Melangit Rindu Ayah

Yusva Hardiyanti
Karya Yusva Hardiyanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juni 2016
Melangit Rindu Ayah

Ini adalah hari ke-6 aku mengurung diri di kamar. Aku sudah mengikuti semua ujian masuk perguruan tinggi yang ada, namun aku masih saja belum berhasil diterima sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran. Aku sangat putus asa. Bagaimana tidak? Ini adalah cita-citaku. Terlebih, Ayah juga sangat menginginkanku menjadi seorang dokter. Aku tak tahu lagi harus mengambil jurusan apa selain kedokteran. Hanya ini tekadku, menjadi seorang dokter dan membahagiakan Ayah. Semua usaha telah aku kerahkan, semua doa sudah aku panjatkan. Tetapi, Tuhan masih saja belum memberiku kesempatan emas itu.

Setiap kali aku sedih, aku selalu mengingat Ayah. Ayah berada di sampingku, memelukku, dan menenangkanku agar aku tegar menghadapi segala cobaan. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Setiap kali aku sedih, aku harus mampu menanggung kesedihanku sendirian. Tak ada sosok Ayah sebagai tempat bersandar, tak ada sosok Ayah yang memeluk dan menenangkanku. Aku semakin sedih apabila aku tak berhasil menjadi seorang dokter. Menjadi seorang dokter adalah permintaan terakhir Ayah sebelum ia pergi untuk selamanya.

*****

20 September, 14 tahun yang lalu. Ayah terlihat tampan dengan kemeja biru tua yang ia kenakan. Ayah selalu tersenyum, itu yang aku suka dari Ayah. Aku siap berangkat ke sekolah lantas berpamitan dengan Ibu dan Bang Hari. Baru saja aku duduk manis di dalam mobil, aku melihat darah keluar dari mulut Ayah. Ayah yang sudah berada di pintu rumah hendak mengantar ku ke sekolah, justru muntah darah. Kenapa Ayah harus muntah darah? Kenapa aku harus menyaksikannya? Kenapa Ayah tidak mengantarku dulu baru muntah?

Seorang sahabat pernah bertanya padaku, “Apa yang paling kamu rindukan dari Ayahmu?”

“Ketika Ayah mengantarkanku pergi ke sekolah. Sebuah rasa aman yang sangat luar biasa aku rasakan.”

Semenjak hari itu, aku kehilangan rasa aman ketika aku berangkat ke sekolah. Ayah harus dirawat di rumah sakit karena penyakit sirosis yang dideritanya. Enam bulan berada di rumah sakit bukanlah waktu yang sebentar. Kenangan bersama ayah terasa semakin menyedihkan karena harus melihat ayah terbujur lemas. Saat itu, yang aku tahu adalah Ayah pasti sembuh.

Lima bulan dirawat intensif, kondisi Ayah membaik.

“Lea, sebentar lagi kamu ulang tahun. Nanti kita rayakan di sekolah ya.”, kata Ayah sambil mengelus rambutku.

“Terima kasih Ayah… Ayah cepet sembuh ya supaya Lea bisa ulang tahun di sekolah sama teman-teman.”, jawabku sambil mencium pipi Ayah.

Sebuah janji tentang perayaan ulang tahun. Dulu, aku tak paham apa itu janji. Yang ku tahu hanyalah aku akan merayakan ulang tahun di sekolah. Sebuah pesta ulang tahun yang didambakan setiap anak kecil.

12 Februari, 13 tahun yang lalu. Hari yang cerah, secerah hatiku karena besok aku akan berulang tahun. Ayah memang masih berada di rumah sakit namun kondisi Ayah baik-baik saja, menurutku. Aku berkhayal tentang pesta ulang tahun. Aku berkhayal tentang hadiah dari teman-teman. Aku berkhayal tentang Ayah, Ibu, dan Bang Hari yang menemaniku di pesta itu.

Malam itu, aku hendak berpamitan dengan Ayah karena aku tidak diperbolehkan menginap di rumah sakit.

“Lea, semoga kamu menjadi anak sholehah. Jadi anak yang pintar dan besok jadi dokter ya.”

“Oke Ayah. Lea nanti jadi dokter jadi kalau Ayah sakit, Lea yang mengobati Ayah.”, jawabku mantap.

“Janji?”

“Janji! Lea pasti jadi dokter!”, jawabku sambil bergaya hormat dan suara lantang.

Ayah pun tertawa. Ayah memelukku sambil berbaring dan mencium kepalaku selama beberapa detik.

