Chicago Typewriter, rendah tingkat namun memikat

Zey Tanzil
Karya Zey Tanzil Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 07 Juli 2017
Chicago Typewriter, rendah tingkat namun memikat

Han Se Ju (Yoo Ah In) adalah novelis berbakat, yang karyanya menembus pasar internasional.  Saat mengadakan fans signing di sebuah kafe di Chicago, ia tertarik dengan mesik tik tua milik sang owner. Ia berniat membelinya dari tuannya, namun tidak diperbolehkan. Suatu kejadian misterius akhirnya membuat pemilik mesin tik itu mengirimnya ke Korea, menghadiahkannya pada Se Ju.

Jeon Seol (Im Soo Jung), perempuan mungil berparas manis. Ia merupakan penggemar Se Ju nomor satu. Novel-novel karya Se Ju segera ia baca bahkan saat pertama dirilis, mimpinya bahkan ingin bertemu Se Ju. Ia hampir menjadi atlet tembak, tapi karena saat menembak bayangan misterius tentang dirinya yang pernah membunuh orang  muncul, ia urung memegang senapan lagi. Hal ini yang kemudian membuat ibunya pergi dan mengharuskannya menumpang di rumah sahabatnya, Ma Bang Jin.

Puncak cerita dimulai saat mesin tik tua itu disorot. Suatu saat, Se Ju kehilangan inspirasi dan kemampuannya untuk menulis. Ia sudah mencoba berbagai cara, namun jarinya tetap saja kelu bermain di atas laptop. Di tengah keputusasaan serta tekanan dari pihak penerbitan dan dirinya sendiri, seorang ghostwriter, tanpa diketahui darimana asalnya, muncul dan menjadi relawan menuliskan cerita untuk Se Ju.

Ghostwriter tampan itu, Yoo Jin Oh (Go Kyung Pyo), ternyata benar-benar hantu. Jiwanya terkurung dalam mesin tik itu selama puluhan tahun. Ia menyatakan, dirinya datang pada Se Ju, untuk memecahkan misteri ter-reinkarnasi-nya Se Ju, Jeon Seol, dan ia sendiri. Ketiganya rupanya mempunyai hubungan khusus di puluhan tahun lalu, saat Joseon (sekarang Korea Selatan) masih dalam masa pendudukan Jepang. Mereka merupakan aktivis pejuang kemerdekaan di bawah nama Aliansi Pemuda Joseon, dan juga sahabat karib.

***

Drama ini diramu dengan apik, dengan peran pemainnya yang berhasil menggugah hati pemirsa. Kisah yang disajikan menurutku lebih menarik saat bercerita di zaman 1930 dulu. Ketegangan film bertumpu di bagian ini, saat usaha mereka, para pejuang kemerdekaan mengusahakan kebebasan tanah air dengan nyawa dan waktu muda mereka sendiri. Mimpi melihat kehidupan masa depan tanpa kekhawatiran, langkah tanpa tekanan penjajah, dan kebahagiaan dengan keluarga serta sahabat tanpa ketakutan mencekam, terus mereka genggam hingga akhir. Disini, kita menapaktilasi dan belajar, bahwa kemerdekaan suatu negara tidak dilalui dengan proses yang mudah, tapi justru dengan darah.

Selain memberi beberapa bekal nasihat untuk para penulis (yang awalnya membuatku tertarik :D), drama ini asyik ditonton juga karena tidak melulu menampilkan ketegangan sebagaimana lazimnya adegan-adegan action. Ada humor dari pemeran-pemeran utamanya seperti Gal Sajangnim, manajer penerbitan Se Ju yang nyentrik. Dimana sebelumnya ia juga sukses membawakan peran sebagai Sekretaris di drama Goblin. 

Kekurangannya, hanya terletak pada urutan cerita yang agak bertele-tele di awal, mungkin akan sedikit bosan menunggu akurnya Jeon Seol dan Se Ju yang sejak pertama bertemu selalu berselisih paham. Kedua, aku merasa ending yang disajikan kurang greget dan mengena, seolah ada suatu kisah yang belum diselesaikan masalahnya.

Overall, aku hanya akan memberikan applause dan acungan jempol untuk drama ini, saking tidak bisa berkata-kata (cheongmal, cheongmal, cheongmaaaaaaaaaal). Drama ini beneran unik, sumpah! Kekekeke...^o^

Dari beberapa komentar di situs-situs yang mengangkat profil drama ini, ataupun mengunggah videonya, mereka menilai drama ini adalah yang terbaik. Satu hal membahagiakan disamping perolehan rating di saat terakhirnya yang hanya mencapai 2,2% (dirilis oleh situs korea.iyaa.com dari data Nielsen Korea)

  • view 63