Aku Tidak Menyerah untuk hidupku

Sovia Ustman
Karya Sovia Ustman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Agustus 2017
Aku Tidak Menyerah untuk hidupku

Membaca dan menulis bagiku adalah teman paling manis dalam kesepian. Apapun penyebabnya, aq terlanjur menjadi wanita introverts dan lonely sepanjang hidupku. Entah sampai kapan aku tidak pernah tau, hanya sebuah harapan yang masih selalu bergelayut manja. Berharap ada yang akan datang tuk temani hari-hariku dan menyingkirkan seluruh kesepian ini.

Pagi ini, untuk kesekian kalinya aq masih betah membaca tulisan penulis laki-laki itu, meski sudah berkali-kali membacanya tapi ada banyak hal yang masih aku cari dalam tulisannya. Isinya menjadi bahan yang sangat berguna bagiku. Berguna untuk menyadarkan diriku sendiri bahwa semua ini sudah tidak normal. Berusaha menyadarkan diriku bahwa aku sudah lama berhenti dan menghentikan dunia ku sendiri. Aq jahat terhadap diriku sendiri, aq membiarkan dia menyakitiku. Semua orang meneriaki ku bodoh, tapi aq tak percaya kalau aku bodoh memilih kadaan ini. Aku masih harus berusaha dan berjuang mempertahankan pernikahan meski jiwa ku jadi taruhannya. 

Dan tulisan itu kembali memberi satu untaian cerita panjang bagiku, tentang hidupku dan jalan berliku yang pelik. Laki-laki penulis itu yang kini bisa dibilang sukses ternyata pernah merasa kalah dengan kadaan. Padahal ia masih punya uang 20 rb dalam kantongnya dan 130 rb dalam tabungannya. Bahkan dalam waktu 1 minggu lagi ia akan menerima gajinya sebagai PNS. Aq tersentak. Ia yang seperti ini kadaannya pernah merasa kalah, sedangkan aku yang tak pernah merasa kalah dengan hidup yang jauh lebih pelik, sampai kini tidak juga merasa menang. Dimana letak kesalahanku. 

Berkali-kali kucoba berfikir lebih dalam. Aq tak pernah merasa kalah dengan kadaan hidup. Uang yang sedikit bahkan kadang tidak ada, hutang yang belum usai terbayarkan, dan masa depan yang entah bagaimana kadaannya. Rasa takut menghadapi hidup sorang diri, berfikir sendiri dan memeluk sepi tanpa dia yang seharusnya jadi tempat berbagi, tempat bersandar dan tempat curahan sorang istri. Entah kenapa aku masih saja mempertahankan kadaan ini, hidup seorang diri merajut hari sepi tanpa kepastian yang berarti. kepastian untuk bisa hidup bersama dengan suamiku dan anak-anak. Entah apa alasanmu sebenarnya, aku pun tak tahu pasti. Hanya menuruti saja kadaan yang telah lama engkau ciptakan dalam pernikahan ini. Sepi ini benar-benar telah menyiksa dan mebunuhku.

Aku tak pernah kalah oleh pelik dan susahnya hidup, tapi aku kalah dengan mempertahankan pernikahan yang menyiksaku seumur pernikahan ini. Mempertahankan yang tidak jelas tujuannya. Mempertahankan ketidakpastian yang membingungkan dan hari-hariku terasa sakit tak berarti. Ini lebih buruk dari kadaan manapun. Senyum dia selalu lebar dimedia, berkiprah dibanyak organisasi dan lembaga. Mobil yang dikendarai juga terlibat elegan dan nyaman. Tapi ada 1 hati yang lama ia cuaikan. Ia biarkan memudar dan patah tercabik perlahan-lahan. Waktu berputar tergores luka yang menganga. Bahkan aku terkapar tak berdaya. Aku harus kehilangan diriku sendiri demi mempertahankan pernikahan yang malah membuatku mati. 

Aku tahu, sikap dan perbuatannyalah yang telah banyak menghambat karir nya sendiri. Berkarir, berjuang untuk masa depan tapi dengan menyampingkan keluarga adalah keputusan yang sangat salah. Kau telah memilih cara yang salah. Kau tidak hanya menyakitiku tapi juga anak-anak. Kau tidak akan menjadi sukses dengan melukai kluargamu sendiri. Membiarkan Istri menangis menanggung hidup dan mmebesarkan anak-anak sorang diri. Tiada guna suami jika dinding kamar yang selalu kujumpai. Hidup tidaklah hanya terfocus pada uang. Bahkan uang, harta tidak akan diraih bila kita membiarkan kluarga tergadaikan.

Tulisan penulis laki-laki itu menyadarkan aku untuk merani memilih. Berani berjuang demi hidup yang lebih baik. Bahwa pasangan memang seharusnya menjadi orang yang menopang hati kita untuk kuat bertarung, bukan malah menghancurkan diri kita secara perlahan. Bila kadaan tidak bisa kita rubah. Bila pasangan tidak bisa kita ajak untuk hidup normal, maka kita sendiri yang harus bangkit. Memohon pertolongan Allah untuk bangkit dan sembuhkan diri agar bisa memanfaatkan setiap detik waktu untuk kebaikan yang lebih baik. Agar hati bebas tersenyum. Harus bisa memilih mana yang banyak manfaat dan mudhorat meski ke duanya pelik, namun kaki harus melangkah dan hidup harus berubah kearah yang lebih baik. Allahu 'ala kullihal. 

 

  • view 58

  • Ikhsan Baehaqi
    Ikhsan Baehaqi
    2 bulan yang lalu.
    jatuh cinta itu mudah kak, menikah juga , yang sulit itu mempertahankannya

    • Lihat 1 Respon