Harry Potter

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Mei 2017
Harry Potter

Dahulu kamu bilang kamu ingin menghilang. Aku tak percaya dan menganggap hal itu hanya lelucon. Aku tahu kamu memang suka mencari perhatian. Terlalu paham aku tentangmu. Aku tak pernah menunggu, aku tak mau menanti ucapanmu itu benar. Hanya saja ada ucapanmu lainnya, ya, sebuah janji yang selalu membuatku terus menunggu, membuatku terus berlari berharap mentari esok terbit melangkahkan kaki semakin dekat. Ada ucapan ada sorotan mata yang meyakinkan hingga aku tak pernah lelah berlari, aku tak jenuh menunggu.

Aku masih ingat, ketika sayup angin sore berhembus. Bening kolam depan laboratorium fisika menontonkan kecebong-kecebong berenang kesana-kemari. Wangi angin bulan Mei memberikan bau khas yang hingga kini masih lekat dalam ingatan.

“Kamu yakin akan pergi kesana?” tanyamu setengah tak percaya pada ocehan anak SMA sepertiku

“Kenapa tidak? Eropa itu daratan yang menyenangkan bukan? Kamu ingat The Leaky Cauldron, Diagon Alley, Hogwarts School dan London Eye semua itu ada di Eropa. Kau tahu perpustakaan tertua di Inggris, itu salah satu tempat yang digunakan untuk syuting Harry Potter. Bukannya kamu sendiri yang bilang suatu saat nanti kita harus mengunjungi tempat-tempat itu?” kataku saat itu, mengingat pertama kali kita menonton film Harry Potter.

“Itu tempat-tempat yang jauh Ra... Kupikir kamu tak menganggap ucapanku itu serius?” katamu sambil menunduk kembali menyaksikan kecebong berkeliaran di kolam.

“La, kamu harus percaya di dunia tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya itu mungkin, aku yakin suatu saat nanti kita pasti bisa mengunjungi tempat-tempat itu. Gimana La?” kataku menatap lekat matanya mencoba membuatnya meyakini setiap patah kata yang kuucap.

“Kenapa kamu selalu membuatku mengaktifkan otak kananku. Imajinasimu terlalu tinggi. Aku tidak peduli bagaimana itu semua akan terjadi. Tapi aku percaya kita bisa bertemu di sana suatu saat nanti. Janji kan Ra?” katamu dengan senyum mengembang.

“Oke, janji. Lihat langit itu, bersinar begitu biru. Ada Tuhan dan semua yang ada detik ini adalah saksinya”

Hening sekejap, kemudian kembali tawa kita memecah menertawakan impian yang sekarang tergambar jelas dalam otak kita. Meskipun kita tak pernah tahu apakah itu semua akan menjadi nyata atau tidak. Saat itu kami bahkan tidak berpikir bagaimana akan kesana, yang kami tahu suatu hari nanti tempat itu akan mempertemukan kita.

Ujian kelulusan semakin dekat. Dia adalah teman kelasku yang terbaik meski kami jarang satu bangku. Dia jago dalam matematika, dan dia berpikir bahwa aku lebih jago dalam Bahasa Inggris daripadanya. Sehingga sepulang sekolah kami sering belajar bersama. Tak jarang pula kami menyewa kaset DVD film untuk ditonton bersama. Misi kami satu, yaitu untuk menambah kemampuan berbahasa Inggris. Saat itu film yang sedang terkenal adalah Harry Potter. Kami tak pernah ketinggalan satu pun serinya.

Pada seri “Harry Potter and The Goblet Fire” ada satu tokoh yang menurut kami sangat menarik. Namanya Cedric Diggory. Setelah kami mencari tahu tentang tokoh tersebut, kami sampai pada film terbaru darinya, Twilight judulnya. Kami pun kembali menonton film tersebut dan mengikuti setiap serinya. Kami juga menonton film yang berjudul Narnia dan setiap serinya.

