Bullying dan Remaja

Muzaki Saifurrohman
Karya Muzaki Saifurrohman Kategori Psikologi
dipublikasikan 30 Juni 2016
Bullying dan Remaja

Seperti yang kita ketahui, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari kekayaan sumber daya alam saja, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki terutama pada generasi mudanya. Kualitas manusia sendiri didasarkan pada bagaimana individu mampu untuk bersikap, bertingkah laku, bersosialiasi dengan masyarakat. Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan untuk meningkatkan sikap dan moral melalui berbagai hal.

Namun, kondisi lapangan menyatakan bahwa tidak seluruh individu mampu mengembangkan kemampuan masing-masing, hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya problematika dalam kehidupan bermasyarakat. Dan salah salah satu problem serius yang menjadi perhatian dikalangan masyarakat adalah perilakubullying, terutama bullying yang terjadi di sekolah. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat setiap orang belajar dan mendapatkan ilmu ternyata harus diwarnai oleh hal-hal yang berbau kekerasan.

Data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mendata mengenai kasus kekerasan, kekerasan anak dapat terjadi melalui 3 hal, dari orang tua, keluarga, atau orang terdekat seperti teman. Pemantauan KPAI dari tahun 2011 sampai 2014 meningkat dari 2178 pada tahun 2011 hingga 5066 kasus pada tahun 2014. Pemantauan yang dilakukan oleh KPAI menyebutkan jika tahun 2012, 91% anak menjadi korban kekerasan dalam keluarga, 87,6% di lingkungan sekolah seperti bullying yang terjadi di sekolah, dan 17,9% di sekitar lingkungan masyarakat (Setyawan, 2015). Sedangkan kasus bullying menurut KPAI pada tahun 2011-2014 juga semakin meningkat dan menduduki peringkat teratas sebanyak 369 pengaduan kepada KPAI, dalam bidang pendidikan seperi kekerasan di sekolah, diskriminasi terdapat sekitar 1480 kasus (Setyawan, 2014). Terlebih lagi, banyak sekali kasus yang berkaitan dengan anak dan hukum, seperti kasus pengasuhan, pendidikan, napza, cybercrime, pornografi. KPAI menegaskan setiap tahun selalu ada peningkatan.

Istilah bullying sendiri menurut American Psychology Association pada tahun 2013 adalah

a form of aggressive behavior in which someone intentionally and repeatedly causes another person injury or discomfort. Bullying can take the form of physical contact, words or more subtle actions”

Perilaku bullying ialah penyalahgunaan kuasa yang dilakukan individu baik dalam konteks psikologis maupun fisik yang terjadi berulang-ulang terhadap individu yang memiliki daya tahan atau proses adaptasi yang lemah terhadap suatu kelompok (Yusuf & Fahrudin, 2012).

Bullying erat dikaitkan dengan perilaku agresi. Perilaku agresi sendiri menurut (Baron & Byrne,1994; Brehm & Kassin,1993; Bringham,1991 dalam Suryanto, Bagus Ani Putra, Herdiana, & Nur Alfian, 2012) adalah perilaku yang dengan sengaja dimasudkan untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikisnya. Sedangkan menurut APA bullying merupakan bentuk perilaku yang agresif atau termasuk perilaku agresi karena dilakukan secara berulang kali sehingga membuat orang lain merasakan ketidaknyamanan.

Perilaku bullying yang terjadi di kalangan remaja memiliki bentuk yang beragam antara lain bullying fisik, bullying verbal, bullying relasional dan bullying elektronik. Bullying fisik adalah perilaku yang dengan sengaja menyakiti atau melukai fisik orang lain, bullying verbal adalah perilaku yang dilakukan dengan mengucapkan perkataan yang menyakiti atau menghina orang lain, bullyingrelasional adalah perilaku yang mengucilkan atau mengintimidasi orang lain dalam pergaulan sedangkan bullying elektronik adalah perilaku yang menyakiti orang lain dengan menggunakan jejaring sosial (Budiarti, 2013).

