Siapa Namamu?

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2017
Siapa Namamu?

Sudah lama nampaknya analisis ini kulakukan. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, hati ini tergetar melihat sosok anggun serupanya. Aku masih ingat tepat 25 Agustus 2014. Sebelumnya aku tak pernah merasa penting dengan urusan rumah sebelah karena memang tadinya rumah ini dihuni oleh sekelompok laki-laki, entah bagaimana ceritanya tahun ini nampaknya berganti penghuni menjadi perempuan.

Beberapa hari terlihat beberapa orang sibuk bergantian keluar masuk membawa banyak barang ke rumah tersebut. Aku tak pernah berniat secara khusus mengamati, akan tetapi rumah pamanku yang kutinggali ini kebetulan hanya berjarak beberapa langkah saja dengan rumah tersebut, jadi mau tak mau kegiatan di rumah sebelah dengan mudah terdeteksi dari penghuni rumah paman, termasuk aku. Aku tinggal bersama paman Edi, bibi Melly, dan dua orang anaknya, Rio dan Raka. Rio masih duduk di bangku SD sedangkan Raka di bangku menengah.

Keluarga ini menerimaku dengan tangan terbuka sejak dua tahun lalu ketika aku memutuskan untuk mengambil kuliah manajemen di kota kecil ini, sebelumnya ibuku tidak setuju, katanya masih banyak kampus berkualitas lebih bagus di ibukota tempat aku tinggal sebelumnya, aku diminta mendaftar kembali tahun depan. Tetapi aku tidak mau membuang waktu satu tahunku hanya untuk menunggu, akhirnya bagaimanapun aku menjelaskan bahwa keputusanku ini adalah yang terbaik, lagipula kampus yang kupilih ini tidak seburuk perkiraan ibuku, bahkan masih masuk dalam jajaran 10 kampus terbaik di negeri ini. Sudahlah, akhirnya restu ibu dan ayahku pun dalam genggaman, aku terbang menuju keheningan dari hiruk pikuk ibu kota. Ayahku menitipkan aku ke adiknya yang menetap di kota tersebut, meskipun awalnya aku menolak, tetapi apadaya, ayahlah yang berkuasa atas hidupku selama ini.

Awal pertama kuliah di kampus ini banyak hal yang membuatku lebih dewasa. Hidup jauh dari orang tua ternyata tak semudah yang ku bayangkan. Banyak hal terjadi harus kutangguung sendiri, karena kebetulan aku adalah manusia super introvert identik sekali dengan kacamata yang kukenakan ini. Untungnya aku memiliki teman yang sangat mewadahi ketertutupanku ini, teman-teman yang selalu membuatku merasa nyaman. Meskipun tak pernah kenal sebelumnya, tetapi berteman dengan mereka aku merasakan kenyamanan seperti telah mengenal sejak ribuan tahun lalu sebelum kami tercipta. Kita memiliki latarbelakang yang berbeda-beda tetapi sangat akrab. Tiga orang anak rohis, satu kupu-kupu sepertiku dan satu lagi anak gunung dan fotografer.

**

Hari ini adalah hari pertama masuk semester lima. Pagi itu aku tak sengaja ketika akan mengeluarkan motor dari gerbang, ternyata penghuni kost sebelah juga akan berangkat. Kondisi jalan gang yang begitu sempit memaksaku harus menunggu bergantian ketika akan melewati jalan tersebut. Akhirnya kubiarkan sepeda motor matic berplat AD 4073 PP itu duluan memakai jalan, meskipun kami berpapasan tetapi aku malas untuk menyapa orang asing, lagipula nampaknya dia terburu-buru, dengan memakai masker seperti itu, aku tak akan tahu dia tersenyum atau bahkan sedang bersedih.

Entah apa yang direncanakan langit, ketika sore hari aku akan memasuki gerbang rumah pamanku, perempuan itu berpapasan kembali denganku tetapi dia berlawanan arah mungkin ada sedikit urusan untuk keluar. Kali ini dia tidak memakai masker, tetapi sama saja aku tak berani menyapanya. Ketika sekilas menatapnya, hatiku bergetar, keanggunannya menyekapku sedetik untuk tertaut menatapnya. Deg! Sayang sekali dia berlalu begitu saja.