Setiap film tentu saja dibuat untuk mempengaruhi penontonnya. Begitulah kami yang awalnya berniat untuk belajar bahasa Inggris, akhirnya satu keberhasilan adalah kami menyukai setiap kalimat dalam bahasa Inggris. Bukan berarti kami langsung ahli berbicara dalam bahasa Inggris. Kami belajar satu persatu kalimat yang kami anggap bagus. ”I’m only afraid losing you” itu kalimat dalam film twilight yang berkesan bagiku. Banyak kalimat lain yang juga menambah vocab kami.

Ternyata bukan saja  dalam segi bahasa yang mempengaruhi kami. Kami bahkan membayangkan apabila kami masuk menjadi salah satu tokoh dalam cerita tersebut, atau barangkali menjadi salah satu anggota keluarga tambahan. Kami juga membayangkan suatu saat nanti akan mengunjungi tempat-tempat tersebut. Mungkin kami sudah gila saat itu. Semua itu begitu nyata dalam ingatan, sampai saat ini, masih segar tergambar.

Ujian telah berlangsung seminggu yang lalu. Ada beberapa yang masih datang ke sekolah untuk hanya sekadar mengisi waktu, namun beberapa lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah, atau berlibur melepas sisa-sisa ketegangan ujian sekolah. Beberapa justru sudah berkeliling ke kota besar untuk mencari informasi pendidikan lanjutan.

Pagi itu aku bermaksud mengunjungi rumah kosmu yang berada di gang sebelah perumahan gang ku. Aku juga membawa beberapa kaset DVD yang sudah kita tonton kemarin, aku bermaksud memintamu menemaniku mengembalikannya ke rental. Sengaja aku tak menghubungimu terlebih dahulu karena kupikir seperti biasanya kau hanya di kamar kos menonton film atau membaca novel.

“Bu, Mbak Zolla ada?” tanyaku pada Ibu kos yang selalu standby menjaga warung yang berada persis didepan rumah kos-an miliknya.

“Lho, Mbak Azolla sudah pulang kemarin sore, habis maghrib gitu. Nggak pamit sama Mbak Nera toh? Saya pikir kakaknya cuma mau jenguk aja, tapi kok tumben bawa mobil segala, eh ternyata semua barang-barang Mbak Azolla dikemasi. Dia juga langsung ikut pulang ke Bekasi” jawabnya membuatku setengah tak percaya dengan apa yang dia ucapkan.

“Berarti sekarang kamar kosnya sudah kosong Bu? Sama sekali tak ada barangnya satu pun? Dia bilang akan kembali ke sini lagi nggak Bu?” tanyaku langsung memberondong dengan beberapa pertanyaan.

“Wah, ibu belum sempat cek masih ada barang yang tertinggal atau tidak. Tapi dia udah balikin kunci kamar dan nglunasin tagihan bulan ini yang sebenarnya baru habis dua minggu lagi. Dia tidak bilang banyak, Ibu cuma dipamiti saat mereka mau pulang, maklum tadi malam warung Ibu rame, biasa malam minggu” jelasnya sambil tersenyum.

Saat itu aku benar-benar terkejut, belum pernah dalam pertemanan kita kamu tidak menceritakan apapun. Bahkan apa susahnya berpamitan padaku, setidaknya meskipun hanya melalui pesan singkat. Aku benar-benar marah padamu. Seharian kutunggu telepon genggam, kunantikan namamu muncul memberikan pesan singkat atau bahkan panggilan. Tapi tidak satupun. Kulihat media sosial, postingan mu tak berubah. Sama sekali tak ada kabar.

“Alhamdulillah baik Bu. Emm Bu, ibu punya nomor telepon orang tua atau kakak Zolla nggak?” kataku menjawab sapanya ketika bertemu Ibu kos di seberang jalan.

