Generasi Emas Indonesia

Yushli Muslim
Karya Yushli Muslim Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Juli 2017
Generasi Emas Indonesia

Generasi Emas Indonesia

Oleh: Yushli Muslim

 

            Indonesia negara dengan segala kekayaan alam dan keragaman adat istiadatnya sering dijuluki sebagai macan tidur karena masyarakatnya dinilai belum mampu memaksimalkan segala kekayaan yang dimilikinya. Indonesia tepatnya di tanah Papua memiliki pertambangan emas terbesar dan terbaik di dunia yang sayangnya dikelola bukan oleh Indonesia tapi Amerika yang otomatis kebanyakan hasil tambang PT Freeport ini diambil oleh Amerika. Selain itu Indonesia memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia yaitu di blok Natuna, yang lagi-lagi kita hanyalah pihak yang membantu pengelolaan kekayaan alam tersebut. Indonesia pemilik hutan tropis terbesar di dunia yang sedikit-demi sedikit luasnya semakin berkurang demi kepentingan segelintir orang. Belum lagi Indonesia adalah negara yang memiliki laut terluas di dunia dengan keragaman biota lautnya, di kelilingi oleh Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Itulah sebagian kekayaan negara kita tercinta yang seharusnya negara kita sendiri yang mengelola dan mendapatkan manfaatnya. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan ilmu pengetahuan.

            Ilmu pengetahuan merupakan pintu bagi negara ini bisa mengelola segala kekayaannya dan membaca adalah kuncinya. Indonesia di tingkat Internasional memiliki indeks membaca 0,001 yang artinya hanya satu dari seribu orang Indonesia yang memiliki minat baca tinggi yang jauh berbeda dengan negara tetangga Singapura yang memiliki indeks 0,55 dan lebik tinggi dari Amerika yang berindeks 0,45. Berdasarkan survei UNESCO Indonesia menempati posisi 38 minat baca dari 39 negara. Survei lainnya berdasarkan data Center for Social Marketing (CSM) mengenai perbandingan jumlah buku yang dibaca pada tingkat SMA di 13 negara. Di Amerika 32 judul buku wajib dibaca oleh siswanya, dan Indonesia 0 buku. Data-data tersebut tentu merupakan pukulan telak bagi bangsa kita, data-data yang mengindikasikan begitu rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yang bahkan kalah dari negara tetangga. Secara tidak langsung data-data survei di atas juga menunjukan kualitas masyarakat Indonesia di bidang ilmu pengetahuan yang jauh tertinggal dari negara lainnya di ASEAN maupun ditingkat dunia. Mutlak penting untuk masing-masing dari kita meningkatkan intensitas membaca. Yang dengan membaca tentu akan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang menempati posisi ke-4 jumlah masyarakat terbesar dunia ini.

            Apa jadinya jika manusia cerdas BJ Habiebie tidak suka membaca? Mungkin tidak akan ada hak-hak paten di bidang penerbangan atas nama dirinya di dunia, hingga dirinya di hormati di negara beliau belajar Jerman, yang otomatis Indonesiapun terkena dampak dikenal dan cukup diperhitungkan oleh dunia Internasional. Itu semua karena kecerdasan BJ Habiebie sebagai anak bangsa, yang hobi membaca, serta cerdas mengelola informasi yang ia dapat dari membaca. Dewasa ini seseorang mesti memiliki budaya literasi. Literasi yang awalnya diartikan sebagai baca dan menulis sekarang bertambah luas pengertiannya seperti cara mencapai sebuah tujuan, serta disandingkan dengan beberapa pengertian seperti cara mengelola suatu informasi atau literasi informasi.

            Tidak terkecuali seorang siswa harus memiliki kemampuan literasi ini karena mutlak berkaitan dengan bahasa dan ilmu pengetahuan. Demi tercapainya seorang siswa yang berkualitas harus bisa memahami tulisan dan bacaan pelajaran yang sedang ia pelajari, dengan begitu seorang siswa bisa memahami pelajaran tersebut. Dengan berbagai manfaat dari membaca atau literasi ini sudah saatnya kita lebih memberikan perhatian terhadap budaya literasi ini, demi bangsa yang cerdas dan berkualitas. Indonesia dengan jumlah masyarakatnya yang banyak ini jika Sumber Daya Manusianya bisa dimaksimalkan akan menjadi bangsa yang tangguh di mata dunia.

            Budaya literasi adalah alat yang sangat penting bagi seseorang atau suatu bangsa untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dirinya atau kualitas pengetahuan masyarakatnya menjadi insan yang cerdas dan mulia. Banyak contoh di masa lalu mengenai manfaat dari membaca atau budaya literasi ini bagi perkembangan dan kejayaan suatu bangsa contohnya adalah masa daulah Abbasiyah di Baghdad yang saat itu banyak sejarawan menyebutkan masa itu adalah masa keemasan bagi umat Islam, yang tepatnya pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dan Al Ma’mun berkuasa. Saat itu didirikan pusat ilmu pengetahuan di Baghdad yakni perpustakaan Bayt Al-Hikmah. Bayt Al Hikmah tersebut banyak menerjemahkan buku-buku asing dari Yunani, Persia dan India di bidang astronomi, filsafat, matematika, kedokteran dsb. Banyak sekali orang-orang muslim saat itu yang belajar ke Bayt Al Hikmah, hal itu membuat dampak yang sangat besar bagi peradaban Islam di Baghdad, yang pada saat itu disebut-sebut sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia.

            Contoh lainnya adalah Renaissance di Barat pada periode abad ke 14-17 disebut-sebut sebagai masa kebangkitan dari zaman kegelapan menuju zaman kemasan Eropa. Renaissance dalam bahasa Perancis memiliki arti hidup kembali. Pada masa itu bangsa Barat mulai mencapai masa keemasannya dalam ilmu pengetahuan, banyak ahli yang bermunculan pada masa itu serta berbagai penemuan hebat mereka yang sampai saat ini bisa kita rasakan manfaatnya. Diantara tokoh Renaissance saat itu ialah Leonardo da Vinci dengan lukisan fenomenalnya monalisa, serta Galileo Galilei dengan karyanya On the Magnit, juga ahli lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, itu hanyalah segelintir kecilnya saja. Perkembangan Barat saat itu mencakup berbagai bidang seperti matematika,  politik, seni dsb.

            Masa-masa keemasan tersebut diatas tentu merupakan bentuk kesadaran manusia-manusia saat itu terhadap ilmu pengetahuan yang juga dibarengi kesadaran mereka terhadap budaya literasi atau baca tulis serta pengelolaan informasi yang didapat hingga mencapai sebuah hasil yang gemilang. Pembudayaan literasi ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi setiap individu kita masing-masing. Dimulai dari sadar diri terhadap pentingnya budaya literasi dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-sehari, setelah itu kita mulai menyebarkan dan mengajak orang-orang terhadap budaya ini. Setiap dari kita mempunyai tanggung jawab moral terhadap perkembangan ilmu pengetahun diri kita sendiri dan masyarakat luas, dengan dukungan pemerintah yang kuat, budaya literasi di Indonesia bukanlah hal yang mustahil, menuju Indonesia yang cerdas dan mulia, menuju masa keemasan Indonesia.

  • view 112