BERBEDA KARENA MENJAWAB DENGAN LOGIKA

Zainal Hakim
Karya Zainal Hakim Kategori Agama
dipublikasikan 30 Januari 2017
BERBEDA KARENA MENJAWAB DENGAN LOGIKA

BERBEDA KARENA MENJAWAB DENGAN LOGIKA

وإن العالم ليستغفر له من في السماوات و الارض حتى الحيتان في جوف الماء

"Segala yang ada dilangit dan bumi beristighfār (memintakan ampun) kepada si "Ālim", sampai-sampai ikan-ikan di dalam air juga ikut beristighfār kepadanya" (al-Hadīts)

Yang paling muda diantara kami, namun terpandai dalam soal membaca kitab "kuning" nyeletuk bertanya kepada "mu'allim" yang membacakan kitab "Bidāyatul Hidāyah" karangan Hujjatul Islām al-Ghazālī kepada kami, ia bertanya, "Guru, kenapa dalam redaksi tersebut yang disebut khusus adalah ikan-ikan (al-Hītān), bukan binatang yang lain?".

Kami yang mendengar pertanyaan itu, menoleh satu sama lain, mungkin hati kami sama-sama bergumam, "kritis banget, sampai hal yang sekecil dan seteliti (diqqah) itu ditanyakan". Namun saya kemudian tersadar, "wajar yang muda yang sering bertanya dan kritis, karen masih muda, dan seharusnya lah yang muda yang kritis bertanya. Kalau yang sudah berumur wajar juga kalau babnya "ngangguk-ngangguk". Kata saya dalam hati.

Mu'allim (Guru) kami juga tak kalah arifnya, beliau balik bertanya kepada kami, beliau berkata, "Ustadz Zainal, kira-kira kenapa jadi "ikan-ikan" yang khusus disebut memintakan ampun kepada orang "Ālim", bukan binatang yang lain?". Saya yang mendapat pertanyaan itu menoleh keteman-teman yang lain, berharap ada "syafā'at" dari mereka.

Namun nampaknya tak ada "syafā'at" dari mereka untuk menjawab pertanyaan kali ini. Saya berkata pada Mu'allim, "kalau jawabannya pakai akal, boleh engga?", sambil "nyengir". Beliau mengangguk, isyarat mempersilahkan.

Jawaban saya kenapa "ikan-ikan" yang disebut khusus, karena "ikan itu binatang yang paling halal, jadi do'a ikan paling mustajab dibanding binatang lain". Sontak kawan-kawan lain tertawa mendengar jawaban saya yang "koplak".

Saya kembali berbicara, "coba antum perhatikan ikan, ikan itu paling halal dimakan, kita bandingkan saja dengan bintang lain yang halal dimakan seperti sapi misalnya, sapi memang halal dimakan, tapi masih berkemungkinan haram dagingnya untuk dimakan, jika disembelih dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan penyembelehan yang Syar'i. Oleh karena itu wajar ikan yang disebut, karena paling halal lalu paling mustajab do'anya, sampai bingkainya aja halal.

Kawan-kawan yang lain ngangguk-ngangguk dengan jawaban yang nampak logis dari saya. Setelah itu saya bertanya balik dengan Mu'allim kami yang dari tadi "senyam-senyum" mendengar jawaban saya, beliau menjawab kenapa ikan yang khusus disebut khusus, karena banyaknya (li katsratihā) jumlah ikan dibanding binatang-bintang lain, kata beliau. "Waduh, kok pendek betul jawabannya, tapi masuk akal juga sih", kata saya dalam hati. 

Ada kesimpulan yang mendalam yang saya ambil dari "tanya jawab" diatas. Bahwa, orang itu beda-beda ketika menggunakan akal dalam berlogika, ada yang suka berlogika "mutar-mutar", ada juga yang berlogika "sederhana". Dan jika pertanyaan diserahkan jawabannya kepada "akal", maka jawabannya akan beragam (baca:tanauwwu'), bahkan kontradiktif (baca: ikhtilāf).

  • view 108