13 Februari, 13 tahun yang lalu. Hari yang sangat istimewa dan sangat aku nantikan. Tidak ada persiapan untuk pesta ulang tahun di sekolah. Ah, ini kan hari Sabtu sekolahku libur. Mungkin pestanya hari Senin. Tak apa deh yang penting ulang tahun di sekolah, pikirku. Bang Hari mengajakku pergi ke taman tempat kami biasa menghabiskan waktu di akhir pekan. Mungkin ini adalah jurus terjitu Bang Hari agar aku tidak bersedih di hari ulang tahunku. Matahari hendak pulang ke peraduannya, Bang Hari mengajakku untuk segera pulang dan pergi ke rumah sakit. Aku merajuk tak mau pulang hingga akhirnya Bang Hari menggendongku memaksa pulang dan aku menangis  karena masih ingin bermain. Sesampainya di rumah, tangisku berhenti dan kami bersiap ke rumah sakit. Telepon rumah berdering.

“Hari, Ayah meninggal…”, terdengar isak tangis dari seberang sana. “Kamu beres-beres rumah ya, kami langsung menuju ke rumah. Nanti Ibumu naik ambulance.”

Tut. Tut. Tut.

Masih sangat jelas bagaimana raut wajah Bang Hari saat itu. Ia segera memelukku, menangis kencang, dan masuk kamar. Aku tak tahu apa-apa. Tetapi aku ikut menangis karena melihat Bang Hari menangis.

“Dek, Ayah meninggal. Ayah tidak bisa bersama-sama kita lagi.”

Sejujurnya aku masih belum tahu apa arti kata meninggal tetapi mendengar kita tidak bisa bersama-sama lagi, aku menangis kencang. Aku tahu, bahwa aku akan kehilangan sosok Ayah.

Seketika, aku lupa dengan janji pesta ulang tahun. Aku lupa dengan hadiah dari teman – temanku. Yang aku ingat hanyalah pelukan terakhir ayah. Aku baru merasakan kehangatan pelukan Ayah. Pelukan hangat yang hanya aku rasakan beberapa detik saja. Aku semakin tergugu sambil memeluk boneka beruangku.

Hari istimewa menjadi hari yang paling aku benci. Melihat proses pemakaman Ayah menjadi hal yang paling aku benci. Kehilangan Ayah adalah momen yang paling aku benci. Perpisahan selalu menyisakan kepiluan dan kepedihan yang mendalam. Ketika harus berpisah dengan orang yang disayangi, itulah hal terberat dalam hidup.

*****

“Dek, abang boleh masuk?”, Bang Hari mengetuk pintu kamarku.

Tak ada jawaban dariku.

“Dek, sebentar aja kok. Abang kangen adek nih, boleh ya.”

Akhirnya aku membuka kunci pintu kamar dan membiarkan Bang Hari masuk.

“Dek, abang punya cerita buat kamu. Abang yakin, pasti kamu langsung meluk abang deh.”

“Ih apaan sih.”

“Dek, dulu Ayah pernah berpesan sama abang sewaktu abang masih SMP. Dulu abang nakal dan hampir tidak naik kelas. Lalu, ayah bilang begini sama abang. Jangan bangga jika berhasil. Jangan menyesal jika gagal. Karena yang buat berhasil dan yang buat gagal adalah Allah. Allah punya rencana. Maka selalu berdoa supaya setiap gerak kamu dikendalikan sama Allah. Makanya terus dzikir, ingat Allah maka Allah juga akan mengingat kamu. Silahkan bermimpi yang tinggi, Nak. Teruslah berusaha, tapi ingat bahwa semua sudah diatur oleh Allah. Luruskan niat, bismillah itu bukan sekedar menyebut nama Allah tetapi menghadirkan Allah dalam setiap langkah. Jadilah matahari bagi orang lain. Bukan menjadi badai untuk orang lain.

Aku langsung memeluk Bang Hari sambil menangis. Meskipun Ayah tak langsung menyampaikan padaku, tetapi aku tetap merasakan bahwa Ayah menyampaikannya dengan baik untukku. Pelukan hangat detik-detik terakhir dari Ayah kembali ku rasakan. Aku rindu Ayah.

Sore ini, aku melangkahkan kaki menuju pusara kasihku. Sosok yang sangat kurindukan. Selangkah demi selangkah kunikmati menanti waktu kami bertemu. Suasana tidak terlalu ramai. Beberapa orang-orang berkerumun melingkari kotakan-kotakan tanah merah. Mereka khusyuk berdoa mendoakan orang yang mereka cintai. Tibalah aku di pusara kasihku. Oh Ayah… Aku sungguh merindukanmu. Aku yakin kita akan bertemu di Syurga-Nya, berkumpul bersama, dan melakukan semua hal yang ingin ku rasakan bersamamu karena aku tak mampu merasakannya sepanjang hidupku. Khusyuk aku mendoakanmu. Menatap lamat-lamat pusara Ayah, membuat pipiku basah perlahan. 15 menit yang sempurna sekedar untuk mengobati rindu.

Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi

Dengan air mata di pipiku…

Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa

Walau hanya dalam mimpi…

Aku kembali ke rumah sambil bernyanyi lirih lagu kesukaanku. Ayah…

 

source : http://www.storial.co/book/melangit-rindu-ayah

  • view 103