Melarungkan pilihan-nya ; Rehat

Yusuf
Karya Yusuf  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Maret 2018
Melarungkan pilihan-nya ; Rehat

"lebih baik kita kembali dengan jalannya masing - masing" katanya.

Sambil sedikit menahan air dalam mulut yang sedang aku minum, pikirku saat itu mungkin ini bukan pesan serakah yang tidak bisa dijawab sebenarnya. Barangkali sedang ingin mencari opsi lain dari tersendatnya percakapan di awal pertemuan. sayangnya, pada saat itu aku yang memang belum ada persiapan untuk mendengar kalimat-kalimat seperti itu, sontak aku hanya bisa berhenti berkata-kata dan tidak punya pilihan diksi lain untuk bisa sekedar membuka percakapan ulang, barangkali untuk menakar lagi perihal apa itu semua.

Kurang lebih 10 menit tanpa jawab akhirnya aku-pun menyampaikan dengan penuh kehati-hatian "baiklah" singkat waktu itu. lalu, aku menghabiskan seperempat sisa minuman dalam gelas yang sudah dipesan dari awal pertemuan. Sesekali handphone yang dia genggam itu, dia fungsikan untuk sedikit melihat berita berita lucu barangkali. Aku anggap itu upaya-nya, karena senyum muncul setiap kali layar dihadapkan didepannya. Gesture keyakinan dan kemapanan pilihan, aku lihat dan akhirnya menghilangkan kalimat lain yang sebenarnya begitu banyak muncul dalam pikiran-ku, terutama tanya. Selepas itu, kita-pun pergi dengan jalan masing-masing. Tidak ada salam, tidak ada kalimat lain menutup pertemuan waktu itu. sekedar lambaian tangan yang menandakan bahwa pertemuan singkat itu telah berakhir.

Lalu, dalam nafas yang masih terengah selesai mengejar kereta malam. Aku mulai berfikir untuk mengartikan permintaan tadi, mengartikan senyum yang cukup cuek dia tunjukan, lalu lambaian tangan yang barangkali itu kesempatan terkahir untuk dilihat. Depan deretan kursi kosong, disalah satu gerbong kereta. hilang orang-orang, tidak ada desakan atau dorong-dorongan. lalu, anggapku mengerucut pada satu kata "Rehat".

"If she breaks let her break, break, break
Let apologies attract" - Charlotte pike

Dalam ingatan samar, sepenggal lirik lagu Pike charlotte sedang aku turuti, di praktekan langsung melalui mulut yang tidak terlalu banyak tanya meskipun memang masih belum ikhlas dalam fikir.

Rehat bagiku saat itu adalah kelas diksi yang bersifat kerja yang menandakan adanya "want to be dan will" dari pelakunya. Rehat/istirahat adalah hal yang begitu kontekstual serta identik dengan ukuran, kemampuan, serta keadaan. Permintaan untuk tidak lagi dalam proses yang sama mungkin bukan sebuah permintaan yang serta merta muncul tanpa sebab, dia sudah mempertimbangkan banyak hal untuk itu, yakinku.

karena rehat masih memiliki makna pilihan. Meskipun ukuran, kemampuan serta keadaan sudah mencapai batas, aku kira. contoh nyata seperti John Stephen Akhwari, 1968. Saat itu seluruh pemenang perlombaan lari marthon itu telah ditentukan, juara 1, 2, dan 3,  tidak mungkin berubah lagi. Bahkan para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku stadion yang sudah mulai kosong. Akan tetapi tak berapa lama, penonton yang belum pulang itu dikejutkan dengan adanya pengumuman bahwa akan ada pelari yang akan masuk stadion. Penonton kaget, mereka kira sudah selesai perlombaan, tetapi mereka melihat dengan jelas saat seorang pelari memasuki ke stadion dengan terpincang-pincang. Masih lengkap dengan pakaian larinya serta nomor di dadanya, dia masuk ke stadion dan berlari kecil-kecil sambil terpincang dengan balutan luka di kaki kanannya. Serentak, seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan dan mereka menyemangati pelari ini untuk terus berlari hingga finish. Suara dukungan disampaikan kepadanya. Dan ini membuat pelari itu terus bersemangat hingga kemudian dia menyentuh garis finish. Dia berhasil sampai pada garis finis, di saat tidak ada pelari lain lagi. Dia adalah pelari terakhir dalam perlombaan itu. Dia datang saat hari telah malam.

Begitulah Rehat adalah pilihan,

dan John Stephen Akhwari, memilih untuk tidak menciderai semangatnya dengan menyerah pada keadaan. nyata terbukti.

Artinya, permintaan untuk tidak lagi jalan bersama-sama dalam satu lajur adalah pesan tentang pilihan untuk beristirahat tanpa ada opsi untuk melanjutkan atau membangun upaya lain yang barangkali dibangun mempertahankan. Entah apa yang menyebabkan benteng terkahir itu yang dia dipilih, mungkin kesalahan atau mungkin janji-janji yang belum aku tepati.

Sedang sisi lain dari pikirku menyusun kalimat singkat, tentang ;

Bahwa, menjauh adalah upaya engah dari salah.

Biarkan sadar, mengalir dalam laku.

Biarkan, tuhan selaraskan.

22:20 Wib, Baru beberapa langkah pintu sudah terbuka, kaka menyambut dengan handuk ditangan dan langsung mengarahkan untuk mandi dan bergegas beristirahat. Tanpa perlu berpikir panjang, perintah itu aku iya-kan karena memang sudah lelah juga seharian bekerja dan menempuh perjalanan yang cukup lama untuk sampai di rumahnya.

selesai, lalu tidur.

  • view 48