Perspektif

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Mei 2017
Perspektif

Hening. Riuh gulungan anak samudra menenggelamkanmu ke pelupuk dunia yang hanya ada suaramu, ingatanmu dan dirimu. Udara dari bibir pantai lembut terhempas ke daratan. Dingin ketika ribuah partikel oksigen itu membasuh mukamu. Aku tahu kamu bahagia dengan semua lanskap semesta ini. Seolah terpaan angin berbisik di telingmu karena kemudian perlahan matamu tertutup dan guratan senyum itu tergambar indah di kedua pojok bibirmu.

Aku yakin ini adalah manifestasi kebahagiaan yang dirasakan manusia. Lewat senyum dan tertawa. Ya, sepertimu yang kini berdiri tepat di bibir pantai, menatap lembayung di belahan jauh pesisir. Diam dan hanya tersenyum. Memaku menghadang angin berikutnya. Begitupun aku yang hanya mampu memaku menatapmu. Bagiku lanskap semesta itu telah lengkap ada padamu.

Ingin aku berpindah berdiri di hadapanmu, atau barangkali di sampingmu tetapi lebih dekat dari ini, mencoba memahami arti di balik senyuman itu. Jika saja angin mengijinkan, aku ingin melebur bersamanya, menjadi alasan guratan bahagia itu tertahan begitu lama dalam ronamu. Tapi kurasa bukan karena angin. Baiklah, atau biarkan aku menyatu dengan oksigen agar aku bisa mengalir dalam aliran darahmu kemudian berselancar dalam otakmu. Sungguh aku ingin tahu apa yang tersimpan dalam batinmu hingga riuh gemuruh ombak tak sedikitpun gentarkan suasana air mukamu.

“Tuhan terima kasih...”

Bisikmu pada semesta. Aku yakin angin tak akan keberatan menyampaikannya kepada Tuhan. Jika aku kembali akan ku bicarakan ini dengan Tuhan, pastilah Dia bahagia kau selalu mengingatNya.

Saga menggelap perlahan. Senja memucat, kau tiba-tiba menengok oleh suara yang kurasa itu memanggil namamu.

“Kak Pandini ayo pulang” teriak seorang anak laki-laki dari punggung daratan, kurasa dia berumur sekitar sewindu, lima belas tahun lebih muda darimu. Ya, kira-kira begitu.

Kemudian kau pun berbalik menghampirinya dan berjalan beriringan dengannya menuju sepasang paruh baya yang telah berdiri di gubuk pedagang pantai. Kulihat kau bersama mereka berjalan perlahan menjauh dan kian tak terlihat oleh pandangku. Sudahlah, barangkali esok hari kau akan datang kembali. Jika bukan esok, mungkin esoknya lagi. Jika pun tidak aku berharap suatu hari nanti aku dipertemukan kembali denganmu.

Pagi ini, mentari masih samar-samar memecah cakrawala yang temaram. Aku diminta mencari beberapa alamat. Apapun itu yang kutahu adalah tunduk dan perintah itu terlaksana. Aku berkeliling di pemukiman manusia, bertahtakan cahaya berselendangkan angin. Pelan, tetapi tentu saja matamu tak akan mampu menerjemahkanku.

