WAKTU

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Puisi
dipublikasikan 05 Mei 2017
WAKTU

Jika setiap waktumu selalu dihitung

Tidak ada lagi detik yang kan terbuang

Jika saja ada yang dengan lantang setiap saat menghitung mundur,

Setiap sekon umur yang kau miliki,

Jika tepat didepan korneamu ada sebuah pendulum waktu yang menggema hingga keruang hatimu

Memaksamu tak ingin berhenti berlari

Masihkah manusia akan saling melukai?

Atau bahkan saling membunuh berebut detik?

 

Sayangnya tak ada satupun jenderal atau panglima perang, atau siapapun yang merasa paling hebat, untuk membunuh waktu.

Mata-mata tajam, piciknya sebuah kekikiran, ketidak jujuran, tamak!

Tabiat-tabiat setan yang bernaung dalam diri manusia, dan kegelapan dari kejahatan manapun

Tak kan pernah mampu lumpuhkan waktu.

Mereka hanya melukainya.

Menodai indahnya matahari yang terbit dan tenggelam.

Tersungkur sang rembulan dalam sapaan pucat saksikan tangan-tangan dan intelektual yang saling berselisih, kaki-kaki bergerilya untuk menusuk punggung sesama.

Surga bukan disini kawan,

Ini adalah gunung berapi, bukan hangat sinar mentari…

 

Tengoklah disana wajah pucat pasi, cokelat tua, rona yang paling indah yang mereka miliki.

Lihat manusia yang kau anggap kotor, baju rombeng lusuh yang tak nampak lagi warna aslinya, celana warisan turun temurun entah generasi keberapa, menggendong sebuah karung putih ukuran raksasa.

Berjalan telusuri jalan-jalan sempit, mencari tempat paling kotor disudut kota. Hatimu akan bergeming dari keangkuhan, jika kau selami mimik mereka.

Apakah detik ini mereka bahagia? Siapa yang peduli!

Tak mudah membahasakan kebahagiaan.

Bukan penghormatan dari kegengsian yang mereka cari, layaknya kita.

 

Wajah hari telah mengajari,

Saat kau terlambat bangun, kau kecewa tak dapat menyambut matahari membuka cerita.

Satu episode itu, jelas kau tak akan mendapatkan awal yang indah.

Namun, ketika senja menjelang, berlarilah keujung kota, berjalanlah dikaki lembah.

Diujung sana, tepat dideretan gunung bermukim, sisa-sisa cahaya siang menerpa dihamparan hijau permadaninya, memantulkan sinar kemilau. Di atapnya, saksikan kelebat putih, atau gulung-gulungan awan yang menaungi, bersahabat merah saga yang semakin jelas. Hangat yang melebur terganti dingin yang mendominasi. Sebuah pesona cantik dari bumi yang tak mudah dibahasakan.

Hari itu, mungkin kau tidak mendapatkan indahnya fajar, hangatnya sapaan mentari. Namun, kau menemani matahari lepas dari ribaan siang, merasakan transformasi hangat dan dingin dari senja. Bukan hanya fajar, senjapun indah kawan…

 

Denting masihpun mencari matahari,

Andaisaja kau tahu seberapa lama kau akan disini

Jikasaja analisismu tepat, kapan kau akan temui akhir dari ceritamu

Orang-orang yang kau sayangi, hingga kapan kau akan bisa melihatnya

Kata terakhir apa yang kau dengar darinya

Tidak ada yang tahu,

Kapan waktu akan mengkhianatimu!

  • view 35