Menyoal LGBT dan Perkawinan Sejenis: Tanggapan atas Mun’im Sirry

Zain Maulana
Karya Zain Maulana Kategori Agama
dipublikasikan 26 Februari 2016
Menyoal LGBT dan Perkawinan Sejenis: Tanggapan atas Mun’im Sirry

Menyoal LGBT dan Perkawinan Sejenis:

Tanggapan atas Mun?im Sirry

Tulisan ini bermasud untuk menanggapi tulisan Mun?im Sirry yang berjudul Islam, LGBT dan Perkawinan Sejenis dengan menyoroti dua gagasan utama yang menjadi basis argumennya, yaitu konsep tentang ?mono-prophetic? (kenabian tunggal) dan prinsip maslahat. Melalui upaya penafsiran ulang atas kisah kaum Nabi Luth yang di azab oleh Allah, Mun?im berpandangan bahwa perkawinan sejenis tidaklah secara tegas dilarang oleh Agama (dalam hal ini Islam), sehingga sebaiknya perkawinan sejenis diperbolehkan dan dilegalkan atas dasar pertimbangan maslahat.

??????????? Dalam gagasannya mengenai ?mono-prophetic? Mun?im mendefinisikan misi kenabian sebagai sebuah paradigma dimana di dalam misi-misi yang dibawa oleh para Nabi memiliki pola yang sama yaitu diutus kepada suatu kaum untuk memberi peringatan, ditolak oleh sebagain kaum dan Allah menurunkan azab. Dengan demikian, meskipun ada banyak nama nabi disebut dalam Al-Quran, tapi sesungguhnya ia satu sosok dengan pola misi kenabian yang sama.

??????????? Saya setuju sepenuhnya dengan argumen bahwa semua Nabi dan Rasul yang disebut dalam Al-Quran memiliki pola misi kenabian yang sama yang kemudian disebut Mun?im sebagai paradigma Al-Quran mengenai misi kenabian. Namun demikian, dalam penjelasannya, Mun?im mencoba melepaskan aspek historis? (nama, waktu, tempat dan peristiwa tertentu) dari pola tersebut dengen mengedepankan ?moral story? dari kisah kenabian. Dengan kata lain, nilai moral dari ?mono-prophetic? sebaiknya dilepaskan dari aspek historisnya agar moral story dari misi kenabian dapat dipahami dan menjadi relevan.

??????????? Namun demikian, nilai moral dan aspek historis merupakan entitas yang tidak bisa dipisahkan dalam memahami misi kenabian. Setiap Nabi dan Rasul mengemban misi kenabian dalam sebuah lingkup historis tertentu. Misalnya, Musa dan kenabiannya tidak bisa dipisahkan dari setting sejarah (historical setting) kaum Bani Israil, Firaun, laut merah dan berbagai simbol lainnya yang menjadikannya sebuah cerita utuh tentang Musa dan misi kenabiannya. Begitupula dengan nabi Luth dan misi profetiknya. Ada nilai moral yang bersifat universal yang dibawa oleh Nabi Luth, namun sekaligus erat kaitannya dengan setting sejarah masyarakat pada masa itu. Dalam hal ini, tentu saja azab terhadap kaum nabi Luth terkait erat dengan praktik sodomi yang dilakukan oleh sebagain masyarakatnya, terlepas dari penafsiran apakah sodomi yang dimaksud adalah sodomi dalam pengertian secara literlek atau sodomi dalam konteks zina dan pemerkosaan. Dalam Al-Quran, kisah tentang perilaku sodomi secara khusus diceritakan dalam setting sejarah misi kenabian nabi Luth, sedangkan zina dan pemerkosaan diceritakan dalam banyak setting sejarah Nabi dan Rasul lainnya.

?

