Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Motivasi 25 Januari 2018   14:30 WIB
Aku danKelurgaku (Versi Drama)

 

AKU DAN KELUARGA

(Kebersamaan bersama keluarga adalah kebahagian sendiri menurutku, dimana kami bisa bercanda dan bermain bersama. Ada ayah, mama, aku dan juga adik. Walaupun sekarang waktu berkumpul sudah semakin berkurang, seperti ayah yang sudah bekerja dan aku yang sekarang sibuk dengan tugas-tugas dari kampus. Di suatu sore kami duduk di depan teras rumah berbincang-bincang untuk menutup hari. Aku keluar dari dari pintu rumah dengan sebuah dulang ditangan yang berisikan empat gelas kopi).

Aku : (sambil menyodorkan gelas kopi ke hadapan bapa dan mama). Bapa, mama, aku                              sangat bahagia bisa berkumpul lagi dan kembali melihat senyum bapa dan mama                            yang telah lama hilang dari pandangan aku. Meski tak dapat ku pungkiri senyum                                 itu telah memberikan kebahagian dan membangkitkan semangat yang menggebu                          di dalam hati ini. Meski kusadari dibalik senyum itu tersimpan sejuta makna yang                                tak dapat kubacakan.

Adik : (berlari kesana-kemari, sebentar dia berhenti dan memainkan rambut mama).

Bapa : Bapa dan mamamu sangat bangga melihat kalian sudah dewasa dan sudah                                      mandiri, meski sampai saat ini kami masih mengurus kalian dan malah                                             menganggap kalian seperti anak kecil. Tapi memang begitulah kami sebagai                                    orangtua. Cinta dan kasih sayang akan selalu kami curahkan meski kalian sudah                                 beranak cucu. Tak peduli dengan kebahagian kami sendiri karena bagi kami                             kebahagian terbesar kami sebagai orangtua adalah membahagiakan kalian.

Aku : (tiba-tiba raut muka menjadi sedih dan menangis di hadapan orangtua). Bapa,                                  mama, maaf bila sampai dengan saat ini aku belum bisa berbuat sesuatu untukmu                           dan belum bisa membuat kalian bahagia. Aku seperti benalu yang selalu                                                mengambil dari kalian tanpa pernah memberi sekalipun. Aku orang yang sangat                              kejam.Umur bapa dan mama, tenaga, bahkan waktu bertahun-tahun habis terkuras                         hanya untuk membuat senyumku nampak dibalik raut wajahku. Sedangkan aku,                               aku mungkin tak pernah berpikir keras untuk itu. Di sana aku bahkan kadang                                    lalai dalam mengerjar mimpi. Aku asyik dengan euphoria zaman sekarang dan                                kadang lupa perjuanganmu. Aku takut menjadi anak yang tidak berbakti kepada                            bapa dan mama jika aku terus terlarut dalam zaman ini.

Mama : (membelai lembut kepala anaknya dan mengajaknya berdiri. Di pandanginya                               anak itu dengan tatapan lembut dan sangat dalam, lalu ia merengkuhnya dalam                             pelukannya). Anakku, kalian seperti seekor pipit dimata sang elang. Zaman                                     memang maju ikuti perkembangannya tapi jangan sampai kalian tergerus olehnya                              jangan juga masa bodoh jika kalian tak ingin tertinggal. Mengalirlah seperti air                                   ikuti arusnya tapi jangan sampai kalian tenggelam. (mengajak anaknya berdiri)                                 berdirilah!! Sepertinya malam telah menjemput kita, masuklah jangan lupakan                                sang pemilik kehidupan kelak kamu akan bersyukur betapa indahnya kita                                          diberikan kehidupan oleh-Nya.