Itulah awal analisisku dimulai. Sejak itu, aku mulai kepo dengan kegiatan rumah sebelah. Dahulu sehabis maghrib atau isya’ aku asik dengan laptopku untuk menonton film atau bermain games, mulai saat ini aku sedikit-sedikit menguping pembicaraan rumah sebelah yang seringkali terdengar dari rumah pamanku.

Beberapa kebiasaan yang kuketahui, sehabis maghrib dan sehabis subuh mereka bersahut-sahutan mengaji. Begitu tentram ketika membayangkan masa kecilku saat Ramadhan di desa nenekku dahulu, dan kondisi semacam itu seperti membawaku kembali kesana. Ketika mulai jam setengah enam pagi mereka akan berganti-gantian mengantri untuk mandi, bukan aku mengintip, tetapi suara mereka terdengar sampai ke rumah paman, mereka seperti membuat nomor urut sendiri, sehabis si A si C, habis itu baru si B atau D, begitulah mereka. Terkadang secara bergantian mereka mengetuk kamar mandi dan memanggil penghuni kamar mandi dengan teriak karena suara kran yang keras. Meskipun sehabis diketuk si A, si B akan mengetuk kembali untuk bertanya siapa urutan mandi setelahnya. Aku membayangkan pasti tak nyaman penghuni kamar mandi diketuk berkali-kali secara bergantian.

Sekitar pukul delapan malam, mereka seringkali bercerita banyak hal, hanya beberapa suara saja yang dapat aku dengar, yang memang berbicara dengan nada keras. Terkadang gurauan mereka pun aku mendengarnya. Tak jarang aku ikut tertawa, ketika mereka menceritakan teman atau dosen mereka, geli juga walaupun aku tak mengenal mereka.

Aku tak tahu persis berapa jumlah perempuan yang tinggal disana, tapi kuyakin lebih dari delapan orang. Kulihat wajah berbeda-beda keluar masuk setiap hari. Ada nama yang pernah kudengar dari pembicaraan mereka, Indah, Putri, Vinna, Zahra, Nisa, Ega, dan mungkin ada lagi yang tak ku ingat.

Aku tak pernah tahu siapa-siapa pemilik nama itu. Wajah yang mana yang memiliki nama Zahra, atau Vinna atau yang lainnya. Awalnya aku tak pernah penasaran hingga ketika sering berpapasan dengan sepeda motor berplat AD itu, manakah nama yang cocok untuk menghiasi anggunnya pemilik itu. Semua nama terasa indah menemani wajah ayunya.

Pernah suatu ketika pagi hari pukul setengah enam, perempuan itu telah rapi bergegas seperti terburu-buru. Aku tak pernah tahu apa yang dilakukannya. Pernah juga kulihat dia mengenakan sebuah jaket beridentitas sebuah organisasi rohis kampus. Satu hal yang tak pernah kulihat darinya adalah, tidak sekalipun aku pernah melihatnya mengenakan celana. Sungguh anggun nian perempuan ini. Sudah pasti dia adalah aktivis rohis kampus.

Aku pernah bercerita dengan teman-temanku tetang analisisku ini. Tak kusangka mereka menertawakanku habis-habisan. Mereka bilang aku konyol, nggak punya kerjaan, dan yang paling parah mereka bilang tidak menyangka kalau aku suka perempuan. Teman-temanku ini memang seringkali freak, tetapi bagiku merekalah yang paling asik diajak bercerita.

“Wah ternyata lo suka cewek juga ya?” anak gunung mulai menghina.

“Hah, Iyalah! Lo pikir selama ini gue naksir elo. Gila! Gue straight guys...”

“Hahhaaa... ternyata di balik kacamatamu menyimpan banyak sudut pandang yang tak pernah aku duga”, kali ini anak rohis angkat bicara.

“Iya, coba sekali-kali kamu lepas kacamatamu, kali aja objek yang kamu lihat itu beda kalo nggak pake kacamata”, ini giliran si kupu-kupu.