Perkawinan Sejenis: Tinjauan Kemaslahatan

Dengan bersandarkan pada gagasan moral story dari misi kenabian, Mun?im berpandangan bahwa perkawinan sejenis sebaiknya diakui melalui pengaturan secara legal untuk menjamin kemaslahatan dan priviliges kaum LGBT, meskipun Mun?im tidak merinci argumennya mengenai hal ini (karena keterbatasan ruang media dan juga waktu sehingga beliau belum merinci argumen tersebut). Secara konseptual, maslahat mengandung unsur dalam dirinya prinsip kebaikan atau manfaat dan penghindaran segala sesuatu dari terjadinya mudharat atau kerusakan. Berbeda dengan Mun?im, saya berpandangan bahwa justru pelembagaan perkawinan sejenis akan membawa lebih banyak mudharat daripada maslahat.?

??????????? Patut disadari bahwa praktik hubungan sejenis terjadi di banyak tempat. Wacana untuk melegalkan perkawinan sejenis semakin menguat yang dibawa oleh para pelaku LGBT maupun mereka yang mendukung praktik tersebut atau yang mengatasnamakan pelindungan terhadap hak asasi. Menanggapi hal ini, pada dasarnya wacana untuk melegalkan perkawinan sejenis berarti ia terikat dengan ?ruang? otoritas tertentu yang bisa didefinisikan sebagai sebuah wilayah berupa negara atau struktur sosial masyarakat tertentu. Oleh karena itu, wacana pelegalan perkawinan sejenis secara konseptual maupun legal-praktis terikat dengan ruang-ruang tersebut.

??????????? Upaya untuk melegalkan perkawinan sejenis bisa jadi menimbulkan kontroversi antara yang pro dan kontra, tetapi yang pasti pelegalan tersebut tidak bisa dilakukan secara universal karena adanya sekat-sekat ruang tersebut. Pelegalan perkawinan sejenis yang dilakukan di Amerika Serikat tidak bisa serta merta diterapkan di tempat lain misalnya seperti Indonesia karena ia bisa jadi bertentangan dengan norma sosial-agama dan aturan legal yang berlaku. Jadi terkait dengan prinsip maslahat, penilaian suatu perkara apakah ia membawa maslahat atau sebaliknya haruslah mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku di ?ruang? yang melingkupi dimana perkara itu akan diterapkan.

??????????? Selain persoalan diatas, pelegalan perkawinan sejenis berarti memberikan insentif bagi munculnya moral hazard untuk meniru dan berperilaku seperti kaum LGBT. Artinya orang yang punya kecenderungan menyukai sesama jenis akan terus mengikuti hasratnya karena adanya fasilitas yang menjamin perkawinan sesama jenis.

Lebih dari itu, perkawinan sejenis dapat mengancam tatanan kehidupan manusia di berbagai aspek. Tidak bisa dipungkiri bahwa kaum LGBT juga punya keinginan memiliki anak dalam hubungan mereka. Beberapa pelaku LGBT yang pernah saya temui di Leeds, Inggris mereka umumnya memiliki anak, salah satu dari mereka bahkan pernah berujar, sambil menunjuk anaknya, she has two mommies. Oleh karena hubungan sesama jenis tidak bisa melakukan proses reproduksi secara alami, maka pilihannya adalah adopsi anak atau donor sperma (umumnya bagi pasangan lesbian) atau surrogate mother (bagi pasangan gay).

Pilihan adopsi, donor sperma maupun surrogate mother ?memiliki resiko tinggi baik dari sisi medis maupun sosial-agama. Secara simultan dan jangka panjang, semua alternatif tersebut berpotensi mengakibatkan terjadinya incest (perkawinan sedarah). Akibatnya, anak yang dilahirkan dari perkawinan ini memiliki resiko lebih besar untuk menderita kelainan genetik. Selain itu, dalam islam, perkawinan sejenis akan merusak nasab, sistem perwalian, persoalan waris dan lainnya. Oleh karen itu, berdasarkan prinsip maslahat, maka perkawinan sejenis tidak mendatangkan manfaat melainkan sebaliknya mudharat.

?

Zain maulana?

Ketua PCI Muhammadiyah United Kingdom

?