Melepaskan? Tak sebercanda itu...

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2017
Melepaskan? Tak sebercanda itu...

Perempuan tercipta dengan perasaannya, dia sempurna karena lembutnya bahasa semesta pada hatinya. Tapi ketaatan kepada Allah bukan terletak pada standar rasa, iman dan taat melampaui batas suka dan tak suka, bahagia dan terluka.

Ini kisah tentang seorang wanita yang membawa hijrah wanita-wanita lain bersamanya. Kisah satu sosok mungil yang memperkenalkan indahnya mencinta Rabb dan tenggelam dalam surga ukhuwah berlandas akidah.

Dia adalah aktivis dakwah sekolah ketika jenjang SMA. Kita panggil saja dia Tsa’. Satu awal indah karena mengisi masa-masa labil itu dengan tali agama, ketika anak-anak lain masih asik dengan ke-alay-annya. Satu kisah ini tak pernah begitu kupahami dengan detail, tapi saat itu ada seorang ikhwan satu kelas dengan kami yang mondok. Ikhwan ini bisa membaca pikiran orang lain (mirip di film twilight, tapi ini nyata), kemudian suatu saat dia nyletuk sebuah nama di depan Tsa’. Kemudian Tsa’ tiba-tiba kaget, ‘lhooo kok tau? heh gimana kamu bisa tahu’ . Tentu saja Tsa’ mendesak ikhwan tadi agar jangan memberi tahu siapa-siapa tentang nama itu. Saat itu aku tak paham apa yang mereka bicarakan, hingga suatu hari dia bercerita tentang kejadian ini, ketika kami sudah di bangku kuliah kalau tak salah. Jangka waktu yang lumayan lama dari kejadian itu berlangsung.

Pada masa itu aku belum mengikuti kegiatan dakwah, tapi Tsa’ sering mengajakku untuk mengikuti kajian sehingga beberapa kali aku mengikuti kegiatan rohani baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hingga pasca lulus kemudian kami melanjutkan di sebuah perguruan tinggi yang sama, tak berhenti di sana, dia mengajakku pada halaqah. Memperkenalkanku pada orang-orang istimewa yang kemudian terbukalah cerita baru dalam sejarah hidupku. Hijrah! Satu kata itu mungkin cukup menggambarkan yang terjadi.

Lanjut…

Ketika di bangku kuliah aku menjadi semakin dekat dengannya, kami diperkenalkan dengan konsep ukhuwah, serasa dan sepenanggungan. Kami menyebut diri kami saudari, sebutan yang indah dalam sebuah persahabatan. Tak hanya aku dan Tsa’ yang berteman dekat, lebih dari lima orang kami melingkar setiap minggu saling menggenggam tangan merajut tali silaturrahim.

Kemudian suatu hari aku mengetahui bahwa dia ternyata mengagumi seseorang, panggil saja dia Ent. Sejak SMA. Ya, sejak di bangku anak-anak labil itu, beberapa tahun yang lalu. Berulang kali dia bilang padaku, ‘ketika di rohis SMA dulu, Ent adalah orang yang mengagumkan’. Aku tak begitu paham tentang sosok Ent, tapi dari kabar burung yang aku terima dia adalah sosok pendakwah yang luar biasa. Selain itu dia juga seorang Mas’ul wilayah dari suatu organisasi Islam. Oh iya, hampir lupa, Ent ini selepas SMA dia melanjutkan study di kota yang berbeda dengan aku dan Tsa’.

Tsa’ pernah bilang padaku bahwa Ent ini adalah sosok yang menginspirasinya kenapa Tsa menjadi seperti sekarang ini. Itu awalnya, tapi lambat laun Tsa’ terjun dalam dakwah, semakin dia paham kemana seharusnya dia melangkahkan hati. Memang benar jalan hidayah bisa datang dari mana saja, tapi tujuan akhirnya adalah satu, hanya Allah. Itulah yang sangat dipahami Tsa’ sampai saat ini.

Dalam halaqah kami, Tsa’ adalah salah satu orang yang paling bersemangat untuk mengejar hafalan, cita-citanya menjadi hafidzah, tak heran jika kecepatannya menghafal paling lebih diantara kami. Tak terlalu banyak bicara, bukan orang yang suka terlihat, dan antara kami dia suka bercanda, orang yang mudah berkomunikasi.

Tsa’ beberapa kali bercerita bahwa dia bermimpi Ent, tapi tak macam-macam hanya sekitar mengingatkan-mengingatkan saja, bahwa Tsa harus menjaga diri. Anehnya padahal Tsa’ tidak pernah menghubungi Ent baik secara langsung maupun melalui saling komen di grup. Tidak pula me-chat secara pribadi untuk menanyakan suatu hukum Islam atau yang lainnya sebagai maksud terselubung. Bisa dikatakan tak ada komunikasi.

