House of The Unsilenced (Rumah Tak Terbungkam)

Zahrotun Nafisah
Karya Zahrotun Nafisah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 September 2018
House of The Unsilenced (Rumah Tak Terbungkam)

 

Perempuan. Sejak dulu aku selalu kagum pada perempuan. Meski dianggap sebagai kaum yang emosional (mudah tersentuh emosinya: sedih, marah, kecewa dan gembira). Pagi menangis, siang kembali tersenyum. Malam tenang, paginya mungkin akan disambut dengan amarah. Begitulah. Tapi betapa kuatnya hati saat menghadapi apa-apa yang terjadi pada mereka. Sempat terjatuh namun setelah itu bangkit lagi, merangkai mimpi lagi dan akan merangkul orang-orang yang senasib dengannya.
1 September 2018 sepanjang malam itu hatiku patah, remuk, campur kagum sebab mendengarkan perempuan-perempuan yang berani menceritakan masa lalunya yang kelam meski harus sembari tersengguk-sengguk menahan tangis. Mereka butuh didengarkan, dirangkul dan dipeluk. Acara ini bertempat di Museum Cemara 6 yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Ajang seni tersebut bernama House of The Unsilenced yang digagas oleh Eliza Vitri Handayani. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para penyintas dari kalangan perempuan yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Para partisipanpun berasal dari berbagai kota. Di ajang seni ini mereka menyalurkan bakat dan kemampuan mereka seperti melukis, menulis puisi, bernyanyi dan kreasi tangan. Beberapa hasil karya mereka dipajang pada acara pameran tersebut.
Saya melihat beberapa karya yang mereka lahirkan. Ah, karya-karya mereka benar-benar mewakili apa yang mereka alami. Salah satunya adalah sebuah lukisan yang menggambarkan perempuan yang menjadi korban pemerkosaan.

 

Hingga pada acara terakhir open mic dan teater yang dimulai pada jam 18.30 WIB. Yaitu pembacaan narasi oleh para korban atau teman korban yang pernah mengalami kekerasan dan pelecehan seksual juga tampilan paduan suara dari para wanita yang pernah menjadi korban Genosida (pembantaian yang terjadi pada era pemerintahan Soeharto kepada orang-orang yang terduga terlibat PKI) tahun 1965. Ada juga penampilan pembacaan puisi dan deklamasi.

Hal yang membuat malam saya pada saat itu menjadi tegang dan berkecamuk adalah karena mendengar pembacaan narasi dari para korban kekerasan. Mereka menceritakan dengan jujur dan apa adanya. Salah satunya adalah cerita dari seorang santri yang pernah mengalami pemerkosaan oleh salah seorang pengurus atau pembina pondok. Namun saat salah satu temannya yang hendak memperjuangkan keadilan dan menuntut hukuman kepada pelaku malah justru mendapat fitnah dan kecaman dari pelaku. Teman-teman santri tau mengenai kejadian tersebut namun mereka memilih diam dan tidak berani bertindak apa-apa. Korban dan temannya menjadi dikucilkan dan terus diancam bahkan difitnah terlibat dalam gerakan ISIS (Islamic State Iran and Shiria). Hingga saat ini teman korban tetap memperjuangkan keadilan untuk menuntut balasan hukuman kepada pelaku.
Cerita lainnya adalah seorang perempuan yang berasal dari Jogja menceritakan sahabatnya yang menjadi korban kekerasan. Bernama Sarah, seorang perempuan miskin yang memiliki Ayah penderita Tunanetra. Setelah lulus SMA Sarah berencana untuk bekerja, merantau ke Bandung. Sarah mengenal seseorang di desanya yang menjadi penyalur tenaga kerja ke Bandung. Namun Ayahnya tak menyetujui. Sarah tetap nekat dan mendaftar kepada penyalur tersebut. Hingga pada akhirnya petaka justru menghampiri hidupnya. Beberapa hari kemudian Sarah menghilang. Upaya pencarianpun dilakukan hingga kepada pihak yang berwajib namun tak direspon dengan baik bahkan aparat polisi dengan enteng menjawab, “nanti kalo ada kabar dari Sarah saya kabarkan.” Ternyata mereka tak bisa diandalkan. Singkat cerita kepergian Sarah sudah berlangsung selama 11 tahun. Pada hari itu tiba kepolisian mengabarkan telah menemukan jasad Sarah, ia meninggal. Menurut hasil otopsi Sarah disekap selama itu dan tak diberi makan hingga badannya kurus kering. Hingga saat ini sahabatnya yang menjadi pembaca narasi Sarah terus memperjuangkan keadilan demi Sarah.


Itulah beberapa cerita yang disampaikan tentang kekerasan dan pelecehan seksual. Masih banyak lagi cerita-cerita lainnya.
Kita tahu bahwa masyarakat belum banyak yang tergerak untuk memperjuangkan keadilan orang lain. Itulah yang sangat disayangkan. Mereka lebih memilih bungkam, mencari aman dan tidak peduli. Bahkan tak sedikit yang memberi stigma buruk terhadap korban. Hingga korban tak berani memperjuangkan hak mereka, tak berani sekedar bercerita dan merasa dikucilkan. Mereka merasa sendirian. House of The Unsilenced akhirnya menjadi wadah mereka untuk berbagi dan menyalurkannya lewat karya seni. Jika kita mau membuka mata sebenarnya banyak sekali peristiwa tersebut yang sudah terjadi.
Kini mereka bangkit. Mereka kembali berani bermimpi dan menatap masa depan. Mereka kembali menyambut cinta dan kebahagiaan. Terima kasih untuk para perempuan kuat yang menginspirasi.

 

  • view 84