Salah satu contohnya adalah seperti yang kita ketahui, beberapa tahun terakhir sering terjadi bullying pada saat penerimaan siswa baru (MOS) dimana kakak tingkat sebagai panitia melakukan kekerasan kepada para siswa baru. Awalnya, para kakak tingkat memberikan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh para siswa baru sebagai “prasyarat” agar dapat diterima sebagai warga sekolah tersebut. Tapi sering kali pemberian tugas tersebut diiringi oleh bullying baik secara verbal maupun non verbal, seperti ejekan dan makian. Bahkan sering kalibullying tersebut akhirnya berujung pada kematian.

Termasuk dalam kasus tersebut, pelaku bullying menyiksa korban untuk mendapatkan status yang lebih tinggi di kelompok dan pelaku memerlukan orang lain untuk menyaksikan kekuasaanya. Dalam salah satu penelitian, pelakubullying hanya ditolak oleh kawan sebaya dimana mereka menjadi ancaman (Veenstra dkk, 2010 dalam Santrock 2012) Dan dalam penelitian lain, pelaku bullying sering berafiliasi atau dalam beberapa kasus mempertahankan posisi mereka dalam kelompok yang populer (Wivliet dkk, 2010 dalam Santrock 2012)

Data-data yang dijelaskan sebelumnya memberi identifikasi bahwa ada kondisi yang tidak normal dalam tahap perkembangan anak. Namun, persoalan bullyingini seringkali terjadi pada anak-anak terlebih pada remaja. Hal ini dikarenakan masa remaja adalah masa peralihan atau masa transisi dimana pada tahap perkembangan ini remaja dihadapkan dengan persoalan identitas dan keraguan akan peran setiap individu (Margaretha & Nindya, 2012). Dan hal ini sejalan dengan salah satu teori dalam psikologi perkembangan yaitu teori psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson.

Pada tahap perkembangan individu dalam teori psikososial Erikson terdapat delapan tahap dimana masing-masing tahapan memiliki permasalahan sendiri. Tahap yang sangat berkaitan dengan konteks permasalahan yang marak saat ini ialah masa remaja sekitar periode pubertas sampai 20 lebih. Dalam tahap ini individu mulai dihadapkan dengan krisis mengenai identitas diri. Peran orang tua dalam tahapan ini sangat penting karena melalui orang tua seharusnya individu belajar berbagai peran dalam hidupnya. Jika hal tersebut tidak dapat terpenuhi maka individu dapat mengalami kebingungan identitas. (Santrock, Remaja, Edisi sebelas, 2007)

Salah satu contoh kasus pada remaja di era ini adalah cyberbullying, perilakubullying yang dilakukan melalui media sosial dengan perantara internet. Salah satunya adalah kasus yang dialami oleh Amanda Tood, seorang gadis remaja asal Kanada berumur 15 tahun yang bunuh diri akibat cyberbullying. Kasus ini berawal dari perkenalan Amanda dengan seorang pria, melalui videocam pria tersebut membujuk amanda agar mau memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai pakaian. Setahun setelahnya video topless Amanda tersebut beredar di media sosial. Hal tersebut semakin membuat banyak orang mem-bully Amanda karena tindakannya tersebut, sekaligus membuat Amanda dicemooh baik di sekolah maupun lingkungannya. Kejadian  ini membuat Amanda tak tahan hingga kemudian melakukan usaha bunuh diri (Putra, 20114).