“Waduh saya cuma punya nomornya Mbak Azolla aja. Nomornya... tidak bisa dihubungi ya?” tanyanya mencoba menyelidik

“Emm... seminggu yang lalu, sejak Azolla pulang aku nggak langsung menghubungi dia. Tadi pagi aku mencoba mengirimkan sms tapi nggak ada satu pun yang terkirim. Sepertinya nomornya nggak aktif Bu”

“Eeh iya Ibu baru ingat, kemarin waktu ada anak yang mau ngisi bekas kamar Mbak Azolla, dia ngasih Ibu hp, kemungkinan itu hpnya Mbak Azolla. Ibu bingung mau tak kasih siapa. Lagian nggak punya nomor lain selain nomor yang di hp Ibu bawa itu. Jadi udahlah, cuma Ibu simpan aja, kali aja besok diambil”

Ada sedikit rasa lega setelah mndengar penjelasan Ibu kos. Barangkali kamu sebenarnya juga ingin menghubungiku tetapi karena hp mu tertinggal, semua menjadi sulit untuk dilakukan. Sedikit menyesal juga setelah kemarin berprasangka sangat buruk terhadapmu. Setelah bertemu atau setidaknya kita saling sapa kembali, meskipun melalui telepon aku sangat ingin meminta maaf padamu.

Ujian Sekolah telah berlalu beberapa bulan di belakang. Pengurusan berkas dan segala hal telah selesai. Kupikir sekali dua kali kamu akan kembali kesini untuk pengurusan berkas, tetapi nihil. Perpisahan dan pesta pelepasan semua berlangsung sangat meriah. Kamu tahu, laki-laki anak kelas unggulan yang kamu bilang mirip Daniel Radcliffe itu, dia bernyanyi sangat merdu. Aku jauh penasaran apa yang akan kau katakan seandainya kamu melihatnya di sini. Tapi sayangnya aku hanya dilanda bayang-bayang. Semua orang berfoto dengan sahabat dan teman karib, beberapa ada yang sengaja berfoto dengan kepala sekolah dan guru. Aku hanya sekali berfoto sekelas, selebihnya aku hanya mengamati teman-teman dan semua kenyataan yang beberapa hari lagi hanya akan menjadi memori dan cerita. Aku hanya duduk dan menyesali kamu tak ada disini, itu saja.

Ayah menyuruhku mendaftar perguruan tinggi negeri di Solo dan Yogyakarta. Aku tak menolak atau bersikeras untuk mendaftar di Bandung atau Jakarta seperti keinginanku awal, aku sangat paham alasan utamanya adalah finansial. Sembari menunggu pengumuman yang masih beberapa minggu lagi, aku sering membantu Ibu membuat kue pesanan. Salah satu usaha tambahan Ibuku, tidak begitu sukses, tetapi cukup untuk membeli kebutuhan dan perlengkapan dapur.

“Iya Assalamualaikum, ini dengan siapa?” tanyaku mengangkat nomor telepon asing yang masuk.

“Waalaikumsalam. Ra... Ini aku Zolla, gimana kamu apakabar?” katanya terdengar begitu bahagia.

“Zolla? Yang benar? Alhamdulillah aku baik. Iiih kamu jahat banget pergi nggak bilang-bilang.”

“Maaf Ra, malam itu kakakku tiba-tiba bilang mau ke kosku, jemput aku, nenekku sakit keras. Ini aku lagi nungguin sendiri di RS. Aku benar-benar tidak sempat pamitan Ra, setelah sampai di jalan aku bermaksud menghubungimu, tapi hape ku hilang Ra. Mungkin tertinggal di kos lama, aku belum sempat tanya Ibu kos. Duhhh maaf ya Ra, aku memang selalu gini. Aku nggak bisa jadi sahabat yang baik, maaf banget Ra”

“Yaelah, santai aja kali La, udah aku maafin kok. Oh iya, tuh kemarin Ibu kos bilang masih disimpenin, nunggu kamu ngambi katanya”

Itulah terakhir kali telepon yang kuterima darimu. Satu hal yang lupa kutanyakan adalah nomor yang setidaknya bisa kuhubungi karena ternyata saat itu kamu menggunakan telepon Rumah Sakit. Aku juga belum sempat menanyakan kamu akan melanjutkan kemana. Seperti ada hal besar yang hilang. Perasaanku mengatakan akan banyak hal berbeda setelah ini. Ya setelah ini.

Aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Aku pun mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ayah membantuku mencari kos, Ibu mempersiapkan segala hal yang mungkin kubutuhkan saat kuliah. Maklum ini pertama kalinya aku akan hidup sendiri jauh dari orang tua. Aku mulai berkenalan dengan banyak teman, mulai dari yang awalnya satu sekolah, satu daerah dan berbagai daerah. Hal ini mempermudah urusan ketika aku sudah pindah kelak.

Masa transisi awal dari dunia putih abu-abu menjadi mahasiswa ternyata bukan hal mudah. Aku harus sudah dapat mengelola waktu dan harus mudah bergaul meski tetap menjaga diri. Tugas dateline dimana-mana. Terlebih sejak mahasiswa baru aku sudah mulai mengikuti kegiatan organisasi kampus. Aku tertarik dengan lembaga pers mahasiswa, dunia tulis menulis ternyata sangat menyenangkan. Tidak seperti ketika SMA dulu, disini aku lebih mudah bergaul, aku memiliki banyak teman meski tak satu pun ada yang sepertimu.

Satu tahun kuliah perlahan aku mulai bisa terbiasa denganmu yang bahkan tak pernah menghubungiku lagi. Barangkali kamu telah sibuk, semoga masa depanmu cerah, secerah langit yang menyaksikan ikrar mimpi kita dahulu. Aku mencoba bersikap dewasa dengan tidak menuntut dunia terjadi seperti yang ku mau. Bumi berotasi, tentu saja akan banyak hal yang selalu berubah setiap harinya.

Hanya saja terkadang aku masih membuka halaman media sosialmu yang sama saja tak pernah kau update. Kamu benar-benar tak ada kabar. Aku juga masih sering membuka foto-foto dalam file yang foldernya kuberi nama `us`. Setiap detailnya mengingatkan saat-saat kita dulu menangis dan tertawa bersama. Hanya saja itu hanyalah gambar. Hal yang paling istimewa dari sebuah gambar adalah tidak pernah berubah meski orang dalam foto itu telah berubah.

“Eh iya Ra, kamu udah cek pengumuman papernya belum?” tanya Luna, teman karibku di kampus.

“Lho emang pengumumannya kapan? Bukannya bulan Mei ya?”

“Maret kali Ra. 30 Maret. Hari ini sayang...” katanya membuatku syok.

“Ah yang benar? Masak sih? Ya udah bentar bentar aku cek dulu. Makasih ya Lun, kamu emang paling perhatian. Daadaah Luna...” kataku sedikit ragu, tapi tentu saja aku mempercayainya. Bukankah aku ceroboh? Barangkali dia benar. Langsung ku kunjungi sumber jaringan wifi paling kuat di kampus.

Ini adalah kado terindah dari Tuhan, di ujung masa perkuliahanku. Sebagai mahasiswa tua aku lolos paper ke Eropa. Benar-benar tanah yang pernah kuimpikan. Andai kamu di sini La, disampingku. Tuhan hening tapi tak diam La, kamu percaya itu kan? Langit yang kita sasikan hari ini adalah langit yang sama dengan pertama bumi terlahir, aku yakin telah banyak mimpi yang terukir disana. Ya dia bersaksi bahwa ikrar kita didengar Tuhan. La, kamu harus tahu ini La. Aku berharap.

Banyak hal yang kupersiapkan sebelum bulan depan aku berangkat ke Eropa. Kamu tahu La, aku yang belum mempunyai kamera rela meminjam uang Ibu dan mengambil setengah uang tabunganku untuk membeli kamera baru. Mungkin aku berlebihan, tapi aku hanya ingin menyimpan perjalananku di sana, setidaknya kalau kita belum bertemu di sana pada kunjunganku pertama ini, aku ingin menunjukkan padamu bahwa ocehan kita sore itu bukan bualan La. Aku ingin kamu menyaksikan ini La.

