Sakelar yang Sakral

Zey Tanzil
Karya Zey Tanzil Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 April 2016
Sakelar yang Sakral

Setiap kali malam menjelang, biasanya lepas maghrib, kami penghuni asrama akan menggerutu pendek-pendek. Kenapa?

Penyebabnya sepele: Sakelar lampu.

Benda kecil berwarna biru, bertuliskan angka per bagiannya, yang terletak di bagian luar pintu. kecil memang, tapi nyatanya menjadi sumber terbesar kegelisahan kami. karena justru benda mungil itulah yang menjadi sumber mayoritas kebutuhan kami. Begitu listrik padam sesaat, setrikaan mati, kipas kecil berhenti, bahkan membaca pun menjadi tidak nikmat karena tak ada listrik. Duh!

Dua momen yang membuat mati listrik ini menjadi sangat menyebalkan. Malam ketika hendak beranjak tidur, dan pagi saat berangkat kuliah. Bila hendak tidur. karena cuaca yang panas, kami tidak terbiasa untuk tidur tanpa menggunakan kipas baling-baling kecil yang digantungkan di atas ranjang, alhasil susah sekali rasanya untuk memejamkan mata.

Momen kedua adalah pagi saat menyetrika pakaian yang akan dikenakan ke kampus. Situasi ini makin mengganggu ketika tak ada yang menghidupkannya kembali dan harus menunggu lama hingga listrik menyala. Ditambah dengan waktu yang mepet untuk berangkat. Kalau sudah begini, listrik tak akan menyala hingga salah satu dari kami beranjak keluar dan mengubah sakelar itu sendiri.

Pantas saja, Thomas Alva Edison bersungguh-sungguh dalam usahanya menemukan bola lampu. Karena zaman sekarang, sungguh menyusahkan jika tak ada lampu.

Oh, benar-benar sakelar yang saklar..

?

  • view 125