aku dan keluargaku

aku dan keluargaku

Yustina Hastuti
Karya Yustina Hastuti Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 Januari 2018
aku dan keluargaku

AKU DAN KELUARGAKU

Oleh    : Yustina Hastuti

Mahasiswa PBSI-UMK

           

Kebersamaan bersama keluarga adalah kebahagian sendiri menurutku, dimana kami bisa bercanda dan bermain bersama. Ada ayah, mama, aku dan juga adik. Walaupun sekarang waktu berkumpul sudah semakin berkurang, seperti ayah yang sudah bekerja dan aku yang sekarang yang sekarang sibuk dengan tugas-tugas dari kampus.

Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, aku dan adikku walaupun umur kita jauh berbeda tapi sering kali kita bertengkar entah masalah makanan atau televisi biasanya. Karena sebelum adikku lahir, aku merasa jadi anak tunggal maka wajar saja aku melampiaskan kekesalanku biasanya diam di kamar sendiri dan keluar kamar dengan hati yang sudah cukup tenang. Tapi seringkali aku marah-marah tak jelas, dan seringnya juga adikku lah yang merasakan imbasnya kekesalanku. Dan akhirnya aku juga yang akan kena omelan dari mama. Tapi omelan itulah yang aku kangeni jika sedang jauh dari mama. Tapi jika di depan ayah, anehnya kami berdua tidak pernah berantem. Entah karena takut atau apa, kami berdua suka memendam kekesalan itu. Dan akan dilampiaskan jika sudah tidak ada ayah di sekitar kami. Memang lucu cara berantem kami, walaupun sering kami berantem tapi kebersamaa aku dan adikku lebih banyak.

Jujur aku bukanlahn dari kelurga berada. Aku hanyalah ada di kalangan keluarga yang sederhana tapi bahagia. Masih bisa melihat senyum yang terpancar dari wajah mama, ayah dan adik sudah membuat kebahagiaan sendiri, begitupun sebaliknya. Mungkin di dalam keluarga aku berwatak keras kepala dan egois, ingin selalu menang sendiri dan ingin selalu diutamakan. Sehingga semua yang kuinginkan harus dituruti. Walaupun tidak semua yang aku inginkan tidak semua dituruti, tapi hal penting untukku seperti sekolah atau yang lainnya selalu disediakan. Kadang aku juga pernah merasa bosan dengan keluarga ini, entah sedang merasa kesal karena ayah dan mama sangat membela adik atau karena melihat keluarga lain jauh lebih membahagiakan. Tapi mungkin itu hanya perasaan sembarang saja, dimana kita memang akan merasa apa itu bosan.

            Tapi aku benar-benar bahagia di lahirkan di dalam keluarga ini, tidak perlu dilahirkan menjadi anak seorang presiden atau anak orang kaya. Bagiku ini jauh lebih dari cukup. Aku bersyukur sampai saat ini keluarga masih lengkap dari nenek, kakek dari ayah atau mama. Ditambah masih ada buyut dari mama yang masih ada. Walau kadang-kadang buyutku sering membuatku kesal karena ringkah lakunya yang kembali lagi seperti anak kecil mungkin karena factor usia. Tapi disisi lain dialah buyut yang ku punya saat ini. Sedikit cerita tentang buyutku, aku adalah buyutnya yang paling terjail yang pernah dia kenal. Mau tau kenapa? Buyut, atau aku sering menyebutnya uyut itu adalah seorang manusia yang sangat gampang sekali kemasukan mahkluk-mahkluk gaib seperti kesurupan. Tapi karena mungkin karena sudah biasanya aku juga sudah tidak merasa takut bila uyut sedang kesurupan.

            Suatu hari uyutku duduk diam di depan teras rumah sendirian, neneku yang memang setiap uyut kesurupan pasti dialah yang jadi juru bicaranya pun menghampiri. Lalu dia memanggilku dan memintaku membawakan segelas air putih. Setelah aku berikan, nenek ku itu membacakan doa-doa lalu uyutku lansung di suruh meminumnya. Aku yang sudah mengetahui bahwa sebentar lagi akan terjadi kesurupan atau kerasukan pun segera menyiapkan kamera hanphone untuk merekam kejadian yang akan terjadi. Bukan apa-apa, aku Cuma ingin menjadikan itu sebuah kenangan ketiaka beliau misalnya sudah tidak ada, tapi jangan sampai itu terjadi. Aku ingin uyut melihat keberhasilan cucu atau buyutnya terutama keberhasilan aku dan adikku seperti yang selalu dikatakannya padaku. Aku ingin dia bahagia melihat penerusnya bisa sukses dan berhasil seperti apa yang diharapkan orang sebaya dia. Aku pun tak tahu sudah berapa puluh tahun umur uyutku, tapi setahu aku saat masa penjajahan beliau sudah lahir dan ikut di jajah pada masa itu. Karena uyut sering menceritakan itu semua pada kami.

