Hentikan Prasangka

Nasrikah Sarah
Karya Nasrikah Sarah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Juni 2017
Hentikan Prasangka

Sebut saja Wati, dia adalah teman saya. Begitu juga Ratna dan Siti. Kami berempat sudah lama berteman.

Suatu ketika Wati memberitahu kalau dia telah kehilangan barang berharga berupa kalung emas. Nah, dia tahunya yang terakhir masuk ke rumahnya adalah Ratna, sehingga Wati meyakini kalau Ratna yang mengambil kalung tersebut.

Parahnya, tanpa menyelidiki terlebih dulu, Wati telah menyebarkan tuduhan tersebut kemana-mana. Bahkan, tuduhan itu malah dipublikasikan di media sosial dengan update status di facebook.

Siti yang tidak tahu kejadian sebenarnya ikutan komen yang memberatkan posisi Ratna. Secara tidak langsung, Siti ikut menuduh Ratna mencuri kalung Wati. Ramailah status Wati dengan berbagai komen dari teman-teman yang lain.

Maka, hancurlah nama baik Ratna. Terlebih lagi, Ratna semakin tidak punya ‘muka’ karena makin banyak pula orang yang tahu dan ikut-ikutan menuduh karena membaca status di Facebook yang ditulis Wati.

Namun, bagaimana kejadian yang sebenarnya? Apakah Ratna yang mencuri kalung tersebut? Belum tentu, kan...?

***

Kisah di atas menunjukkan bahwa menuduh berdasarkan prasangka bisa menghancurkan nama baik seseorang.

Prasangka yang seperti ini tidak hanya tidak beretika, tetapi sungguh kejam. Menuduh tanpa memberi kesempatan tertuduh untuk membela diri. Bahkan yang dituduh pun tidak mengetahui bahwa ia dituduh.

Kejadian seperti ini tidak hanya dialami oleh tokoh Wati dan Siti yang ikut-ikutan sebagaimana kisah diatas. Perilaku seperti Wati dan Siti sering terjadi di masyarakat dan lingkungan kita sehari-hari.

Prasangka merupakan pendapat atau anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui kebenarannya

Karena prasangka, hubungan keluarga yang harmonis bisa menjadi berantakan. Persahabatan yag awalnya tulus bisa menjadi putus, kawan bisa menjadi lawan, serta akan banyak terjadi kekecohan yang berujung permusuhan.

Oleh karena itu, bulan suci Ramadhan adalah momentum yang tepat. Sebagai umat Islam kita wajib menjalankan ibadah puasa. Mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk tidak sekedar menahan makan dan minum tetapi juga menahan nafsu termasuk prasangka.

Marilah kita berhenti berprasangka. Terlebih lagi yang sekiranya bisa mengancam persatuan dan kesatuan kita di dalam masyarakat.

Ayo kawan…kita belajar menjadi penyebar berita yang beretika. Hentikan menyebar berita hoax yang banyak unsur prasangka dan praduga, yang tidak tahu kebenaran sumbernya.

Jadilah diri yang memberi manfaat, pemersatu umat bukan sebaliknya yang memecah belah.

*Jika ada nama tokoh, kejadian ataupun cerita ini adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan*

 

  • view 210