Kamu ingat La, Daniel Redclief dari SMA kita dulu. Anak di kelas unggulan itu, ternyata namanya Rusdi. Tidak sekeren mukanya ternyata. Tapi tetap saja otaknya secerdas golongannya dulu, kelas unggulan. Dia ternyata sekampus denganku dan papernya juga lolos, dia ambil fisika murni. Kami bertemu ketika pembekalan menjelang keberangkatan. Aku baru tahu ternyata kalian pernah kenal, satu hal lagi yang belum pernah kau ceritakan padaku. Aku belum pernah tahu ternyata kalian pernah bertemu satu organisasi di lembaga kepramukaan kabupaten. Aku tidak tahu akankah masih ada lagi hal-hal lain yang juga belum kau ceritakan atau sengaja tak kau ceritakan padaku. Apakah ini hanya pantulan perasaanku saja, aku merasa aku adalah sahabat terbaikmu kupikir akulah yang paling mengenalmu, ku pikir aku telah mengetahui semua tentangmu. Ya, aku baru ingat kamu kan manusia ya La, tentu saja mungkin kamu lupa menceritakan itu padaku.

“Wah kamu bawa kamera ya? Aku besok ikutan foto ya?” kata Rusdi mengagetkanku yang sedang duduk di bangku tunggu bandara. Dia bersama satu orang temannya.

“Oh, iya nih. Haha... Jarang-jarang bisa berkunjung ke Eropa. Eeiits nggak gratis lho ya?” kataku mencoba memecah kecanggungan

“Itu sih gampang Ra. Eh Ra, aku turut berduka cita ya?” katanya membuatku terbelalak

“Maksudmu?”

“Kamu belum tahu?”

“Tentang?”

“Tadi malam di grup kepramukaan kabupaten rame Ra. Awalnya aku nggak begitu peduli, karena kupikir obrolan gurauan anak-anak. Biasalah mereka! Abis itu, ada nama yang kamu bilang itu teman dekatmu dulu waktu SMA, eemmm... Mahesa Pradini. Aku lupa nama lengkapnya, dia di organisasi dipanggil Dini.”

“Azolla Mahesa Pradini?” kataku setengah mengeja, hati semakin kencang berdebar

“Iya, itu. Dia baik ya orangnya. Aku nggak nyangka aja. Baru tadi malam anak-anak bilang dia sedang kritis melawan kanker otaknya. Trus tadi pagi tiba-tiba ada anggota kami yang juga orang Bekasi mengirimkan kalimat duka cita. Katanya jam tiga dini hari, dia meninggal” katanya membuatku seolah membeku dan berada pada pusaran waktu yang tak pernah kuketahui dimana dan kapan saat itu.

Aku tak pernah tahu ternyata kamu menyebalkan La. Kamu begitu menyebalkan kenapa banyak hal yang tak pernah kau ceritakan padaku. Apa aku yang hanya menganggapmu sebagai sahabat, sedang kamu tidak pernah menganggapku sama sekali. La, kamu bisa bayangkan betapa bodohnya aku saat si Daniel itu mengatakan kepergianmu. Kamu pikir ini lucu La, ini bukan hari ulang tahunku La. Kamu tak perlu memberiku kejutan atau hadiah apa-apa seperti biasanya. Aku tak butuh La.

Azolla, tahukah kamu aku masih ingat tatap matamu, senyumanmu di dekat kolam depan laboratorium fisika itu. Aku begitu yakin kita akan bertemu di tempat-tempat yang pernah kau janjikan. Telah lama untuk menunggu waktu ini La, satu pijakan kaki di kota Harry Potter.

Rusdi berkali-kali menguatkanku. Dia tak tahu ternyata kabar yang dia bawa justru membuatku begitu terluka. Ya, dia benar aku harus menepis ini, setidaknya untuk sementara untuk melewati kegiatan-kegiatan di Eropa nanti. Sakit sekali La, kamu bukan hanya bersembunyi tapi kamu pergi ke tempat di manapun aku tak mampu menemukanmu lagi. Bahkan kamu benar-benar menghilang seperti yang dulu pernah kau ucapkan.

Aku baru sadar, terakhir kali kita bertemu lewat suara. Itu sudah sangat lama, kamu meminta maaf dan aku baru paham ternyata itu adalah kalimat terakhir darimu. Aku memaafkanmu La, tapi sangat sulit bagiku untuk memaafkan diriku sendiri yang tak pernah bisa menjadi sahabat terbaikmu.

 

The End

  • view 28