontoloyo. Dalam metafornya, sebagaimana bisa kita baca dalam?Di Bawah Bendera Revolusi, kyai itu main kikebu dengan Tuhan. Main petak umpet dan? mengabui mata Tuhan.

Februari 2014. Syahdan, di sebuah pedesaan di tatar Sunda yang entah di mana tepatnya, seorang ustad gagah, dengan rambut panjang, duduk dengan sedikit pongah di atas podium. Baju sorban serba-putihnya membuat ia semakin berkarisma. Tiba-tiba pengeras suara rusak dan ia terlihat kesal. Ia meminta teknisi untuk memperbaiki kerusakan yang mengganggunya itu. Dalam bahasa Sunda, keduanya terlibat obrolan. Awalnya sepertinya si Ustad ingin guyon sambil mengisi waktu. Tapi karena dibawakan dengan arogan, sang Teknisi terlihat tersinggung. Ustad gagah berambut gondrong itu terlihat mulai naik darahnya karena sang teknisi dirasanya ?tidak nurut dan manut?. Dia bilang, dalam Sunda, di tempat lain orang rela mati untuk para ustad. Sang ustad juga terlihat menyodorkan kaki ke dekat muka sang teknisi sambil bilang: ?lho?tahu ini apa??

Kerusakan pengeras suara akhirnya bisa dibetulkan dan sang ustad mengajak bersalaman, lagi-lagi, dengan gestur dan nada yang arogan. Sang teknisi menyalaminya juga dengan tidak sepenuh hati. Tiba-tiba sang ustad menarik tangannya sambil bilang, jika disederhanakan, ?oh jadi masih dendam nih?? Tangan sang teknisi yang berdiri di depan panggung ditarik semakin dalam ke arah ustad sampai leher sang teknisi cukup dekat ke kaki ustad yang mulai kemasukan setan itu. Dan,?krek, dengkul ustad menginjak leher sang teknisi.

Ini bukan sandiwara. Pengajian di sebuah hajatan yang dihadiri ratusan orang itu jadi gaduh. Semua hadirin kaget bukan kepalang melihat kelakuan?ustad--setidaknya itulah pengakuannya--yang tenar dan sering masuk di televisi itu. Ustad itu lantas berdiri setelah puas menginjak leher sang teknisi. Beberapa orang meloncat ke panggung untuk melerai. Ustad itu masih marah-marah dan mondar-mandir. Sampai disanalah adegan dalam rekaman video yang diunggah dan belakangan menjadi sangat terkenal di jejaring media sosial.

Adegan konyol ustad sontoloyo bukan hanya kali ini saja. Lain kali seorang ustad yang ngaku habaib marah-marah, menyebut banyak nama koleksi kebun binatang, lantas menampar orang-orang yang sedang berbaris yang sepertinya pengurus yayasannya. Lantas dia ?menyiksa? dan menghina seseorang sampai ia puas. Tak jelas apa alasannya. Video itu juga dulu tersebar luas di jejaring media. ?

Kalau saja Ir. Soekarno hidup lagi sekarang, dan menyaksikan perbuatan yang mungkin lebih?gila dari yang disaksikannya dahulu, tentu ia akan berkomentar juga: wah, itu ?Islam sontoloyo? yang dipraktekan oleh ?ustad-ustad sontoloyo?. Islam-nya orang yang bermain kikebu dengan Tuhan. Islamnya orang yang bermain petak umpet dan mengabui mata Tuhan.

Apapun alasan yang di kemukakan ustad sontoloyo itu, tetap saja tak bisa dibenarkan menginjak dan mencekik dengan kaki leher orang, di depan mata ratusan orang pada sebuah acara pengajian pula. Ustad semestinya dalam kondisi apapun memberikan contoh bagaimana dirinya mengendalikan hawa nafsu, dengan ucapan dan perbuatan. Semoga peristiwa sontoloyo itu tidak terulang lagi!

  • view 152