Perjalanan Penuh Cerita

Perjalanan Penuh Cerita

Zahrotun Nafisah
Karya Zahrotun Nafisah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Januari 2018
Perjalanan Penuh Cerita

Perjalanan Penuh Cerita (1)
Versi Pondok Ranji-Pasar Senen

     Perjalanan selalu memiliki cerita dzan pengalaman yang berbeda. Tapi ini tidak berlaku bagi kamu yang hanya tidur sepanjang perjalanan. Sejak usia 13 tahun, tepatnya ketika aku duduk di kelas 2 Tsanawiyah aku sudah dibiarkan oleh Bapak melakukan perjalanan jauh. Perjalanan jauh pertama kali yang kulakukan sendirian adalah perjalanan menuju kota Bandar Lampung untuk mengunjungi Mama dan Adikku. Ya, waktu itu Bapak dan Mama memang sudah berpisah. Bermula dari situ aku sudah terbiasa berani melakukan perjalanan jauh.
     Liburan semester 3 kali ini yang hanya dua minggu, kusempatkan untuk mengunjungi kampung halaman Almarhum Bapak untuk ziarah ke makam beliau dan silaturahmi dengan keluarga. Menggunakan kereta Tegal Express yang berangkat pada pukul 07.35 WIB dari stasiun Pasar Senen. Demi menuju stasiun Pasar Senen aku menggunakan  layanan Kereta Commuter Line. Setelah sholat shubuh aku sudah berangkat menuju stasiun Pondok Ranji. Setelah sampai ternyata belum ada petugas yang menjaga. Akhirnya aku membeli tiket melalui mesin. Ternyata kereta menuju stasiun Tanah Abang belum tersedia. Tapi menurut penuturan seorang ibu yang duduk di sebelahku, biasanya kereta pertama akan meluncur pada pukul sekitar 05.15. Sembari menunggu akhirnya kami berbincang.
     Mulanya aku bertanya tujuan perjalanan ibu tersebut. Beliau mengatakan bahwa beliau adalah seorang guru di sekolah Katolik. Setiap pagi buta begini, dia harus sudah sampai di stasiun Pondok Ranji agar tidak terlambat menuju sekolah. Aku jadi terenyuh dengan perjuangan seorang guru, apalagi perempuan. Aku yakin, yang mereka urusi bukan hanya murid-muridnya di sekolah. Tapi juga anak-anaknya dan suaminya di rumah. Setiap pagi pasti mereka harus menyiapkan sarapan dan membereskan rumah. Meskipun memiliki asisten rumah tangga tetap saja seorang perempuan selalu sibuk tiap pagi di dapur. Setelah itu  sudah harus berangkat menuju sekolah untuk mengajar. Apalagi bekerja dan tinggal di ibukota harus siap berkutat dengan kemacetan.
     Akhirnya kereta pertama sampai. Ternyata di dalam kereta sudah banyak penumpang yang hendak berangkat kerja. Aku tidak membayangkan betapa lelahnya orang-orang yang tinggal di kota. Setiap pagi begini mereka harus meninggalkan rumah dan pulang sore hari bahkan hingga larut malam. Kemudian istirahat dan besok bertemu dengan pagi lagi. Begitulah setiap hari. Bagiku itu akan terasa sangat membosankan. Hari yang begitu padat dengan kegiatan yang sama.
     Perjalanan menuju stasiun Pasar Senen berjalan lancar. Dari stasiun Tanah Abang aku langsung pindah ke kereta menuju stasiun Jatinegara yang akan melewati stasiun Pasar Senen. Karena kereta tidak berhenti di Pasar Senen akhirnya aku turun di Stasiun Gang Sentiong dan mengambil kereta dari arah Jatinegara menuju Stasiun Senen. Sembari menunggu aku berbincang dengan seorang Ibu paruh baya, berusia 56 tahun (melalui penuturannya sendiri saat kami berbincang) yang duduk di sebelahku. Tapi hebatnya, tubuhnya masih terlihat kuat. Beliau dengan ramah bertanya-tanya terutama tentang kuliahku.
Setelah itu beliau bercerita tentang keempat anaknya yang beliau nafkahi sendiri semenjak suaminya meninggal 32 tahun yang lalu. Itu berarti beliau menjanda dan tidak menikah lagi sejak usia 26 tahun. Deg, aku terenyuh. Tidak membayangkan membesarkan empat orang anak seorang diri. Hebatnya lagi keempat anaknya berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Meski biaya kuliah ditanggung sendiri oleh masing-masing anaknya yang disambi bekerja itu tetaplah hal yang hebat karena beliau menanamkan prinsip pendidikan tetaplah penting. Kemiskinan bukanlah penghalang untuk menjadi cerdas.
      Saat ini di usianya yang ke-56 tahun beliau tetap berjualan kopi di daerah Pasar Senen karena kedua cucunya tinggal bersamanya. Katanya, “Ndak papa, mereka berdua justru menemani saya karena keempat anak saya sudah sibuk bekerja.” Tapi akhirnya aku merasa sedih dan terpikirkan bagaimana nasib Ibuku di masa tuanya. Setidaknya salah satu dari ketiga anaknya harus ada yang menemani agar tidak merasa kesepian. Sebelum pertemuan berakhir dan itu pasti terjadi padaku setiap bertemu dengan ibu-ibu yang selalu tulus mendoakanku yang isinya selalu sama, “Semangat belajar ya, Dek. Ibu doakan semoga sukses dan jodohmu sholeh.” Dua kata terakhir bikin saya begidig, hihi.
 
18 Januari 2018
 
Note: akan ada versi perjalanan Pasar Senen-Tanjung Brebes yang lebih seru. Tentang pertemuan saya dengan perempuan pemeluk agama kristen protestan yang membahas Alkitab dan munculnya marga di Sumatra Utara. On the proses….

  • view 80