TERJANGKIT VIRUS FPI PHOBIA

Zainal Hakim
Karya Zainal Hakim Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2017
TERJANGKIT VIRUS FPI PHOBIA

TERJANGKIT VIRUS FPI PHOBIA

==============================

Setelah aksi 411, 212, plus ditambah aksi 112, FPI nama Ormas yang dulu dinilai "miring" dengan tuduhan Intoleransi, anarkis,  ekstrim kanan, anti kebinnekaan, dan lain-lain, mendadak naik daun menyusul dua Ormas Islam terbesar di Indonesia, popularitas "Anak kemaren sore" ini telah menyaingi "dua kaka tertua"nya NU dan Muhammadiyah. (Lihat: https://m.tempo.co/read/news/2017/01/31/078841363/popularitas-fpi-tinggi-bersanding-nu-dan-muhammadiyah).

Wallāhu a'alam apa penyebab pastinya, namun nampaknya media sosial online sebagai sumber berita yang mulai merata dinikmati masyarakat Indonesia berkontribusi besar membalikkan penilaian anak bangsa terhadap Ormas ini. 

Saya teringat dengan sebuah kaidah yang pernah saya pelajari di Pesantren dulu ketika ngaji Kitab Tauhīd Fathul Majīd karangan Ulama tersohor Indonesia Syeikh Nawawi Banten, dan kembali saya dengar penjelasan Kaidah tersebut dari ceramah Syeikh 'Abdussalām an-Naqāri, kaidah tersebut berbunyi: al-Hukm 'Alā as-Syai' Far'un 'An Tashawwurihi. Terjemah bebasnya mungkin seperti ini, "Justifikasi atas sesuatu adalah produk indentifikasi terhadap sesuatu tersebut".

Justifikasi bahwa FPI adalah Ormas yang intoleransi, anarkis, ekstrim, dan lain-lain adalah justifikasi yang dihasilkan dari identifikasi yang sumburnya adalah media audio visual (baca:tv) yang sarat kepentingan hingga tidak independen dan subyektif dalam pemberitaan. 

Saya pernah berbincang dengan seorang sepuh yang cukup ternama di daerah ini (baca:Kab.Berau), beliau menilai dalam kasus Ahok, Ahok tidak salah, yang salah itu MUI dan FPI yang terlalu reaktif, ahok itukan cuma salah ngomong katanya. Saya bingung juga, kenapa malah MUI dan FPI yang dibilang reaktif atau bahasa gaulnya sekarang "sumbu pendek" seolah-olah MUI itu "anak muda" yang bertindak tergesa-gesa tanpa berfikir panjang, dan FPI juga dibawa-bawa, padahal FPI murni "berkhidmat" agar Fatwa MUI yang isinya "Ahok penista al-Qur'an dan harus dihukum sesuai konstitusi" dapat didengar, dituruti dan ditegakkan oleh aparat hukum. 

Saya coba memahami pola pikir beliau yang sepuh ini, ternyata justifikasi reaktif alias "sumbu pendek" terhadap MUI dan FPI, itu adalah hasil apa yang beliau dengar dan lihat hanya melalui media tv, karena beliau bukan penikmat media sosial online, maklum faktor usia.

Tidak menutup kemungkinan juga, ada penikmat media sosial online yang getol menjustifikasi miring Ormas FPI, misalnya saya pernah bertemu seorang yang katanya wartawan senior, kalau dilihat uban kepalanya, beliau memang senior. 

Beliau lantang berucap, buat apa ada FPI, bikin ribut aja, tempat kita sudah aman katanya. Wallāhu a'alam, kenapa beliau begitu alergi dengan FPI, kata teman saya guyon "apa sih masalah orang tua ini sama FPI, emang dia pernah ditonjok FPI kah?", sekali lagi saya coba memahami pola pikir Bapak wartawan senior ini dalam menilai FPI. Saya perhatikan dengan seksama, dia bukan orang yang Gaptek seperti sepuh tadi, dia penikmat media sosial online. 

Ternyata walaupun dia penikmat media sosial online, dia adalah penikmat media sosial online "tanggung" tidak bisa membedakan mana informasi yang fakta dan mana informasi yang fiktif dan "HOAX" di dunia maya, akhirnya salah lagi dalam menilai FPI.

Ada juga yang tidak Gaptek, dan tidak juga "tanggung", tapi masih "mangkel" dadanya dengan FPI, untuk jenis yang satu ini, saya tidak berani berspekulasi menjawabnya, biarlah para pembaca yang "mengasah otak" untuk menjawab kenapa jenis yang satu ini tetap "alergi" dengan FPI. Saya cuma mau bertanya, "emang rezeki situ berkurang kalau ada FPI ?".

Kirannya "curhatan" ini dapat memberikan gambaran terhadap yang kebetulan membacanya, mengenai tipe-tipe individual yang terjangkit virus "FPI Phobia".

  • view 88