#KurinduITD - Perpolitikan Kampus Yang Adil dan Beradab

Yupita Atuna
Karya Yupita Atuna Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 November 2016
#KurinduITD - Perpolitikan Kampus Yang Adil dan Beradab

Perpolitikan Kampus Yang Adil dan Beradab

Keterlibatan orang muda dalam dinamika yang berlangsung di lingkungan kampus amatlah penting. Semua mahasiswa mempunyai hak yang sama untuk menentukan gerak keterlibatan mereka. Ada yang senang bekerja untuk kegiatan sosial saja, ada pula yang senang untuk kegiatan belajar saja atau mengasah kemampuan mereka terus menerus. Ada lagi satu kegiatan yang seringkali dihindari orang muda yaitu berpolitik. Keterlibatan anak muda dalam berpolitik khususnya di lingkungan kampus saya  ini agaknya sedikit lesu. Hal ini terlihat dari sedikitnya partisipasi mahasiswa dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang mereka labeli bermuatan politik, misalnya BEM, Rapat Umum Mahasiswa, Public Hearing, Pemilwa dan banyak lagi, intinya mahasiswa apatis semakin banyak jumlahnya.

Bagi kebanyakan mereka politik kampus itu hal yang buruk dan tidak layak mendapatkan perhatian mereka. Memang untuk meduduki kursi BEM di kampus saya ini dapat melalui jalur partai yang seringkai menimbulkan banyak selisih paham juga. Namun pernyataan dan padangan-pandangan seperti ini sangtlah menyedihkan. Benarkah politik kampus kita sudah  tercemar dan tidak berbeda dengan politik yang bergulir di Senayan? Mengutip dari semangat yang disampaikan oleh Pak Ganjar Gubernur Jawa Tengah dalam suatu kesempata, “politik itu adalah sesuatu yang alamiah dan mutlak diperlukan dan politik itu kotor karena kita semua yang merasa diri baik dan cerdas-cerdas ini tidak mau terlibat di dalamnya”. Tergerak dari semangat ini sebagai orang muda kita harus sadar akan tugas dan tanggung jawab membenahi kampus.

Mengangkat semangat politik yang adil dan beradab untuk melakukan perubahan demi perubahan. Mengapa harus politik yang adil? Teringat akan teori Kontrak Sosial John Locke dimana kekuasaan adalah berasal dari kesepakatan suatu kelompok masyarakat untuk menyerahkan sebagian dari kekuasaanya untuk dikuasai dan dijalankan oleh penguasanya. Oleh karena itu tidak dibenarkan terjadi kekuasaan yang sewenang-wenang. Kolusi, korupsi dan Nepotisme harus dihapuskan dari perpolitikan kampus. Adil bagi kami berarti memperlakukan kesempatan yang sama bagi setiap mahasiswa untuk terlibat dalam BEM dan bersama-sama bekerja membangun kampus. Artinya tidak ada lagi yang dijanjikan kursi hanya karena menjadi bagian dari tim sukses. Adil bagi kami berarti tidak menggunakan apalagi menyalahgunakan hak orang lain baik untuk menikmati pembangunan kampus serta fasilitas pengembangan diri lainnya. Termasuk pula melaporkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) setiap kegiatan secara terbuka dan akuntable.

Politik yang beradab kiranya sering dilupakan mereka yang tergesa-gesa mencapai tujuan dan kepentingan tertentu saja. Manusia adalah makhluk beradab yang diciptakan Tuhan dengan segala keluhuran harkat dan martabat. Hendaknya keluhuran kemanusiaan ini senantiasa diwujudnyatakan dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang. Seringkali demi tujuan yang sangat ingin diwujudkan mereka lupa bahwa diri mereka membawa dan menyatakan keluhuran penciptaan. Demi mencapai tujuannya orang rela mengorbankan segala cara, bahkan dengan mengorbankan sesamanya sendiri. Ada suatu perumpaan yang unik, dua sahabat miskin bertanya satu sama lain, “hari ini apa makan?” dua sahabat sederhana lainnya bertanya “hari ini makan apa?” dua sahabat menengah lainnya bertanya “hari ini makan di mana?” dan dua yang lain yang amat kaya dan penuh ambisi bertanya “hari ini makan siapa?”.

Tidak jauh berbeda dengan permainan politik yang bergulir dalam Pemilu maupun Pilkada isu-isu sara dan black campaign juga kerap terjadi dalam lingkungan kampus. Sehingga mahasiswa yang rajin belajar pun akan kebingungan menentukan pilihannya. pembentukan tim-tim sukses tertentu juga dijalankan demi mencapai segala tujuan. Perbedaan suku pun menjadi persoalan untuk menentukan siapa yang lebih pantas untuk memimpin, KKN pun sering tak terelakan. Sekarang akan kah kita terus berdiam diri saja? Ikhlaskah kita dengan ketidak merataan fasilitas kampus karena sikap aparisme kita? Dimana gelora mahasiswa?

Semoga dengan Rahmat dan bantuan Tuhan YME kita semua orang muda di mana saja berada mampu mewujudkan perpolitikan kampus yang adil dan beradab. Semoga semakin banyak lagi orang muda khususnya mahasiswa sadar akan tugasnya melakukan perubahan dan mewujudkan kebaikan bagi setiap orang. Lebih lagi bagi masyarakat luas kelak ketika lulus dan menjadi profesional.

  • view 210