NU yang "Sepuh"

Zainal Hakim
Karya Zainal Hakim Kategori Agama
dipublikasikan 31 Januari 2017
NU yang

NU YANG "SEPUH"

==========================================#ZAINALHAKIM #HARLAHNUKE91 #ISLAMBORNEO

Mengutip pendapat Ibn al-Jauzī, al-Habīb 'Abdullāh al-Haddād menjelaskan dalam kitabnya Sabīl al-Iddikār wa al-I'itibār, bahwa umur manusia terbagi kepada lima fase (Khamsah Mawāsim):

#Pertama, al-Shabā (fase kanak-kanak), yaitu dari hari lahirnya sampai usia 15 tahun (umur balīgh).

#Kedua, al-Syabāb (masih muda), yaitu dari umur 15 tahun sampai umur 35 tahun.

#Ketiga, al-Kuhūlah (dewasa dan matang), yaitu dari umur 35 tahun hingga umur 50 tahun.

#Keempat, al-Syaikhūkhah (tua), yaitu dari umur 50 tahun hingga 70 tahun.

#Kelima, al-Kibar (Sepuh, sangat tua, dan lanjut usia), yaitu setelah umur 70 tahun sampai ajal menjemputnya.

Kutipan diatas adalah bahan "I'itibār" untuk renungan mendalam, bahwa Sunnatullāh itu berlaku, sekali-kali tidak akan ditemui perubahan dan pergantian didalamnya (Q.S.al-Ahzāb:62, Q.S.Fāthir:43). Sunnatullāh tersebut adalah Sunnatullāh fī Taghayyurāt wa Tahawwulāt, bahwa segala sesuatu itu pasti berubah dan berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.

Yang lahir akan tumbuh berkembang hingga sampai kepada kedewasaan, kemapanan, dan kesempurnaan, lalu akan berkurang sedikit demi sedikit, melemah dari waktu-kewaktu hingga datanglah ajalnya (batas waktu) yang sedikit pun tidak bisa direkayasa untuk dimaju mundurkan (Q.S.al-A'arāf:34).

Nahdlatul Ulama (NU) sudah berumur 91 tahun, umur yang sudah tidak muda memang jika Mi'yārnya/timbangannya  adalah fase umur manusia yang telah disebutkan. NU sudah sangat "Sepuh" (lanjut usia, Arab: Kibar al-Sinn). Yang lanjut usia tentunya dimaklumi jika semangatnya sudah tidak semenggebu-gebu yang muda-muda dan tidak sekritis dulu ketika masih muda, namun bukan berarti yang sudah "Sepuh" tidak punya kontribusi sama sekali.

Yang "Sepuh" Karena sudah lama mencicipi "asam garam" perjuangan tentunya lebih berpengalaman dan bijak, oleh karena itu wajar jika yang "Sepuh" selalu memberi nasehat-nasehat dan petuah-petuah yang "menyejukkan" kepada yang masih muda-muda. 

Menjadi tidak wajar, kalau misalnya yang "Sepuh" bukannya menasehati dan mengarahkan yang muda-muda, malah sibuk menyalahkan dan memojokkan yang muda-muda, karena merasa tersaingi dengan keberadaan yang muda-muda. Bagaimana pun yang sudah "Sepuh" pasti lebih "bertuah" dari yang muda-muda sekalipun mungkin kepopulerannya mulai disaingi oleh yang muda-muda. 

Melalu Hadits Qudsī Allah menerangkan betapa "bertuah"nya yang sudah "Sepuh", Ia berfirman: "Demi kemuliaan dan kebesaranku, jikalau tidak  Karena si "Sepuh" yang bermunajat, Bayi-bayi yang menyusu kepada Ibunya, dan Hewan ternak yang mencari makan di padang rumput, maka sungguh Aku akan tenggelamkan Bumi ini dan Ku tahan Hujan turun dari Langit ke Bumi".

Yang "Sepuh" itu lebih Mustajab do'anya, oleh karena itu biarkan yang muda-muda bergerak dan yang "Sepuh" ambil bagian bermunajat kepada Allah agar perjuangan yang muda-muda ini mendapat Nashr minallāh (pertolongan dari Allah). 

NU wajar kiranya mengambil bagian dalam perjuangaan layaknya orang yang sudah "Sepuh", karena memang sudah berumur. Namun harapan dari yang muda-muda, jangan sampai NU menjadi "Sepuh" yang sampai kepada Arzhal al-'Umur (sehina-hina umur, baca: Q.S.al-Nahl: 70), karena saking tuanya hingga menjadi "pikun" dan "latah", kasian kalau yang muda-muda harus "merawat" yang sudah "pikun" dan "latah". 

Pada Harlah NU yang ke-91, teriring harapan Umat kepada benteng Aswaja di bumi Indonesia (baca:NU), Tetaplah menjadi "Sepuh" yang mendo'akan untuk perjuangan yang muda-muda, jangan menjadi "Pikun" dan "Latah".

  • view 78