(aku benar-benar bahagia di lahirkan di dalam keluarga ini, tidak perlu dilahirkan menjadi anak seorang presiden atau anak orang kaya. Bagiku ini jauh lebih dari cukup. Aku bersyukur sampai saat ini keluarga masih lengkap dari nenek, kakek dari ayah atau mama. Ditambah masih ada buyut dari mama yang masih ada. Walau kadang-kadang buyutku sering membuatku kesal karena ringkah lakunya yang kembali lagi seperti anak kecil mungkin karena factor usia. Tapi disisi lain dialah buyut yang ku punya saat ini. Sedikit cerita tentang buyutku, aku adalah buyutnya yang paling terjail yang pernah dia kenal. Mau kenapa? Buyut, atau aku sering menyebutnya uyut itu adalah seorang manusia yang sangat gampang sekali kemasukan mahkluk-mahkluk gaib seperti kesurupan. Tapi karena mungkin karena sudah biasanya aku juga sudah tidak merasa takut bila uyut sedang kesurupan). Suatu hari uyutku duduk diam di depan teras rumah sendirian, nenekku yang memang setiap uyut kesurupan pasti dialah yang jadi juru bicaranya pun menghampiri).

Uyut : (matanya melotot,sedang tubuhnya terguncang-guncang bagai disengat aliran listrik,          raut mukanya pun berubah menjadi seram).

Nenek : (dengan gaya santainya menghampiri uyut, ia membalas tatapan uyut dan sesekali ia                    berputar mengelilingi uyut).

Aku : (kebingungan menghampiri nenek) Nenek kenapa? Ada apa dengan uyut?

Nenek : Jangan mendekati uyutmu kau tidak tahu apa yang terjadi padanya. Lihat matanya itu      seolah-olah ingin menerkammu. (tiba-tiba nenek duduk dihadapan uyut dan mulutnya             komat-kamit seperti sedang membaca mantra).

(Aku berlari kesana kemari mencari hanphone sesaat aku kembali ke tempat nenek dan uyut dengan kamera handphone yang siap merekam kejadian itu. Sementara itu uyut teriak dengan histeris,aku bukannya panic malah seperti sedang menonton sebuah pertunjukan. Tiba-tiba..).

Nenek : Apa yang kau lakukan? Ini bukan permainan. Benda apa yang ada di tanganmu itu,                      untuk apa itu? Itu sama sekali tidak membantu uyutmu.

Aku : Nenek tenang saja ini memang tidak membantu uyut tapi aku ingin merekam ini kelak          ketika uyut dan nenek telah tiada aku masih menyimpan ini sebagai kenangan untuk            mengingatkan aku tentang uyut dan nenek.

(setelah aku merasa cukup dengan rekaman itu aku masuk ke dalam kamarku disana aku tertawa sendirian menonton kembali nenek dan uyut. Sementara itu uyut yang sedari kerasukan kini telah sadar kembali dan masuk ke dalam rumah beserta dengan nenek. Setelah itu aku kembali menemui bapa dan mama dan bermain dengan adikku).

Adik : Kakak, aku ingin sekolah seperti kakak. Aku bosan di rumah hanya berteman dengan uyut dan kakek.

Aku : Iya. Kamu pasti sekolah nanti tapi belum saatnya. Kamu masih kecil.

(mendengar    jawabanku adik menangis dan berlari kearah bapa dan mama dan mengadu).

Adik : bapa, mama, kaka bilang aku belum bisa sekolah. Kenapa?aku bosan bermain dengan         sama uyut dan nenek setiap hari.

( sementara itu aku,bapa dan mama hanya tersenyum lucu melihat adik merengek. Aku kembali memfokuskan diri untuk belajar mengejar mimpi yang sudah menjadi cita-citaku. Keinginanku adalah membahagiakan keluargaku bapa, mama dan adikku dan juga uyutku yang sangat mendambakan aku. Semua kenangan bersama keluargaku sulit untuk dilupakan semuanya selalu terbayang dan akan menjadi kekuatannku agar segera bertemu dengan mereka dan berkumpul kembali).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya : Yustina Hastuti