Kulihat kehidupan kalian begitu dinamis. Bukan seragam seperti rintik gerimis. Entah keberapa kalinya aku mengagumi struktur kalian. Kalian sempurna. Ya, begitulah menurutku. Kalian melewati liku sulit dan mudah secara bergantian. Lebih menyenangkan lagi Tuhan tidak pernah diam di sana atas skenario itu. Tetapi sayangnya kebanyakan dari kalian hanya menyukai sisi mudahnya saja, bahkan ketika kalian di hadapkan pada sisi sulit kalian akan mengusahakan jalan apapun agar kalian tak merasakannya lagi. Tidak sedikit yang memotong kompas, melanggar batasan-batasan kemanusiaan kalian. Ada pula yang tertunduk putus asa ketika kalian melewati lorong hitam itu, merasa sendiri dan menghujat apapun bahkan dirimu sendiri yang sejengkal pun kamu tidak mampu menciptanya, tapi kau menganggapnya rendah. Ironi. Padahal ketika kamu terluka, Penciptamu merasakan pedih yang ada dalam batinmu. Ketika kamu bilang, ‘semuanya sudah berakhir, aku bosan dengan hidup ini’, Dia berkata padaku, ‘tidak pernah aku ingin membuatnya kecewa atas kehidupannya, aku tak tega melihatnya begitu terluka, tetapi hanya dengan luka itulah hatinya menjadi siap menghadapi rotasi siang dan malam yang terjal’. Kukatakan padaNya, ‘Kutahu Kau ciptakan mereka dengan kasih sayang yang tak pernah terbendungkan. Jawaban pasti siapa yang paling menyayangi mereka adalah Engkau. Jawaban kedua atas pertanyaan siapa yang paling mengerti mereka, adalah sama dengan jawaban pertama. Engkau paduka...’

Kaumku memang tak pernah membuat Tuhan kecewa, tetapi kami tak mampu berbangga diri karena kalian lebih tinggi dari kami. Kami hanyalah cahaya yang berpendar menari bersama angin. Tetapi ribuan partikel cahayaku yang barangkali mampu membutakan tidak mampu sedikitpun menyamai cahaya yang terpancar dari kalian yang memiliki hati seperti kami. Aku sempat cemburu dengan kalian, tetapi Tuhan tak pernah salah memasang cinta, aku pun yakin dia sangat menyayangiku.

Aku pernah bermimpi ingin sedikit saja mengambil cahaya mereka. Berusaha kukawinkan cahayaku dengan cahaya mereka berharap cahaya yang lebih baik, tetapi bodohnya aku. Aku melupakan satu ramuan yang di manapun tak mampu kudapatkan. Penempaan, kegetiran dunia, luka dan perih yang kalian rasakan tidak pernah aku rasakan, itulah ramuan mengapa cahaya kalian lebih terang.

Malam datang begitu cepat. Tidak terasa aku bumi telah menjadi gelap. Kutahu Tuhan telah menungguku. Tetapi aku masih ingin di sini mengamati mereka, setidaknya walaupun aku bukan bagian dari mereka aku telah bahagia mewarnai imajinasiku dengan membayangkan menjadi mereka.

Kuhampiri sebuah rumah yang terletak di pinggir kota. Cahaya yang meneranginya hanya temaram, tentu saja ini bukan rumah mewah. Oh aku lupa ini tengah malam, tentu saja ini adalah waktu para manusia untuk tidur. Hanya sekitar tiga detik kuputari rumah ini, aku terhenti pada sebuah jendela yang temaram lampu kuning. Ada aura yang memanggilku, sebuah keindahan yang tak pernah ku temukan pada manusia manapun. Udara semakin dingin, gelap semakin memeluk malam, angin masih saja berhembus. Aku mencoba mengamatinya lebih dekat. Dialah anak manusia yang tengah terlelap, wajah bening tersinari oleh cahaya yang bersumber dari hatinya. Gerai rambutnya dan keindahan tubuhnya yang selalu terlindungi dari kejahilan manusia lain atau tangan-tangan setan. Pandini. Kuberbisik. Ku belai wajah yang terlelap itu dengan sentuhan lembut yang aku berharap dia merasakannya.

Jleg! Terasa waktu tiba-tiba berhenti, sinyal Tuhan meamnggilku dengan kuatnya. Langsung saja ku beralih pada langit, menerjang angin dan gelap serta dingin yang membuatku menggigil. Hey! Aku bukan manusia buat apa aku merasakannya. Beginilah kalau terlalu lama berpijak di bumi dan membayangkan menjadi manusia. Seperti telah menjadi mereka.