“Ahh... udah udah, kalian ini nggak ngerti sih project penting. Percuma aja aku cerita. Udah makan aja yuk”

**

Seperti biasa pagi itu aku agak siang berangkat ngampus, ku tengok kanan kiri, nampaknya rumah sebelah telah sepi, mungkin sudah berangkat semua, atau beberapa masih tidur bagi yang kuliah siang, pikirku. Tiba-tiba ketika aku masih berdiam memanasi mesin sepeda motorku kulihat dari spion perempuan itu baru akan mengeluarkan motornya. Tak kusadari aku tersenyum kecil. Manis sekali, batinku. Kulihat dari spion wajah itu terburu-buru menaiki sepeda motornya, tiba-tiba...

Tiiiinnntttt.... Tiiinnnnttt...

Aku lupa jalan gang ini begitu sempit harus bergantian, dan aku masih berdiam diri. Malu sekali aku, akhirnya ku tancap gas meski sembari menutupi malu.

Ketika sampai di kampus, ternyata dosen hari ini hanya memberi tugas dan tidak mengisi satu materi pun. Seperti inilah dosen yang membuatku kesal. Ketika anak-anak masih ribut membagi kelompok, aku bercerita dengan teman sebelahku tentang kejadian tadi pagi.

“Haha... bisa-bisanya kamu. Untung nggak kelihatan merah tuh muka” jawab Azmi, anak Rohis kampus yang lumayan cerewet.

“Iyalah, nggak tahu aku apa yang dipikirkan perempuan itu tadi. Pasti dia kesel gara-gara aku ngalangin jalan. Eh bro, lo kan anak rohis, kasih tahu aku caranya deketin perempuan kayak gitu gimana ya?”

“Apa? Nggak salah? Perempuan kayak gitu nggak mungkin mau dideketin. Dia malah makin menghindar kalo dideketin”

“Lha terus harus gimana? MasyaAllah, bener-bener wanita idaman”

“Ya nikah, lamar langsung ke orang tuanya”

“Apa? Nikah? Gila, belum siap lah. Lho, bukannya ada yang ta’aruf ta’aruf itu ya?”

“Heh, jangan atas namakan ta’aruf buat ajang pacaran terselubung. Ta’aruf itu pengenalan pra nikah antara perempuan dan laki-laki dengan batas waktu tertentu. Bukan buat pacaran cara islami, adanya pacaran dalam Islam cuma kalo udah sah jadi suami istri.”

“Oh gitu, paham paham” kataku yang sebenarnya sudah pernah mendengar hal itu dari pamanku. Tetapi begitu lemahnya aku, perasaan itu begitu menggebu, memaksaku ingin terus melihatnya, bahkan aku ingin dialah perempuan terakhir yang akan menghabiskan waktu bersamaku di sisa-sisa hidupku, dialah orang yang tepat.

Semenjak aku berteman dengan anak-anak rohis kampus itu pengetahuanku tentang agama pun semakin bertambah. Awalnya aku tak tahu kalau ternyata laki-laki lebih utama untuk melakukan sholat di masjid, beberapa akhir ini aku mencoba menjalankan setiap sholat fardhu di masjid. Kata temanku, sesuai rumus 24:26, QS An-Nur ayat 26, laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan-perempuan yang baik pula.

Perempuan bermotor plat AD itu benar-benar menginspirasiku. Perempuan yang baik sepertinya tentu akan mendapatkan pasangan yang sebaik dia pula. Inilah saatnya untukku memantaskan diri, bukan malah pusing bagaimana cara untuk mendekatinya. Ada hal yang begitu indah ketika hidayah itu perlahan merasuk dalam qalbuku. Semakin kesini aku semakin sadar, bahwa apapun yang terjadi nanti tentu saja semua telah di skenario dengan baik oleh Allah. Aku memutuskan untuk berhenti melanjutkan analisis aktivitas kost sebelah. Aku tahu, siapapun nanti yang menjadi masa depanku kelak, semoga sebaik dan secantik perempuan itu pula. Jikalah bukan dia, semoga diberi yang lebih baik darinya.