Kasus tersebut berhubungan dengan tahap perkembangan remaja dimana remaja yang berhasil untuk mengatasi krisisnya maka akan dapat membentuk dirinya dan diterima oleh masyarakat. Namun apabila individu tidak dapat mengatasi konflik dan krisis identitas maka akan terjatuh dalam kondisi kebingungan peran atau identitas yang disebut role confusion. Kasus yang terjadi pada Amanda berujung pada hasil dari role confusion. Individu tidak dapat mengatasi konfliknya sehingga bila individu tersebut adalah korban bullying, terdapat kemungkinan bahwa individu akan mengisolasi dirinya dari lingkungan. Sedangkan untuk pelaku bullying, individu melakukan kejahatan melalui media internet besar kemungkinan karena pengaruh dari teman sebaya sehingga kehilangan identias dalam kerumunan orang-orang tersebut.

Sedangkan, dilihat dari segi gender, hasil suatu penelitian menunjukkan anak laki-laki sangat dominan untuk menjadi pelaku bullying di sekolah daripada perempuan. 74% menjadi pelaku bullying, sedangkan 56% anak perempuan menjadi korban bullying, lebih besar daripada persentase anak perempuan sebagai pelaku bullying (Pratama, Krisnatuti, & Hastuti, 2014)

Dalam teori perbedaan gender, tingkat agresifitas lebih banyak dilakukan oleh pria dibanding wanita. Hal ini dikarenakan hormon seks pria yaitu testosteron lebih tinggi fan mempengaruhi perilaku agresif. (Suryanto, Bagus Ani Putra, Herdiana, & Nur Alfian, 2012)

Survey yang dilakukan pada lebih dari 2200 anak dan remaja usia 8 – 18 tahun, mereka menghabiskan  6,5 jam sehari pada media, 2,25 jam untuk orang tua dan 50 menit untuk mengerjakan pekerjaan rumah  (Santrock, 2012). Hal ini membuktikan bahwa intensitas penggunaan media yang tinggi akan sangat berpengaruh bagi kehidupan mereka. Berdasarkan teori belajar sosial dari Albert Bandura bahwa perilaku agresi dapat terjadi akibat dari meniru dan mencontoh perilaku orang lain baik secara langsung atau tidak langsung, maka media termasuk salah satu penyebab bagi terjadinya perilaku bullying.

Banyaknya perilaku agresi seperti bullying dalam media elektronik baik televisi maupun internet yang diperlihatkan terang-terangan secara tidak langsung akan mempengaruhi cara berpikir seorang remaja bahwa itu adalah hal yang wajar sehingga mereka dapat secara bebas meniru perilaku tersebut. Adanya efek yang menyenangkan dan pencapaian yang dihasilkan dari perilaku yang dilakukan akan menjadi penguat bagi pelaku bullying untuk mengulangi perilaku tersebut. Menurut Saripah (2006) survey yang dilakukan oleh Kompas menyatakan bahwa 56,9% anak-anak yang menonton adegan film akan meniru adegan yang ditontonnya tersebut dimana sebanyak 64% mereka meniru gerakan dan 45% mereka meniru kata-katanya (Budiarti,2013). Selain media, seorang remaja juga dapat terpengaruh oleh paparan agresi secara langsung seperti adanya budaya bullying di lingkungan sekitar mereka baik di rumah, sekolah atau  teman sebaya mereka. Semakin besar perilaku bullying terjadi di sekita mereka maka akan semakin memungkinkan bagi mereka untuk turut serta dalam perilaku tersebut sebagai salah satu bentuk imitasi.

Selain itu salah satu penanggung jawab dari perilaku bullying adalah kepribadian dari remaja itu sendiri. Berdasarkan teori psikoanalisa Sigmund Freud, dimana manusia memiliki dua insting dalam dirinya yaitu insting hidup (eros) dan insting mati (tanatos). Perilaku agresi yang dilakukan kepada orang lain dianggap sebagai salah satu bentuk kemenangan dari usaha untuk mempertahankan naluri kehidupannya. Perilaku agresi yang ditujukan bagi orang lain juga merupakan bentuk peralihan dari insting mati yang dimiliki yang pada awalnya bertujuan untuk menghancurkan diri sendiri berkembang menjadi dilampiaskan kepada orang lain (Suryanto, Bagus Ani Putra, Herdiana, & Nur Alfian, 2012).  Di dalam  teori Freud juga dijelaskan bahwa perilaku agresi ini termasuk bullying adalah tanggung jawab dari id yaitu insting manusia yang mendorong diri untuk melakukan agresi. Walaupun manusia memiliki egosebagai bentuk realitas diri dan  superego atau hati nurani, namun terkadang tidak cukup untuk membendung keinginan untuk melakukan perilaku agresi itu sendiri.