“Tidak pernah kuperintahkan kalian untuk mencintai manusia secara berlebihan. Tidak pula pernah kuminta kalian mendekati manusia lebih dekat dari jarak yang kuperintahkan. Jika ada yang melanggar dari itu, seharusnya kalian ingat hukuman apa yang akan kalian terima.”

“Tapi Tuhan, apa maksudMu mengatakan seperti itu? Apa aku telah salah menempatkan kekaguman?”

“Kalian tahu setiap inchi hal yang kalian lakukan tidak pernah luput dari penglihatanKu, jangan pernah merasa bodoh dan mengira Aku tak mengetahui.”

“Baiklah aku mengaku, aku mencintai gadis itu. Salahkah Tuhan?”

“Tidak. Banyak, bahkan siapapun disini memang diminta untuk mencintai manusia yang turut Aku mencintainya. Gadis yang kau datangi selama berhari-hari itu, aku tidak rela kau perlakukan secara berlebihan. Kurangajar sekali kau menyentuh kesayanganKu. Aku meminta pada kaum kalian untuk menjaganya, tidak lebih.”

“Ampuni aku Tuhan, sungguh aku tak bermaksud membuatMu murka.”

Tiba-tiba suasana semakin terang. Terang. Terang. Sampai mataku yang kuyu ini silau dan aku merasa sangat buta. Gelap dan pekat. Apa ini Tuhan? Bisikku meminta kepadaNya. Tapi tak ada jawaban. Bukankah aku sendiri cahaya, mengapa kali ini gelap menenggelamkanku. Mataku sakit mencari-cari. Kalaupun ada kegelapan yang kulalui belumlah segelap ini. Tuhan aku tak suka kegelapan.

Aku tak tahu apakah ini yang dirasakan manusia pada kematiannya. Tetapi apakah aku telah mati, mengapa aku masih mendengar suaraku sendiri. Aku berteriak, berkali-kali agar Tuhan menjelaskan apa yang terjadi padaku. Aku benar-benar menyesal dengan yang aku lakukan. Bukankah Tuhan sangat menyayangiku. Aku tahu dan yakin akan hal itu.

“Inilah penjara bagi kaum kalian”. Sebuah suara yang datang, lembut dan melegakan hatiku.

“Tuhan. Itukah Engkau? Mengapa Kau menghukumku sesakit ini? Bukankah aku hanya melakukan kesalahan kecil?”

“Bukan sekecil apa yang kamu lakukan. Tetapi Aku sungguh tahu dirimu bahkan lebih dari yang kamu tahu. Aku tahu bahwa kamu pun sangat tidak mensyukuri penciptaanmu segabai malaikat. Pernahkah kamu berpikir itu menyakitkanKu. Padahal telah Ku ciptakan kalian dengan kasih sayang dengan sebaik-baiknya penciptaan. Aku tempatkan kalian sesuai dengan tugas dan wilayah kalian masing-masing.”

Setelah kalimat itu. Kutunggu mungkinkah Tuhan ingin memnyampaikan yang lainnya. Sungguh aku mulai menyadari kesalahanku. Tetapi jeda kalimat yang begitu lama.

“Tuhan? Apakah aku boleh menyampaikan sesuatu? Aku sungguh sangat menyesalkan selama ini tidak mematuhiMu. Terima kasih telah menciptakanku.”

Tidak ada jawaban. Baiklah, paling tidak aku tahu kegelapan ini adalah penjara. Aku hanya berharap Tuhan masih akan memaafkanku. Kutahu Dia sangatlah pemaaf.

Suatu waktu ada suara burung dan gemerisik angin seperti di bumi. Hah, mungkin itu hanya imajiansiku saja yang telah lama merindukan bumi. Seperti halnya dahulu tugas yang dibrikan Tuhan paadku untuk berkeliling bumi. Aku tak pernah lupa dengan sayap kuhalau angin, menyisip pada daun-daun dan lembah. Berlomba terjun bebas dengan air yang sombong tak pernah takut menuruni jurang yang begitu dalam. Memangnya kau pikir aku siapa angin. Aku bukan manusia yang tak bisa terbang, aku pun tak takut terjun ke bawah sana. Terkadang aku tertawa geli mengobrol bersama partikel-partikel itu.

