Bapak Penari

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2017
Bapak Penari

Sore ini masih saja senja menyapa hangat seolah-olah tak mengerti betapa perasaannya tak selaras dengan matahari yang bersinar hangat dan ramah. Seolah dunia meninggalkannya di tempat gelap yang tak satupun orang mau mendekat.

Sudah lama dia tak ingin menyadari hal itu, meski dia sadar dia ingin membuang jauh kesadaran itu. Bahkan telah lama dia menganggap penilaian orang tentangnya adalah yang sebenarnya terjadi. Sekalipun itu benar atau salah, dia hanya tak ingin terus melawan aliran sungai yang arusnya tak memberinya pilihan selain mengikutinya.

Aku dan kamu ada dalam satu dunia tapi kamu tak pernah ada disini. Berkali-kali orang berkata demikian padanya. Hanya sapuan hujan kadang yang menyamarkan air matanya. Di kala sendiri adalah teman terbaik. Di sanalah dia menyadari hidupnya tak seperti yang kebanyakan orang seusianya, sejenisnya, bahkan sespesies dengannya.

Ibu asuhnya yang sedari kecil merawat dan membesarkannya adalah sosok perempuan yang biasa saja, bapaknya adalah mantan penabuh gamelan acara wayang orang, juga terkadang jadi lakon lawaknya. Wayang orang puluhan tahun silam adalah hiburan yang paling moncer di kalangan masyarakat Jawa, tapi nampaknya jaman telah banyak menggeser, bahkan wujud gamelan saja sudah jarang terlihat.

Tak banyak yang bisa dilakukan bapaknya kini, hanya menabuh gamelanlah keahlian yang dimilikinya sedari kecil. Begitupun ibunya, hanya seorang perempuan tua renta yang menggantungkan hidupnya pada sang suami. Saat ini pertigaan lampu merah, atau tempat-tempat strategis lain, tape kecil, sampur dan kostum tarian jawa yang seadanya adalah andalan dari sebuah profesi yang dimilikinya. Terkadang mereka bertiga turun semua untuk mencari recehan, kadang berbeda tempat kadang jadi satu. Lebih sering hanya dia dan bapaknya yang tampil, bermodalkan kaset rekaman gamelan Jawa, dan sebuah tape tua mereka berlenggak lenggok sebisanya. Segemulai yang mereka bisa, meski pada akhirnya juga gerakan kaku yang berulang-ulang, mereka tak peduli karena memang tidak ada riwayat penari baik bapaknya ataupun dirinya sendiri.

Pekerjaan dan latar belakang keluarganya pun membuatnya merasa istimewa. Membuatnya tak bisa sama dengan yang lain. Mata-mata yang entah kagum, iba, atau menghina, atau bahkan beberapa sangat risih dengannya dan dengan bapak ibunya.

“Gil, ayo kita pulang, kayaknya hari ini mau hujan deras. Daripada besok gak ada kostum lebih baik kita cari aman aja”, kata bapaknya.

Dia hanya mengangguk entah sebenarnya paham atau tidak.

Bapaknya membuka sebuah kotak kecil berisikan bedak putih dan lipstik serta celak hitam, sebuah kapas dia ambil untuk menghapus coretan dimukanya.

Merekapun berjalan beriringan dengan membawa perlengkapannya. Sebuah bis membawa mereka melaju dengan kecepatan rendah.

Sesampai di sebuah pemukiman padat, penuh sesak dan bahkan halaman untuk sekadar menaruh kursi di depan rumah pun tak ada. Jalan sempit, dan selokan yang bau mengiringi perjalanan mereka. Hidup memang tak bisa ditawar. Asalkan ada sesuap nasi untuk esok hari, bukan masalah besar bagi mereka. Inflasi, atau perpolitikan bagi mereka tidaklah penting. Siapapun yang memimpin tidak akan berakibat besar bagi mereka, tidak akan menguntungkan atau merugikan. Sesekali ada yang memberikan bantuan, berupa uang yang diberikan secara cuma-cuma. Awalnya mereka sangat senang dengan bantuan itu, menggantikan jadwal manggung mereka selama paling tidak setengah hari. Tapi mana ada yang cuma-cuma di dunia ini, tawa pun harus dibayar dengan tangis, bahagia harus dibayar dengan kecewa, apalagi untuk rupiah yang masuk kekantong rakyat kecil seperti mereka. Tentu bukan pula sesuatu hal yang gratis tanpa syarat. Selang beberapa hari, ternyata mereka diwajibkan untuk mencoblos gambar orang-orang pemberi uang itu di sebuah tempat sesak dan harus antre seharian, yang sudah pasti mereka harus merelakan jam manggung mereka untuk hari itu.

“Ragil, belikan Mbok gula di warung Bu Sarmi ya, ini uangnya. Sisanya bilang suruh nyatet dulu.”, kata ibu asuhnya memberikan selembar uang lima ribu rupiah.

Dia hanya mengangguk tanpa membalas dengan bahasa apapun, yang dia catat hanya gula, Bu Sarmi, dan nyatet. Yang perlu dilakukan adalah dia berjalan di warung kecil yang biasanya banyak kerumunan ibu-ibu, dan beberapa langsung pergi begitu tahu dia datang. Entah mereka risih atau menyeramkan. Beberapa ibu yang perutnya buncit berkata amit-amit berkali-kali sambil terus memalingkan pandangan mereka dari dirinya.

“Gul, gul, gula...!” katanya, sambil menyodorkan selembar uang dari ibu asuhnya.

“Berapa nih, kok uang cuma segini doank”, kata Bu Sarmi sedikit sengak.

Dia tak mnjawab hanya mengacungkan satu jari manisnya.

“Satu kilo?”, tanya Bu Sarmi.