Terkadang aku selalu percaya bahwa ketika kita terpikirkan orang lain, dengan gelombang pemikiran yang kuat, maka orang lain yang kita pikirkan akan merasa. Tapi rupanya tak berlaku untuk cerita ini. Pernah aku bercerita kepada temanku, ‘masak sih Ent sama sekali nggak pernah ngrasa dikit aja atas perasaan Tsa’, dengan entengnya teman akhwatku bilang, ‘Ya iyalah lah wong Tsa’ aja nggak pernah ngode’. Deg! Langsung mukaku serasa ditampar. Benar juga ya. Apa yang dilakukan perempuan-perempuan di luar sana. Bahkan kalau kita sadar terkadang hal kecil saja yang kita lakukan dan berhubungan dengan lawan jenis, itu bisa membuat baper orang lho, baik itu orang yang kita maksud atau tidak. Jatuhnya kita ngode. So, hati-hati atas semua tindakan dan ucapanmu.

Tiba kita di penghujung pendidikan tinggi, semester delapan. Kami saling menyemangati untuk mengerjakan skripsi. Tahun-tahun telah berganti, dan entah bagaimana kondisi hati Tsa’ terhadap Ent saat itu. Tapi yang aku tahu, Tsa’ semakin hari semakin baik dalam beragama, menyempurnakan masa yang kita sebut hijrah. Orientasi yang awalnya terarah pada satu orang kini telah lurus vertikal kepada Allah Yang Satu. InsyaAllah.

Kemudian suatu hari, temanku bernama La mengirimkanku sebuah screenshot percakapan komentar di facebook. ‘Alhamdulillah.. Dah slesai td akadnya.. Makasih smuanya doanya..’ dengan sebuah nama Ent di atas komentar itu. Tak tahu bagaimana menggambarkan bagaimana perasaanku detik itu. Kemudian langsung ku kirimkan pesan untuk Tsa’.

Tsa’ aku pengen meluk kamu. :’(

dia jawab, Im okey.

Sebagai perempuan aku tahu persis bagaimana sakitnya menyembunyikan rasa, bagaimana menahan suatu hal yang ingin kita katakan agar dia tahu, tapi tak boleh. Tidak mudah, tentu saja. Saat itu aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Tsa’. Bayangkan saja seseorang yang pernah menjadi anak tangga dia berpijak melangkah ke anak tangga selanjutnya sehingga dia lebih dekat dengan kebaikan, kemudian anak tangga itu harus hilang begitu saja, tanpa pernah sempat mengucap setidaknya Terimakasih telah membuat saya hijrah.

Aku, ‘Ini tentang rasa, tentang satu kata suci yang hanya kamu rasa sendiri’

Dia, ‘Pilihannya kan ada 2 halalkan atau ikhlaskan, kalo sudah tidak mungkin menghalalkan ya berarti pilihannya hanya 1, mengikhlaskannya. Ga ada pilihan lain’

Aku, ‘How it can be? Dia yang membuka jalan hijrah sebegini jauh, kemudian kamu mengenal arti hijrah sebenarnya. Kamu menghijrahkan banyak temanmu, sebegitu besarnya efek inspirasi si ikhwan itu. Sebegitu luas cakupannya’

Dia, ‘Alhamdulillah Allah perkenankan bertemu dengan orang hebat seperti dia, belajar untuk ikhlas, karena ketika kita tidak ikhlas itu hanya akan memberatkan diri kita sendiri’

Aku, ‘Kisah cinta dunia akhirat tak selalu indah yang diceritakan Kang Abay, melepas kemudian bertemu kembali pada suatu hari. Tapi kisahmu menjadi satu kisah penting yang akan mengajari kita bagaimana cinta dunia akhirat tak hanya melibatkan ‘rasa’ yang terwujud dalam kebersamaan. Tapi Allah memberi kisah lain dengan yang jauh lebih indah’

Dia, ‘Baru kali ini aku merasakan indahnya mengikhlaskan’

Aku, ‘Tsa’ kamu nggak sedih kan?’

Dia, ‘InsyaAllah enggak, aku malah seneng, udah lega sekarang. Kalau kemarin kan masih dibayangin dengan harapan-harapan, kalau sekarang udah plong… Bahkan untuk memikirkannya saja sudah nggak boleh :D Rencana Allah, masyaAllah indah banget. Aku juga baru sadar selama ini berarti aku sudah banyak sekali berbuat dosa, pernah memikirkan orang yang bukan jodohku. Astaghfirullah…’

Aku, ‘aku nggak bisa bayangin jadi kamu. Semoga dengan kesadaran itu, kamu bisa membawa kami, saudari-saudarimu sampai pada kesadaran yang sama, biar kami bisa sama-sama menyadari agar kita bisa lebih baik.’

Ternyata melepaskan, mengikhlaskan bukanlah perkara sebercanda itu. Tapi hal serius dengan balasan keberkahan dari Allah. Hijrah bukan satu perkara main-main kawan. Hijrah tak sebercanda itu, kamu putus dengan pacarmu, atau kamu berhenti menghubungi gebetanmu kemudian kamu berpakaian dengan mode saat ini, gamis panjang, kerudung yang besar. Biar terlihat lebih anggun. Tapi melupakan hakikat hijrah yang sesungguhnya.

Marilah periksa kembali niatan hijrah kita.

Tulisan ini dapat juga dikunjungi di https://www.tumblr.com/blog/zahranurannisa

  • view 111