Tidak seperti pertama kali aku di penjara ini. Semakin sering kudengar suara angin. Bahkan terkadang kau mendengar suara manusia yang tertawa atau sedang mengobrol. Lucu sekali, mungkinkah penjara ini ada di bumi? Terkadang pula dan semakin sering, aku merasa keinginan, pernah sampai menggigil. Berkali-kali kuyakinkan bahwa aku tidak sedang menggigau atau berhalusinasi. Tetapi memang aku sedang menggigil.

Hal yang paling aneh kurasakan adalah seperti waktu menyimpan beberapa kehidupanku. Aku merasa sangat kepayahan dengan diriku kemudian begitu saja aku terlupa apa yang baru saja kulakukan. Selama berhari-hari aku berpikir apakah ini. Apakah ini yang disebut tidur oelh para manusia? Bukankah aku malaikat, mengapa aku tidur? Aku sangat benci jika baru saja terbangun, aku merasa seperti waktu telah mengalahkanku, karena aku melaluinya tanpa aku tahu apa yang aku lakukan.

Suatu ketika aku berusaha mengalahkan perasaan yang biasanya akan membawaku pada ketidaksadaran itu. Aku berusaha keras, terkadang aku tertawa merasa sangat menang mengalahkan waktu. Tetapi entah mengapa saat itu aku tak bisa.

Dalam setengah kedasaranku. Aku mendengar kicau burung yang semakin jelas. Angin yang semakin nyata membelaiku, suara hiruk pikuk yang sebelumnya hanya kudengar di dunia sekarang begitu lekat dalam telingaku. Satu lagi, cahaya. Cahaya begitu terang membelalakanku. Syukurlah, akhirnya aku bertemu denganmu kembali cahaya. Eh, tunggu dulu. Dimana aku? Dunia? Tidak, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak pernah terbang kesini. Mnegapa aku bisa sampai di sini.

Tidak hanya itu saja yang paling membuatku bertanya-tanya adalah mengapa manusia-manusia itu mengarahkan mata mereka ke arahku. Apakah mereka menyadari kehadiranku? Tidak, aku harus segera pergi dari sini. Dahulu aku berharap bahwa gadis itu menyadari kehadiranku, tetapi aku merasa kehadiran yang disadari ternyata tidak begitu nyaman untuk saat ini. Ya, aku harus segera terbang meninggalkan tempat ini.

Kupejamkan mataku memanggil angin. Kukapakkan sayapku. Apa? Dimana sayapku? Kuraba bagian punggungku semua halus, tak ada pangkal sayap. Tuhan apa yang terjadi? Apakah Kau benar-benar mengubahku menjadi manusia? Ayolah, barangkali aku saat itu hanya bercanda berkeinginan menjadi manusia. Tuhan maafkan aku, bawalah aku kembali ke sisiMu.

Tiba-tiba datang segerombolan anak-anak manusia menyorakiku.

“Orang gila! Orang gila!”

“Hey kamu nggak malu telanjang seperti itu” salah satu dari mereka berkata dengan ekspresi risih.

“Ayo kita usir dia sini”

“Orang gilaa... Orang gilaa...” mereka semakin menjadi-jadi menendangku yang masih duduk di bawah pohon.

“Eeehhh Ehhh... kalian tidak boleh seperti itu” tiba-tiba datang seorang perempuan tengah baya mengusir mereka. Kemudian perempuan itu pun beralih kepadaku.

“Adik mengapa di sini? Mamamu dimana?” dia bertanya padaku, tetapi aku harus jawab apa. Aku hanya menggeleng.

“Adik namanya siapa? Bagaimana bisa telanjang di sini?” perempuan itu berjongkok memegangi pundakku. Kemudian dia mengambil sebuah telepon genggam dari tasnya.