Lagi-lagi dia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala sampai debu-debu di kepalanya berguguran.

“Kurang nih uangnya? Tak kasih seperempat aja ya? Udah banyak tunggakan Mbok mu itu.”

“Errrgghh... eerrgh... atet, atet.”, katanya menggeleng sambil memelototkan matanya membuat nyali Bu Sarmi menciut, takut kalau-kalau dagangannya di obrak abrik laki-laki muda seumuran dua puluhan tahun tetapi seolah sikapnya seperti anak berumur lima tahun.

“Ya udah, ni nih... Udah sana kasihin Mbok mu!” kata Bu Sarmi agak marah.

Seketika dia pun berlari menuju rumahnya dan memberikan kantong plastik berisi gula itu kepada Ibunya. Kemudian selang beberapa waktu dia mandi dan mengenakan kostum kebanggaannya.

“Pakkk... bapp...bappak?” tanyanya kepada ibunya.

“Oh, bapak sudah duluan, katanya tadi dia menyuruhmu istirahat saja hari ini, biar dia sendiri yang manggung”

“Ikuuukk, ikutt...”

“Kamu mau menyusul bapak?”

Dia menganggukan kepala, kemudian selang beberapa waktu langsung keluar meninggalkan rumah dengan kostum wayang berwarna warni mencolok, tanpa rasa malu sedikitpun dia berlari melalui gang-gang sempit. Ketika melewati beberapa orang anak-anak dia akan menjadi bahan ejekan, terlebih dengan pulasan lipstik dan bedak putih pada wajahnya. Tak ada bedanya dengan badut di pertunjukan sirkus. Namun apabila dia melewati orang dewasa yang ia dapatkan adalah lirikan risih yang dia pun tak pernah peduli dengan hal tersebut.

Setelah sampai di daerah tempatnya biasa manggung, yaitu lampu lalu lintas, dia tidak mendapati bapaknya sedang menari atau bahkan sedang berduduk untuk istirahat. Bahkan tape yang biasa dibawanya pun tak ada. Dia celingukan kesana kemari sedikit bingung harus mencari kemana bapaknya bekerja hari ini. Setelah berdiri begitu lama untuk menunggu bapaknya barangkali sedang dalam perjalanan ke tempat tersebut, dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah karena dia pun tentu tak tahu harus mencari bapaknya kemana.

Tiba-tiba datang seorang preman berambut gondrong sebahu, dengan tato di tangannya.

“Hehh... tuh temenmu di sana ketabrak orang. Ngapain malah di sini, dasar bodoh!”

“Haa..” Ragil sedikit kebingungan, kemudian dia langsung berlari menuju arah yang ditunjuk oleh preman tersebut.

Setelah sampai di sebuah kerumunan orang, dia melihat  sebuah tape yang tergeletak di pinggir jalan, namun kasetnya terlepas keluar. Dia sibak kerumunan itu, dilihatnya seseorang berpenampilan sama dengannya sedang tertidur. Namun dilihatnya mukanya dengan hiasan lipstik lebih banyak. Tapi lipstiknya terlalu cair, barangkali lipstik model terbaru. Kemudian dia langsung mendekat, di bangunkannya orang itu yang tak lain adalah bapaknya. Dia goyang-goyangkan badannya yang kurus. Orang-orang di sekitarnya hanya diam dan melihat seolah itu adalah tontonan gratis yang menarik. Tanpa mendekat atau barangkali menyentuh, entah mereka enggan atau risih dengan dua orang tersebut.

Setelah begitu lama badan kurus itu dia goyang-goyangkan tapi tak sedikitpun mata yang biasa menatapnya terbuka, atau pipi yang sudah sangat cekung itu tersenyum padanya, membisikkan sebuah kekuatan ketika orang lain merendahkan atau mencibir mereka berdua. Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja, sekalipun dia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, yang pasti dia menyadari sebuah firasat buruk. Kemudian dia berteriak-teriak, dia mengejar dan memukul orang-orang yang sedari tadi melihat mereka berdua bagai tontonan. Orang-orang itu pun bubar tak ingin menjadi korban kemarahan anak lelaki itu. Tanpa memedulikan orang yang tergeletak di pinggir jalan raya itu membutuhkan bantuan.

**

Dia pun terbangun setelah sepanjang siang tertidur di dalam kandangnya. Sebuah bekas siskampling di pojok desa namun ditambahkan tralis memanjang yang berjejer menutupi pintu depan. Ruangan itu hanya berukuran 1,5 meter x  2 meter. Sebuah rantai mengikat kaki kirinya, sedang kaki kanan berada dalam sebuah pasung yang tergembok rapat. Makanan dipiring yang hampir basi masih utuh tanpa mau dia mnyentuhnya sejak kemarin. Celana kotak-kotak putih hitam dan sampur batik masih dia kenakan, namun sudah tampak lusuh.

Tiba-tiba datang seorang nenek berusia lanjut datang dengan sebuah kotak ditangannya.

“Ragil, ini selamatan 100 hari bapak meninggal, do’akan bapak semoga arwahnya bahagia di alam sana” kata perempuan itu kemudian meninggalkan begitu saja.

“Hukkhukkhukkk... Bapp.. bap.. bappak...” air matanya kembali menetes.

Dunia perlahan berubah, umur, alam, manusia dan banyak hal lagi. Banyak orang berlomba-lomba bergerak mengiringinya, namun beberapa memilih diam meski harus tertinggal.

Dunia yang Ragil tahu adalah semesta yang sederhana. Fajar datang menyapa, melusuh menjadi siang, kemudian senja mengganti memadamkan api mentari menjadi malam.

-The End-

picture source : http://maskabib.blogspot.co.id/2011/05/bertahan-di-jalan.html

  • view 71