Tak Ingin Melewatkan Hujan

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Mei 2017
Tak Ingin Melewatkan Hujan

Kali ini rintik kembali turun pada tanah yang masih setengah kering selepas hujan tadi malam

Walaupun sebegitu banyak hal yang harus aku lakukan, entah mengapa melukiskan hujan dalam kata-kata adalah hobi yang selalu ingin aku lakukan. Hujan aku tak ingin melewatkanmu...

Rintik yang bergemerisik, tanah yang tiba-tiba saja menjadi kolam dengan riak-riak ramai. Sebentuk aliran sungai kecil mengalirkan cokelat air yang bercampur tanah. Dan lagi aroma petrikor kembali mewangi melukiskan khas yang tak bisa terwakili oleh musim lainnya.

Dan tahukah bahwa hujan selalu membawa kenangan-kenangan lama, kenangan yang sempat terlewat. Entah bagaimana energi hujan itu meramu hati menjadi sebegininya. Antara sendu, bahagia, rindu, beraduk menjadi satu perasaan yang selalu ingin mengundang kita untuk memaku. Diam dan hanya mendengar setiap rintik dan gemuruhnya langit hingga hujan benar-benar reda.

Aku tak ingin rintiknya berlalu namun kita kehilangan waktu untuk mendengar setiap rintiknya.

Ada hal yang membuatku tak ingin melewatkannya, barangkali karena kita tak pernah tahu, kapan dan dimana kita akan temui suasana yang sama lagi.

Tak heran, rahmat diturunkan bersamanya, doa dikabulkan ketika nya. Mengapa sebegini indahnya Allah?

Apakah karena ini adalah sebuah moment ketika langit dan bumi melebur menjadi satu? Ketika unsur langit yang jatuh, kemudian mengalir, perlahan meresap ke dalam bumi, menyatu dengan unsur bumi. Dua pertalian besar yang telah Kau ciptakan.

Tapi tetap saja, hujan hanyalah dunia. Dunia hanyalah setitik debu kecil di bawah telapak kaki manusia yang paham siapa yang paling besar di antara kebesaran yang mata kita sering tertipu karenanya. Ketika manusia mengenal Allah, akhirat dan semua keyakinan yang melewati batas logika dan perasaan, maka dunia hanyalah setitik saja. Cukup berada di genggaman tangan, karena qalbu hanya layak untuk akhirat.

Dapatkah pertemuan kita kelak seindah ini Allah?

Temanggung, 30 April 2017

  • view 37