“Iya dia berumur sepuluh tahunan. Aku bawa pulang ke rumah ya Pah? Kasihan dia tidak memakai baju. Aku curiga dia korban penelantaran anak” katanya pada suara yang terdengar jauh dari telepon genggamnya.

“Ayo dek, pulang ke rumah tante dulu. Nanti di sana kamu bisa bermain dengan anak tante yang terakhir, namanya Rafa. Dia seumuran dengan kamu. Tidak perlu takut, tante bukan orang jahat.”

Sampai juga pada sebuah rumah yang tak asing bagiku. Aku merasa telah berkali-kali mengunjungi rumah ini. Dia mempersilahkanku duduk pada sebuah ruang tamu. Kemudian memberiku sebuah baju.

“Itu kamar mandinya, kamu mandi saja disana, ini baju dan handuk untukmu. Kalau sudah selesai, nanti tante ada di dapur. Semoga setelah ini kamu lebih tenang dan bisa berkenalan dengan tante dan keluarga tante.”

Baik sekali manusia ini. Aku pun bergegas pergi ke kamar mandi. Butir-butir air itu membasuh kelelahanku. Aku merindukan Tuhan, sungguh menyakitkan hukuman ini. Dahulu memang aku ingin sekali menjadi manusia, tapi ternyata menjadi malaikatpun tidak seburuk yang aku kira. Menjadi manusia sungguh tidak mudah. Alasanku menjadi manusia, boleh jadi karena aku sangat mengagumi gadis itu. Sungguh akan menyenangkan apabila kekagumanku ini dia ketahui. Aku ingin menjadi yang selalu melindunginya dari tangan-tangan jahat.

“Kamu sudah selesai mandi? Ayolah kita ke ruang makan, sudah ada suami dan anak-anakku disana” katanya dengan lembut membimbingku ke sebuah ruangan di balik kamar mandi.

“Nah ini dia keluarga tante. Ini Bapak Rio, suami saya. Pah kenalin nih.”

“Oh iya saya Rio” katanya sambil tersenyum, laki-laki yang duduk di kursi tengah meja makan. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

“Nah kalau yang ini Rafa anak saya berumur delapan tahun. Ayo nak kenalkan dirimu.”

“Hai, namamu siapa. Aku Rafa, nanti kita main bareng yuk” katanya sambil menghampiriku.

“Yang terakhir dan paling cantik, ini anak saya yang pertama. Namanya Pandini. Dia sedang ujian skripsi program percepatan, do’akan ya” kata si ibu itu dengan sangat ramah.

“Hai ganteng, aku Pandini, senang bertemu denganmu. Ayo kita makan sama-sama sekarang”

“Eh, tunggu Ibu jadi inget nih, dari tadi kayaknya belum perkenalan” kata perempuan yang sedari tadi berdiri di sampingku.

“Emm, kenalin nama tante Husna. Kamu boleh panggil bibi, tante, atau ibu juga boleh. Nanti saya dan suami saya akan mencari orang tuamu, untuk sementara kamu bisa tinggal di sini dulu. Kamu bermain dengan Rafa. Rafa anak baik kok. Iya kan sayang?” katanya padaku kemudian beralih pada Rafa, anak bungsunya.

“Iyelah” jawab Rafa menimpali.

Aku hanya bisa mematung, membeku tak pedulikan waktu yang terus berdetik. Aku sekarang telah berada di tengah-tengah keluarga Pandini. Gadis yang pernah ku impikan. Aku bahkan menjadi kawan adiknya. Aku menjadi manusia yang entah jika aku siap berucap, aku akan bingung apa yang akan kukatakan pada mereka. Haruskah aku berbohong mengarang cerita narsai deskripsi, atau jujur dan menceritakan semuanya sehingga mereka akan menganggapku telah gila.

Tuhan aku sekarang tak mampu mendengarMu, sekarang aku tak mampu melihatMu. Entah sampai kapan hukuman ini akan berakhir, aku sangat merindukanMu.

~The End~

  • view 28