Duapuluh Tiga Tahun

AA YUSUP
Karya AA YUSUP Kategori Motivasi
dipublikasikan 17 September 2017
Duapuluh Tiga Tahun

Babak Melihat

Catatan Pinggir (Jilid I), Buku pemberian pertama yang saya dapatkan dari saudara kala itu. Saya masih ingat betul, pemberian buku itu saya dapati pada umur saya yang masih belum genap 15 tahun. Tidak ada upaya protes ataupun mengkritisi pemberian buku tersebut. karena sejujurnya, waktu itu saya pun tidak begitu dekat dengan buku atau ruang ruang literasi lain yang tersedia dilingkungan saya. Layaknya anak kampung lain, saya lebih terobsesi dengan permainan permainan seperti kelereng, layangan, main gambar, atau paling keren adalah bermain sepakbola dengan kampung lain.
Sungguh, saya masih sangat khatam betul tentang bagaimana pikiran pikiran saya pada saat itu. Jangan-kan untuk membaca, untuk menjenguk ruang ruang kecil tempat buku buku di jejal diruang kelas sekolah pun saya tidak memiliki i'tikad untuk menemuinya.

Saya benar benar menjadi seperti orang orang lain dilingkungan saya. Saya mengikuti gaya hidup mereka, sekolah, istirahat, pulang lalu mengaji, lalu mengaji dan mungkin sekali waktu bolos mengaji untuk main sepak bola sembari hujan hujanan. Namun selesai itu, saya pun harus tetap mengaji lagi dan terus seperti itu. Semua berjalan seperti sebuah upacara yang harus dilakukan namun belum tentu tau apa makna dari upacara tersebut. memang begitu adanya dan Seakan melegitimasi formalitas hidup yang dilakukan oleh orang orang disekitar saya dan mungkin ditempat lain diindonesia.

Sepanjang hari yang saya temui hanya kebiasaan kebiasaan yang jarang sekali menggairahkan, mempelajari hal hal baru menjadi sangat tidak mengesankan dalam pengelihatan saya waktu itu. Sekali lagi ini semua melegitimasi ketidakmanfaatan waktu yang saya habiskan (meskipun sebenarnya sekolah & mengaji).

Mengutip apa yang disampaikan oleh seorang Jonh Lubbock, pakar bilogi dari eropa ;
"jika ragu dalam melakukan sesuatu, sebaiknya tanya kepada diri sendiri, apa yang kita inginkan esok hari dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya”

Tanpa sadar keresahan keresahan saya waktu itu menggiring saya kedalam banyak pertanyaan yang menumpuk. Seperti apakah saya harus jadi ustadz ketika dewasa nanti ? atau saya harus bersemngat jadi Guru honorer ? Mungkin PNS desa  dengan segudang kesombongannya ? atau buruh bangunan ? pilihan pilihan masa depan yang saya lihat dari kacamata kehidupan yang saya lewati.

Sementara pertanyaan pertanyaan itu muncul, Lalu buku itu saya apakan ?
Nah, meskipun latar belakang saya sangat jauh sekali dengan kemungkinan melahap buku tersebut untuk  dibaca setiap jam pulang sekolah atau malam hari sebelum tidur. Alih alih mebuangnya, saya malah penasaran dengan isi buku-nya yang tidak saya buang dulu. saya tetap simpan buku itu untuk memenuhi rak buku saya dan sekali waktu juga saya jadikan bantal kala tidur dilantai papan rumah saya.
 
Saya coba baca acak waktu itu, judul judulnya cukup aneh & sangat asing bagi saya. Ada banyak cerita serta tokoh tokoh yang belum pernah saya tahu sebelumnya. lalu Hasil-nya absurd ! saya tidak mengerti apa apa dan tidak menjadikan saya tertarik dengan dunia literasi. owh shit
Umur saya sekitar 18 tahun, jarak yang cukup lama dari pertama kali saya terima bukunya lalu membacanya, bukan ? tapi itulah kenyataanya. Sisa yang saya dapat hanya pertanyaan lagi, yakni tentang tokoh pembuat buku aneh tersebut. Seorang Goenawan muhammad !

