SHOLAWAT UNTUK INDONESIA (Sejarah Sholawat Betawiyin)

Zainal Hakim
Karya Zainal Hakim Kategori Agama
dipublikasikan 05 Februari 2017
SHOLAWAT UNTUK INDONESIA (Sejarah Sholawat Betawiyin)

SHOLAWAT UNTUK INDONESIA (Sejarah Sholawat Betawiyyin)

==========================================#islamborneo #sholawatuntukdamaiindonesiaku #zainalhakim

Artinya: "Ya Allah curahkanlah sholawat (rahmat) kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, dan sibukkan orang-orang zalim dengan orang-orang zalim lainnya, dan keluarkanlah kami dari kungkungan mereka (orang-orang yang zalim) dengan selamat. Semoga sholawat juga tercurahkan pula kepada keluarga, para sahabatnya semua”.

Demikian arti dari Sholawat yang populer pada tahun 70 hingga 90an ini dinisbahkan kepada al-Habīb Ahmad ibn 'Umar al-Hindwān, karena terdapat di dalam kitab karangan Beliau yang berjudul al-Kawākib al-Mudhī'ah fī Zhikr al-Shalāh 'alā Khair al-Bariyah, dengan Musalsal kepada beliau sebagai berikut:

Sulthān al-'Ulamā' al-Habīb Sālim ibn 'Abdullāh ibn 'Umar al-Syāthirī al-Tarīmī,

Dari al-'Allāmah al-Sayyid Musthafā ibn Ahmad al-Muhdhār,

Dari al-Imām al-Akbar al-'Ārif al-Asyhar al-Sayyid 'Aidrūs ibn 'Umar ibn 'Aidrūs al-Habsyī,

Dari al-'Allāmah al-Musnid al-Syaikh 'Abdullāh ibn Ahmad Bāsūdān al-Hadhramī,

Dari al-Sayyid al-Imām Hāmid ibn 'Umar Hāmid Bā'alawī al-Tarīmī,

Dari al-Imām Ahmad ibn 'Umar al-Hindwān.Lihat (http://yayasanalmuafah.blogspot.co.id/2013/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_26.html?m=1 ).

Sholawat ini dikenal dengan beberapa nama, diantaranya:

Sholawat Betawiyyin, karena yang pertama kali Shalawat ini dipopulerkan di Indonesia melalui pemancar radio milik Yayasan Pesantren As-Syafi’iyyah yang diasuh ulama besar Betawi, almarhum KH Abdullah Syafi’i (wafat 1406 H).

Sholawat ini dibawakan dengan nada yang sangat menyentuh hati, indah didengar dan terasa sejuk di hati pembaca dan pendengarnya. Abuya K.H Saifuddin Amsir, Ulama kharismatik NU pendiri Pondok Pesantren al-Asyirah al-Qur’aniyah Jakarta, memasukan sholawat ini menjadi salah satu menu utama dari Zhikir-zhikir Istighotsah.

Sholawat Asyghil, karena dalam redaksi Sholawat ini terdapat kata "Asyghil" yang artinya sibukkanlah. Konon, susunan Sholawat berisi doa ini kerap dipanjatkan oleh al-Imām Ja’far al-Shādiq (wafat 138 H), salah seorang tonggak keilmuan dan spiritualitas umat di awal masa keemasan Umat Islam.

Beliau hidup di akhir masa Dinasti Umawiyyah dan awal era Abbasiyyah yang penuh intrik dan konflik politik. Bagi beliau, kekacauan politik tak boleh sampai mengganggu proses pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Saat itu, ilmu pengobatan, geografi, astronomi, kimia, sastra, mulai berkembang dan diminati. Maka di setiap Qunut, beliau berdo'a sebagaimana do'a yang ada dalam redaksi Sholawat di atas, yaitu: 

"Allāhumma Asyghil al-Zhālimīn bi al-Zhālimīn wa Akhrijnā min bainihim Sālimīn". 

(Ya Allah, sibukkan orang-orang zhalim dengan orang-orang zalim lainnya, dan keluarkan kami dari kungkungan mereka dengan keadaan selamat). Lihat (https://mobile.facebook.com/groups/1505812846304936?view=permalink&id=1937048929847990&refid=18&_ft_=qid.6383261262073261283%3Amf_story_key.1937048929847990%3Atop_level_post_id.1937048929847990%3Atl_objid.1937048929847990&__tn__=%2As).

Ada juga yang menyebutnya denga nama Sholawat Zhalimin, Sholawat Salimin, Sholawat Sibuk, Shalawat Mlipir, dan lain-lain.

Pada satu kesempatan Prof. K.H. Ali Yafie pernah ditanya, apa yang beliau ketahui tentang Shoalawat ini. Menurut beliau, salawat itulah yang digelorakan oleh Ulama-ulama Shūfī dunia Arab khususnya Iraq tatkala Iraq diluluhlantakan oleh pasukan Mongol Hulagu Khan.

Sejarah mencatat, pada tahun 1258M, lebih dari 200 ribu tentara Mongol menyerbu Iraq serta menumbangkan kekuasaan Bani Abbasiyyah, bahkan khalifahnya yaitu Al-Mus’tasim dipenggal kepalanya.

Mengerikan sekali. Bukan hanya istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri, semua buku-buku perpustakaan terbesar di dunia, dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Tigris, sampai-sampai air sungai berwarna hitam oleh tintanya.

Praktis pada masa itu Asia Tengah dikuasai Mongol  dan tentara Islam hancur. Di saat seperti itulah bangkit para pahlawan Tasawuf. Mereka mengorganisir kelompok-kelompok gerilyawan dan bersama Pasukan Mameluk dari Mesir, hingga berhasil membendung ekspansi Pasukan Mongol, bahkan untuk pertama kalinya mengalahkan mereka dalam pertempuran dahsyat yang dikenal sebagai Pertempuran Ain Jalut di Palestina pada 3 September 1260.

Sungguh Allah Maha Adil, Hulagu Khan yang menghancurkan kekhalifahan Islam dan kemudian mendirikan Dinasti Ilkhan, sang cucu Ahmad Teguder, yang menjadi raja ke-3 dinasti tersebut, justru memeluk Islam, sayang sekali ia hanya berkuasa selama dua tahun (1282-1284) karena dibunuh oleh saudaranya.

Alhamdulillah, Raja ke-7 yaitu Ghazan (1295-1304), memeluk Islam menjadi Mahmud Ghazan. Mulai periode kekuasaannyalah, posisi umat Islam kembali memperoleh keleluasaan, dan peradaban Islam dibangun kembali meski harus mulai dari nol lagi.

Dalam masa-masa kritis seperti itu, tatkala kekuatan militer secara formal tidak berfungsi, para pahlawan sufi tidak berpangku tangan, tapi terjun langsung ke masyarakat mengorganisir serta menggelorakan semangat juang sambil mengumandangkan shalawat ini. Lihat(http://www.almuhibbin.com/2016/02/sholawat-betawiyyin-suara-penyejuk-qolbu.html?m=1 ).

Spirit dari redaksi Sholawat dan latar belakang kisahnya "klop" dengan kondisi Indonesia dewasa ini, orang-orang zhalim biarlah mereka bertarung dengan sesamanya, jangan sampai Umat dan para Ulama menjadi korban mereka, seperti kata pepatah "Gajah Bertarung Sama Gajah Pelanduk Mati Di Tengah-Tengah".

Dilihat 1.3 K