Perilaku agresi termasuk bullying akan selalu memilki korban dimana terdapat karakteristik tertentu, baik bersifat eksternal dan internal. Hal-hal yang bersifat ekternal sendiri mengacu pada penampilan dan kebiasaan yang berbeda dalam berperilaku sehari-hari. Kasus yang seringkali kita temui di lingkungan sehari-hari adalah korban bullying mempunyai penampilan fisik yang berbeda dari kebanyakan anak, seperti ukuran badan yang terlalu besar. Tidak hanya itu, perbedaan dalam latar belakang etnik, keyakinan,dan budaya yang berbeda dari kebanyakan anak di lingkungan tersebut akan mempertinggi tingkat bullying(Murphy, 2009).

Namun, ada kasus dari beberapa anak yang menjadi korban bullying karena mempunyai penampilan, kemampuan dan bakat istimewa, misalnya kasus Jade Stringer. Gadis berusia 14 tahun tersebut bunuh diri dengan cara gantung diri di kamarnya karena banyak yang cemburu atas kecantikan dan kepopulerannya di sekolah. Teman-temannya mengatakan jika Jade yang berwajah cantik dan menarik mendapatkan tekanan dan bully di sekolah karena wajahnya yang cantik selama beberapa bulan terakhir. Hal tersebut dikuatkan dengan post yang ditulis Jade di media sosialnya. Jade meninggal setelah enam hari ditemukan tak sadarkan diri oleh ayahnya (Blake & Narain, 2012).

Selain karakteristik eksternal terdapat karakteristik internal yang mengacu pada anak-anak yang memiliki jenis kepribadian pasif dan submisif. Mereka tidak mampu mempertahankan diri dan hak-hak mereka, walaupun tidak dalam situasi bullying. Korban bullying biasanya merasakan cemas, gugup, atau rasa tidak aman. Korban bullying cenderung anak-anak yang memiliki self esteem rendah,pemalu dan memiliki sedikit teman. Kondisi sosial semacam ini malah semakin membuka peluang mereka untuk menjadi target bullying (Murphy, 2009).

Maka dari itu, diperlukan penanggulangan maupun pencegahan agar anak tidak menjadi pelaku bullying seperti yang dikatakan oleh Clara dalam Ehan (2007) adalah dengan menghimbau para orang tua atau wali dari anak untuk mengembangkan kecerdasaan emosional anak sejak kecil.  Pendidikan untuk memiliki rasa empati, menghargai orang lain dan memberikan penyadaran pada anak tentang peran dirinya sebagai mahluk social yang memerlukan orang lain dalam kehidupannya. Menurut Ratna dalam Ehan (2007) dengan mengajak pemerintah untuk mengatasi bullying berupa program yang tegas, jelas dan terarah, bila masyarakat kita diam saja dengan bullying sama dengan melegalkan tradisi dendam di sekolah tersebut. Lebih serius lagi, bullying akan menjadi bahaya laten yang akan kerap menghantui para siswa, baik dalam generasi ini maupun generasi mendatang. Dalam mengatasi dan mencegah bullyingdiperlukan aturan yang bersifat menyeluruh yang mengikat antara guru dan muridnya, dari kepala sekolah hingga wali murid/orang tua, kerjasama antara guru, orang tua dan masyarakat atau pihak yang berwenang seperti polisi, apparat hukum dan sebagainya sangan dibutuhkan untuk mengatasi persoalan bullying di sekolah.

