Melapangkan hati

Azzam Mujaddid
Karya Azzam Mujaddid Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2017
Melapangkan hati

Teriring doa kepada penguasa malam, kepadaNya muara kekuasaan dunia. Semoga Allah limpahkan ampunannya atas perbuatan perbuatan yang tak kita sadari menyakiti saudara kita.

Pernah kubaca, bila sebuah kuku yang panjang di ibaratkan sebuah kebencian atas saudaramu. Maka jari tangan itu tak perlu dipotong untuk menghilangkan kuku panjang itu, cukuplah kuku yang panjang menjadi batas pemotongnya. Sedemikian dengan kebecian diantara kita , sebagai saudara yang barangkali hadir saat kafahaman itu berbeda dari asalnya. Cukuplah kebencian terbatas pada perbuatannya, bukan pemotongan atas tali persaudaraannya.

Sebagian kita mengira, apa yang kita ucapkan tiada masalah didalamnya. Namun bisa jadi sebagian lain dari kita mengira apa yang kita ucapkan tanpa disadari menyayat hatinya.

Hingga bibit bibit kebencian mulai bersemi, bak lilin yang terus menyala, menerangi namun membakar diri.

Tak ada salahnya melapangkan hati.

Melapangkan hati , seperti halnya air yang mengobati dahaga. Memaafkan atas apa yang bisa jadi menyakiti hati kita atas orang lain, dengan mengharapkan Allah bimbing hati orang lain untuk memaafkan atas ketidaksadaran perbuatan kita yamg menyakiti.

Melapangkan hati, memberi ruang baru diantara sesak desak problem yang datang silih berganti. Menenangkan dalam ketenangan.

Melapangkan hati, membersihkan fikir. Menyatukan amal dalam bingkai persaudaraan.

Bila hati kian lapang saat kesulitan datang , maka yang demikian bisa di hadapi dengan tenang.

Semoga kita menjadi pribadi yang senantiasa maaf memaafkan diatas ikatan persaudaraan.

  • view 77