SYUKUR

Anik Astiyati
Karya Anik Astiyati Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Mei 2017
SYUKUR

Suatu saat kita melihat betapa bahagianya orang lain menjadi sesuatu yang pernah kita impikan. Menyesalkan masa, dan bergeming ‘ku hanya bisa bermimpi’. Tapi sadarkah, orang lain pun pernah melihatmu dan berpikir yang sama. Rantai Mimpi kusebutnya. Kita bermimpi, tapi orang lain yang mewujudkan. Orang lain bermimpi, diri kitalah yang mewujudkan. Hanya saja kamu jarang menyadari, bahwa bisa jadi hidupmu adalah impian orang lain._Anik Astiyati

Hidup akan terasa sangat berat tanpa rasa syukur. Suatu ketika kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulutku, tanpa perlu terangkai dahulu seperti biasanya ketika akan beropini. Seolah kalimat itu justru mengingatkan diri sendiri betapa syukur itu memiliki kekuatan yang mahadahsyat untuk melapangkan hati yang terasa menyempit, meluaskan pikir ketika banyak tembok-tembok rintangan, meringankan langkah ketika jalan terasa lebih terjal.

Seringkali kita terlalu sering berbicara tentang orang lain, kenikmatan-kenikmatan dunia yang membuat mata kita silau. Kita memang tak sempat menggali sumur agama hingga kita pernah terombang ambing oleh masa, harmoni hangat sebuah rangkulan ayah dan ibu yang tak begitu sempurna ketika kita sama-sama dewasa. Tapi cukuplah hadirnya mereka di setiap hari, meski kadang cemberut, meski tak ada sapa atau terkadang hanya kalimat setajam belati yang justru mengiris hati. Boleh jadi kita pernah menyesal, tapi betapa baiknya Penguasa langit yang selalu membimbing tanpa pernah kita merasa dibimbing, selalu memberi tahu tanpa pernah menggurui, begitulah Dia mengajari kita, pelan tapi mendalam.

Ada hikmah dari setiap episode.

Meski kadang hidup terasa begitu sempit, layaknya himpitan tembok yang sukar untuk kita robohkan. Tapi kadang dunia terasa luas Sahara sampai kita tak tahu arah. Tapi riaknya gelombang sungai selalu menunjukkan kita kemana arah air itu akan bermuara.

Ketika itu kau pernah bilang, bagaimana kita bermimpi setinggi itu, bukankah kita hanya anak petani? Pelan tapi pasti, waktu menunjukkan bahwa Pemiliknya mempunyai seribu cara untuk mengantarkankita pada bintang yang pernah kita tunjuk itu. Sekali lagi kuucapkan mantera penegak hati yang pernah layu melihat kenyataan, ‘Allah-lah yang telah mengirim kita ke dunia, bukankah ini kehendakNya, apakah mungkin Allah akan melepas tanggung jawab itu atas diri kita? Percayalah bahwa apa-apa yang kita butuhkan di dunia ini telah Allah siapkan, kita hanya perlu bertakwa. Mengejar apa yang sama sekali belum di jamin olehNya. Surga atau Neraka yang akan menjadi akhirat kita? Bukankah itulah yang layak kita khawatirkan?’ Begitulah petuah sakti yang sering diucapkan oleh banyak manusia-manusia pengejar akhirat. Tapi kita perlu percaya dan yakin, bahwa manusia-manusia pengejar akhirat sama sekali tak pernah dibiarkan hidup terhina di dunia, apalagi sia-sia. Perhatikanlah dan saksikan. Sama sekali tak ada. Siapapun yang memperjuangkan akhirat dan agama ini sungguh namanya akan tercatat indah dalam goresan sejarah. Mengharum hingga kelak raganya tak lagi menemani matahari.

Percayalah, yakinlah, jadikanlah syukur dan sabar sebagai penolongmu, jadikanlah keduanya seolah dua tangan yang menggapaimu saat kamu terpeleset pada jurang kecewa. Menarikmu agar kembali berjalan dan membuka teka-teki itu agar kamu tahu bahwa kecewamu tak lebih hanya karena kebodohanmu yang tak tahu kebaikan dan keberuntungan dibalik langkahmu.

Jangan pernah berhenti, berjalanlah karena cahaya matahari masih belum enggan menemanimu. Sinarnya masih menghangatkanmu.

Bagaimana jika kita sederhanakan mimpi kita menjadi ‘menjemput senyum Illahi’ setujukah kau? Raihlah tanganku dan mari kita berlari menuju itu.

Temanggung, 1 Mei 2017

  • view 32