            Aku kagum pada sosok uyut. Dia orang yang sangat kuat dan tangguh. Suatu waktu tiba-tiba uyutku jatuh sakit. Aku mendengar kabar itu karena mama menelepon. Aku benar-benar sedih membayangkan sosok uyut terbaring lemah di kamar tidurnya. Aku menangis memikirkannya. Tapi aku sungguh tidak bisa beruat apa-apa. Teringat kembali saat aku menjahili uyut tingkahnya yang kembali seperti anak kecil, ah..uyut semoga tidak terjadi sesuatu denganya. Memang kalau sudah menjadi takdir apa boleh buat, kita sebagai manusia hanya akan pasrah dan menerimanya. Hingga suatu hari, aku mendapat telepon dari mama. Isi telefon itu memberitahukan kepada aku bahwa kalau uyut yang sangat aku sayangi sudah meninggal hari itu pada waktu sore hari. Aku sangat terpukul seakan aku tak menerima kenyataan itu. Aku berontak, aku menangis sejadi-jadinya. Aku bicara sama mama dan juga ayah melalui telepon kalau aku ingin pulang. Aku ingin melihat uyut untuk terahir kalinya dan lebih dari itu aku ingin meminta maaf sama uyut atas semua tingkah kekanakanku dan kejahilan yang telah aku buat dengannya. Awalnya ayah dan mama mengiyakan permintaaku. Mereka mengizinkan aku untuk pulang. Aku lansung mematikan telepon. Segera aku mengambil koper dan memasukan barang yang pelru aku bawakan. Aku tidak peduli dengan keadaan di sekitarku lagi. Pikiranku hanya tertuju pada uyut dan uyut saja. Setelah aku mengemasi barang-barangku aku kembali mengambil HP, aku mencari kontak seorang teman dekatku yang kerja dibagian trafel. Aku meminta bantuan dia untuk mengurus tiketku. Besok pagi aku harus pulang. Temanku itu sangat baik, dia sudah mengerti dan memahami tentang aku. Kami sudah seperti saudara. Dia selalu siap untuk membantuku bahkan dia bersedia untuk mengantarku ke bandara besok pagi.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Air mataku tak berhentinya menetes, aku mondar-mandir di kamarku aku merasa betapa sempitnya ruangan kamarku itu. Aku melihat koperku yang berada dipojok kamar aku memandangi foto uyutku. Ah.. Andai waktu bisa ku percepat. Hingga HPku kembali bordering, aku melihat nama yang tertulis di layar HP. Ayah. Segera aku mengangkatnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku terpaku. Aku terjatuh. Keinginanku untuk melihat uyut terakhir kalinya tak kesampaian. Aku tidak tahu apa yang membuat ayah dan mama membatalkan kepulanganku yang tadinya sudah disetujui. Meski aku berontak, memohon dan sangat marah dengan mereka. Sementara disini aku menangis sendirian. Aku teringat akan semua kelurgaku di kampung. Kepergian uyut seolah membawa duka yang sangat mendalam untuk kami terlebih untuk aku. Aku pasrah. Kepulanganmu tidak mampu membangunkan uyut kembali. Yang terpenting kamu tidak lupa dengan uyutmu, pesan-pesan berharga yang telah dia berikan untukmu jadilah itu penyemangatmu dan yang paling penting jangan lupa berdoa untuk arwahnya semoga dia bahagia di surga. Kata-kata mama menguatkan aku.

Hari baru pun tiba segala rasa duka dan sedih tidak berarti hilang namun masih tersimpan dan membekas di dalam hati sanubari. Aku kembali memfokuskan diri untuk belajar mengejar mimpi yang sudah menjadi cita-citaku. Keinginanku adalah membahagiakan keluargaku ayah, mama dan adikku dan juga uyutku yang sangan mendambakan aku. Semua kenangan bersama keluargaku sulit untuk dilupakan semuanya selalu terbayang dan akan menjadi kekuatannku agar agar segera bertemu dengan mereka dan berkumpul kembali.

 

  • view 248