Pada awalnya karena melihat intensitas ibadahku yang semakin membaik, kawanku anak rohis mengajakku untuk bergabung ikut organisasi rohis kampus. Akan tetapi, dengan halus coba kujelaskan bahwa bukannya aku tak ingin tetapi aku sudah berjanji kepada orang tua, aku akan lulus dengan cepat setelah itu aku akan melanjutkan S2 ke luar negeri, aku harus membuktikan bahwa kuliahku di kota kecil ini bukanlah pilihan yang salah. Syukurlah temanku mengerti, dia justru mendukung penuh ambisiku itu. Terlihat sekali ketika aku membuat ujian skripsi mereka mati-matian mencarikan objek penelitian, menemaniku ketika harus melakukan penelitian ke daerah pelosok berminggu-minggu. Tak luput juga anak gunung dan anak kupu-kupu ikut serta. Mereka adalah saudara-saudaraku di kota persinggahan ini.

Tibalah waktu yang di nantikan selama ini. Hari ini adalah hari wisudaku, kukabarkan bahwa aku lulus dengan predikat memuaskan plus ikut percepatan. Betapa bahagianya orang tuaku, mereka terbang menuju kota ini. Beberapa jamuan meriah dari tante di sediakan.

“Selamat ya nak ya, Mama bahagia dengan semua yang kamu capai. Semangat terus sayang” kata ibuku sembari memeluk dan menciumku.

“Iya Ma, tentu saja ini semua karena do’a Mama dan Papa. Aku lah yang seharusnya berterima kasih”

Setelah acara selesai, sebenarnya ibuku menyuruhku untuk langsung kembali ke kota kelahiranku. Tetapi masih ada beberapa hal yang harus ku urus terkait pendaftaranku lanjut studi S2, akhirnya satu hari setelah wisudaku mereka kembali terlebih dahulu.

Ada perasaan bahagia menyelimutiku, namun tak ku pungkiri perasaan khawatir itu sesekali hadir dalam lintasan pikiran. Betapa sudah ku coba untuk melupakan perempuan bermotor plat AD itu. Aku bertekad tak ingin memikirkannya. Aku mencoba memperbaiki iman dengan menambah intensitas ibadahku, tetapi tetap saja imanku masih begitu lemah menahan perasaan manusiawi ini. Ketertarikanku padanya tak juga mereda. Oh Tuhan, apa yang salah dengan semua ini. Sangat ku hafal suara motornya, terkadang dengan tak sengaja aku melihatnya dari lantai dua rumah paman ketika aku bermain gitar, dia sedang melintas akan pergi. Sungguh betapa menyakitkannya perasaan ini. Kelulusanku adalah kebahagiaan, tetapi kepergianku dari kota ini adalah luka yang harus kutanggung sendiri di balik setiap senyumku.

Tercatat sebuah hari yang menyusul kebahagiaan selanjutnya. Tepat hari Jum’at aku diterima beasiswa S2 di sebuah perguruan tinggi terkemuka di London, UK. Terdengar isak haru ibuku di balik telepon, sungguh sebenarnya aku ingin memeluknya karena kebahagiaan ini. Sembari menunggu hari keberangkatan, yaitu enam bulan lagi, Ibuku menyuruhku untuk menunggu di rumah. Aku pun menyetujuinya.

Satu hari sebelum masa kepulanganku, aku  dibantu Rio dan Raka membereskan barang-barang dan merapikan kamarku. Masih ada pikiran menggelayut dan seperti mengejar hatiku, mendesakku untuk menemui perempuan bermotor plat AD. Tapi apapun yang terjadi aku harus menyelisihi hatiku. Aku masih begitu lemah aku benar-benar ingin tahu meskipun hanya sebait namanya. Akhirnya pagi hari sekitar pukul enam, kulihat seorang perempuan keluar dari rumah sebelah, barangkali bisa kutanya. Aku memberanikan diri bertekad bertanya padanya,

“Emm, permisi Mbak. Maaf sebelumnya, saya mau tanya teman Mbak yang bersepeda motor plat AD 4073 PP namanya siapa ya?” kataku sambil ragu-ragu.

“Wadduh, ada apa mas, tidak ada masalah apa-apa kan?” katanya justru dikira ada masalah serius.