Peran pengasuh atau orang tua murid saat di rumah yang harus bias menciptakan suasana komunikasi yang baik dengan anaknya dan membekalinya dengan pemahaman spiritual/agama yang cukup dan memberikan contoh ahlakul karimah yang bisa dilakukan anak di rumah, karena anak akan meniru orang tua sebagai role model (Ehan.M.Pd, 2007).

Kemudian, salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah melalui program anti bullying di sekolah. Menurut Huneck dalam Ehan (2007) seorang ahli intervensi bullying yang bekerja di Jakarta Internatonal School, bullying akan tetap terjadi di sekolah-sekolah bila orang dewasa tidak mampu membina lingkungan saling percaya dengan siswa, tidak menyadari perilaku yang termasuk bullying, tidak menyadari dampak/luka yang disebabkan oleh bullying dan tidak ada campur tangan  dari sekolah yang secara efektif. Dalam Ehan (2007) bentuk manfaat penanggulangan dengan program sekolah anti bullying sebagaimana berikut:

  1. Memberikan pengertian bahwa rasa aman dan nyaman adalah hak dan milik seluruh orang.
  2. Menyadarkan kepada seluruh orang di sekolah bahwa bullying dalam bentuk apapun tidak dapat ditolelir.
  3. Membekali siswa untuk membuat keputusan
  4. Membantu siswa dalam membentuk orang yang mereka percayai

Kegiatan yang bisa dilakukan selama program ini yaitu:

  1. Brainstorming dan diskusi
  2. Kegiatan dengan lembar kerja
  3. Membaca buku cerita tentang bullying
  4. Membuat gambar/poster tentang pencegahan bullying
  5. Bermain drama/peran
  6. Berbagi cerita dengan orang tua di rumah
  7. Menulis puisi
  8. Menyanyikan lagu anti bullying dengan lirik yang dirubah seperti nada lagu popular
  9. Bermain teater boneka

Langkah dalam pencegahan bullying dalam Ehan (2007) antara lain:

  1. Memberikan siswa pilihan komunitas yang mengakuinya

Pada dasarnya semua manusia membtuhkan pengakuan atas keeksistensiannya, lebih-lebih pada usia remaja yang sedang dalam masa transisi dan krisis identitas, para remaja lebih senang berkumpul dengan teman sebayant yang menurutnya lebih bisa menerima sekaligus senasib dan sepenanggungan. Maka dari itu, kewajiban orang dewasa memberikan opsi komunitas yang positif dan tetap memenuhi syarat penerimaan identitas remaja, contohnya membuat kelompok kesenian atau band.

  1. Putus mata rantai pelaku dan budaya bullying

Budaya bullying biasanya diwariskan dengan sistem kaderisasi yang kuat, motivasi senioritas merupakan faktor terkuatnya. Untuk mencegah hal tersebut sebaiknya siswa dibimbing dengan mengadakan aktivitas bersama antara generasi tersebut maupun alumninya dan buatlah sebuah ikatan agar terbentuk jalinan komunikasi.

  1. Ajarkan cara mengantisipasi kekerasan bukan melakukannya

Latian bela diri atau olah raga merupakan salah satu opsi pembentukan mentak dan jasmani yang sehat

  1. Tingkatkan kepedulian pada lingkungan sosial untuk mengantisipasi praktek bullying

Sudah saatnya masyarakat ikut peduli dan melakukan penanggulangan tindakanbullying di sekitarnya

  1. Dukung gerakan diet (pembatasan) siaran televise

Batasi anak dalam menonton televisi, karena acara dan penampilan dalam siaran televise ikut berperan dalam membentuk perilaku masyarakat yang menontonnya. Sebagai penggantinya adalah dengan menyediakan fasilitas untuk olahraga, kesenian, membaca dan lain-lain.

 

More articles: http://jack-psikologi14.web.unair.ac.id/

  • view 254