Babak Menyentuh

Guru guru selama masa kecil saya pada jam kelas selalu menyeru dengan lantang tentang rajin lah anda belajar, rajin lah menghafal, rajin lah membaca dan bla bla bla.. Usulan usulan yang saya kira tanpa sadar saya dan anak anak lain pikir mereka juga melakukan-nya untuk diri sendiri atau untuk anak anaknya dirumah. (Kebetulan banyak guru SD & SMP saya masih satu daerah). Namun, apa yang saya dapati tidak seperti itu. Dunia pendidikan dan lingkungan rumahnya seakan dua dunia yang berbeda.
Saya pun berkesimpulan, orang orang dewasa itu sedang berdusta. Jadi, buat apa saya nurut.

Masa masa keAKU-an ketika kecil itu pun perlahan memudar, mulai larut dalam perkembangan kehidupan. ketika masuk SMA (umur 18-n), rutinitas saya jadi sangat berbeda. menyita waktu, setengah dari kehidupan saya dihabiskan dengan kegiatan kegiatan yang disediakan disekolah. Gairah yang jauh lebih saya dapatkan untuk mempelajari hal hal baru dalam hidup. Tidak terlibat lagi dalam konflik batin rutinitas palsu yang sangat tidak menggairahkan.

Menimbang adalah hal yang menjadi lumrah dalam pikiran saya. Maklum, Masa pubertas adalah masa dimana plagiatisme itu gratis. Kegiatan mengikuti orang orang yang disukai itu menjadi hal lumrah yang biasa saja, asal dikoreksi. Termasuk mulai menimbang untuk segera memahami buku catatan pinggir karya Goenawan muhammad. Hal pertama yang disasar tentu tokohnya, karena dari isi buku jelas saya belum paham apa apa. Masih sangat muda dan jauh pengetahuan saya untuk memahami apa yang ditulis GM dan maksudnya kemana.

Saya coba melihat sosok Goenawan muhammad, profil nya, keluarganya, lingkungannya, pendidikannya lalu apa apa saja yang orang lain kenal dari goenawan muhammad. Ternyata pirasat saya benar, dia orang aneh. Dia sosok yang bisa menjadi bebas ditengah lingkungan dan keadaan yang menurut saya lebih mamaksa kita melakukan hal hal biasa saja dalam hidup, zaman zaman nya negeri indonesia masih labil dan relatif masih belum aman.
Perbandingan yang jauh dari apa yang sudah dan mungkin tengah saya alami, saya tidak bisa keluar dari rutinitas hidup yang sudah menjadi formal dalam kamus masyarakat. saya mengikuti pola hidup mereka dan mungkin sudah mendarah daging.

lalu, pertanyaan muncul seiring dengan kekaguman saya itu? apa yang membuatnya seperti itu? bagaimana dia menjadi sekarang dengan proses proses nya dulu yang cukup rumit menurut saya lingkungannya ?
kadang saya skeptis menanggapi pikiran saya, tapi semakin saya melihat sosok GM saya semakin gereget tentang kenapa bisa menjadi seperti itu.

Akhirnya, saya coba membohongi diri saya untuk mencoba membaca kembali buku nya. kali ini, saya coba lebih rapih dan tidak melewatkan halaman per halaman. Semakin lama sampailah saya pada momen bisa menghabiskan bacaannya. Lalu, saya menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan pertanyaan saya selama ini. Jawaban tersebut sederhana menurut saya, namun tinggal bagaimana cara-nya mengemas sehingga bisa dinikmati banyak orang. yakni ; Pak GM selalu menyampaikan.


Jalan beliau dengan berkarya, melalui tulisan tulisannya. & tanpa sadar saya seperti anak berkebutuhan khusus sekarang.
saya merasa butuh lebih banyak membaca, dan bisa menyampaikan seperti pak GM. Untuk menjawab setiap pertanyaan pertanyaan yang muncul dalam hidup saya.

Terutama tentang, " Menjadi apa saya nanti dari apa yang saya lakukan kemarin dan sekarang"



Bismillah, menulis salah satunya.


Kerawang, 17 Sept 2017









  • view 31