“Eh, bukan-bukan. Jadi gini Mbak, ini adalah hari terakhir saya berada di sini setelah tiga setengah tahun yang lalu. Sekarang saya akan kembali ke asal saya di ibu kota. Tapi sudah sejak lama saya ingin tahu nama teman Mbak itu, hanya nama saja, apa boleh? Eh, tapi jangan bilang-bilang ya, tolong, saya malu”, kataku berterus terang kepadanya.

“Oh, gitu. Namanya Zahra Nur Annisa, di panggilnya Mbak Zahra” katanya sambil berpikir, barangkali dia menimbang apakah tindakannya salah atau betul.

“Boleh ditulis di sini”, kataku sambil menyodorkan sebuah bolpen dan buku notes kecil yang telah ku buka tepat di kertas yang kosong.

“Oh iya boleh, boleh.”

Hari itu juga, aku diantar ke bandara oleh paman, dengan berbekal satu tas carrier dan satu tas slempang aku melambaikan tangan kepada paman. Aku sangat berterimakasih atas kebaikannya selama ini.

Hari berganti, fajar oleh senja, malam oleh siang. Ada hampa yang menyelimuti hatinya. Tetapi inilah hidup, semuanya seiring berganti bersama pasir waktu yang meluruh meninggalkan satu ruang mengisi ruang lainnya.

**

Hari-hari kuliah di negeri asing awalnya mengejutkan. Mulai dari kebiasaan yang berbeda, adat, dan bahkan dari cara bersosialisasi pun sangat berbeda. Meskipun telah ada pelatihan tentang pemahaman budaya negeri asing ini, tak kusangka aku benar-benar menghadapinya.

Beberapa waktu semua mulai lancar, aku perlahan bisa membiasakan diri. Disana aku mendapatkan teman dari berbagai negara, ada dari Jepang, China, Turki, Belanda dan bahkan Malaysia. Indonesia sendiri ada juga tetapi berbeda fakultas, hanya beberapa kali aku bertemu dengannya. Aku satu-satunya mahasiswa Indonesia yang melanjutkan di jurusan ini.

Rutinitasku yang begitu padat, terkadang aku lupa makan atau jarang mengabari rumah, seringkali telepon genggam kutinggalkan begitu saja. Berkali-kali ibuku marah atas sikapku ini. Katanya kamu jangan lupa untuk bergaul dengan teman-teman dari Indonesia juga, dia takut aku terjerumus dalam budaya barat yang serba tak sejalan dengan budaya timur, katanya. Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dengan PPI-UK atau Persatuan Pelajar Indonesia-United Kingdom. Beberapa kali aku mengikuti kegiatannya. Sangat asik sekali bertemu saudara setanah air di negeri asing.

Aku masih ingat malam itu ada acara Lancaster Indonesian Cultural Night. Sebelum acara, aku diperkenalkan oleh ketua organisasi dengan teman-teman lain yang telah bergabung sebelumnya. Setelah aku memperkenalkan diri, satu-satu dari mereka memperkenalkan diri padaku, laki-laki dan perempuan. Malam itu memang tak banyak yang datang, hanya sekitar dua puluh lima orang, aku menyalami satu persatu, tapi ada satu perempuan yang tak mau ku ajak bersalaman. Dia tersenyum sembari mempertemukan kedua telapak tangan di depan mukanya sembari merunduk, dia menyebut namanya, Zahra Nur Annisa. Bukan main aku begitu kaget. Tak salah lagi, itu adalah perempuan yang sama.

Perempuan bermotor plat AD itu, ternyata Allah mempertemukanku kembali dengannya di sini, di tempat yang jauh. Meski aku tak pernah tahu namamu sebelumnya, aku tak pernah bisa berkenalan denganmu. Tetapi aku bersyukur, karena dengan batasan yang pernah Allah berikan, dari kita saling menjaga. Batasan itulah yang memberiku kesempatan untuk terus belajar menyeimbangimu. Sehingga aku tahu, perempuan sepertimu bukanlah untuk di jadikan pacar, tetapi adalah pilihan terbaik untuk mengakhirkan kesendirianku di bawah restu Illahi.

  • view 42