#KurinduITD - Indonesia Memilih Aku Juga Kamu

Yupita Atuna
Karya Yupita Atuna Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Oktober 2016
#KurinduITD - Indonesia Memilih Aku Juga Kamu

Indonesia Memilih Aku Juga Kamu

Aku Pribumi! Dia non Pribumi! Tempat  ini hanya untuk kami pribumi! Sejarah memang tidak pernah lepas dari perkembangan masa sekarang, sejarah terus mengakar dan membekas. Entah sejak kapan kalimat-kalimat itu bergulir tanpa ada teori yang membuktikan siapa sebenarnya pribumi dan non pribumi itu. Asal kulitnya kuning atau kemerah-merahan, matanya sipit mereka mencibirnya Cina! Kita tidak pernah tahu darimana kita berasal dan bagaimana kita ada di atas bumi pertiwi. Von Heine Geldern dengan teorinya bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunnan, Cina Selatan yang terbagi dua gelombang yaitu Melayu Tua (Proto Melayu) dan Melayu Muda (Deutero Melayu). Proto Melayu disebut juga sebagai ras Papua-Melanesoid yang menyebar ke Sulawesi Utara, Maluku dan Papua 2000 tahun yang lalu SM. Deutero Melayu disebut juga Austronesia yang tersebar dari Vietnam dan sampai di Indoensia berkembang menjadi Austro-Melanesoid.

Pendapat Moh Yamin berbeda lagi, menurutnya bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri bahkan penduduk di Asia berasal dari Indonesia. Pendapat Moh. Yamin didukung oleh suatu pernyataannya tentang Blood Und Breden Unchiro yang berarti adalah daerah dan tanah bangsa Indonesia adalah berasal dari Indonesia sendiri. Ia menyatakan bahwa fosil dan artefak lebih banyak dan lengkap ditemukan di wilayah Indonesia dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Asia. Misalnya dengan penemuan manusia purba sejenis Homo soloensis dan Homo wajakensis.[1]

Sampai saat ini tidak ada satu teori pun yang saling mendukung satu sama lain atau sepakat tentang bagaimana bangsa ini ada. Menurutku kita semua telah dipilih! Ibu pertiwilah yang memilih kita. Alam bumi pertiwi tahu bahwa ia tak akan berdaya tanpa manusia. Pohon bahkan tidak pernah memilih tangan pribumi atau non pribumi yang sebaiknya menyiraminya. Bencana pun datang tanpa memilih siapa yang pantas untuk dilenyapkan. Lalu mengapa manusia menciptakan jarak yang tidak diperlukan? Apa untungnya menjadi pribumi atau non pribumi? Tapi beginilah keadaan bangsa ini sekarang.

Aku terlahir sebagai seorang keturunan Tionghoa dan seorang Katolik. Lahir dan mengalami masa kecil sejak 1996 pun masih aku rasakan bangsa melawan bangsa. Mereka menyebut diri pribumi! Kami mereka sebut non pribumi. Pernah kualami toko kami dibakar, ditolak disekolah negeri. Bahkan pengalaman itu masih kualami saat menjelang SMA di tahun 2011 dan terus hingga tamat SMA. Aku berpikir di jawa yang lebih maju dan serba modern tidak akan ada kejadian serupa. Di sebuah sekolah negeri ternama di kota Malang, saat aku mulai memasuki gerbang mereka berbisik dan sesekali berteriak Cino! Cino! Aku memilih diam karena kami juga disebut-sebut minoritas.

Seorang anak bertanya kepada Ibu dan Ayahnya mengapa ia dibenci dan dimusuhi? Siapakah nenek moyang kita sampai mereka membedakan kita? Orang tuanya berusaha menguatkan hati anak-anaknya dengan mengatakan bahwa semua orang terlahir karena dipilih! Indonesia telah memilih bangsanya sendiri. Bahkan seorang Tionghoa dan Katolik pun tidak tahu sejak kapan ia menjadi Tionghoa dan Katolik. Satu hal yang pasti, Indonesia telah menyediakan banyak sekali untuk kehidupan bangsanya. Jika semua orang sadar bahwa semua yang mereka nikmati adalah pemberian maka tidak perlu mengklaim satu sama lain. Sejak saat itu seorang Tionghoa yang Katolik sadar bahwa ia sepenuhnya bertanggung jawab membalas budi baik Ibu Pertiwi. Hidup bagaikan lotre kehidupan tentang mujur dan malang seperti dalam karya Denny JA,  Siapa bisa diduga? Siapa yang punya? Bagiku terlahir sebagai Tionghoa Katolik yang berIndonesia adalah suatu kemujuran!

Aku rindu Indonesia tanpa diskriminasi. Dimana semua tawa berpadu menjadi satu, hitam atau putih, kuning atau merah tak menjadi persoalan. Setiap anak akan diperkaya dengan keanekaragaman bangsa ini. Tidak akan ada yang cemas karena mendapati dirinya berbeda. Tidak perlu merasa terancam jika kita memang tidak sama satu sama lain, Bumi Pertiwilah yang akan mengaturnya. Semua warga negara sadar  bahwa tugasnya adalah persatuan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sekat-sekat ras, suku dan agama harus kita terjang demi memajukan kesejahteraan bangsa agar tak lagi disebut bangsa tertinggal.

Berputar-putar dengan masalah perbedaan membuat kita lupa bahwa bangsa ini masih perlu banyak perhatian di bidang keilmuan dan ekonomi. Kita sibuk berteriak-teriak orang suku mana atau agama mana yang pantas memimpin kita. Harusnya demikian kita berpikir bahwa apakah yang melakukan korupsi adalah tertentu dari suku atau agama apa? Para begal uang dan hak rakyat tidak melulu dari suku atau agama tertentu. Mengapa demikian? Karena semuanya itu melekat pada sifat kemanusiaan manusia. Nalurinya untuk terus mencukupi dirinya sendiri dengan memburu hak orang lain. Mereka ini adalah orang-orang tidak berkarakter yang harus kita didik dengan tegas. Apakah mereka perlu kita didik dengan agama atau kekayaan suku tertentu? Jawaban saya adalah tidak! Pancasila telah menjawab segala-galanya yang dibutuhkan bangsa Indonesia untuk hidup berbangsa dan bernegara yang beradab.

Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan makna bagi setiap kita bukan untuk membela Tuhan yang kita imani, tetapi untuk menyadari bahwa ada kekuatan lain diluar kemampuan kita. Oleh karenanya kita senantiasa merasa menerima yang disediakan bumi pertiwi dan akan mengambalikannya ke bumi pertiwi. Menggunakan secukupnya sesuai kebutuhan kita dan menyisakan bagi anak cucu kelak.

Kemanusiaan yang adil dan beradab mengajarkan kita untuk selalu senantiasa bertindak selayaknya manusia. Hewan bisa saja memburu temannya untuk menyelamatkan hidupnya. Tetapi manusia dengan keluhuran akal dan budinya seharusnya tidak demikian. Jika semua orang sadar akan hal ini maka demi menjaga keluruhan dalam dirinya manusia tidak akan saling melukai. Mengutip pendapat Alexander Philip dalam menjelaskan dokumen (Pacem in terris, hal.13) yaitu bahwa masyarakat dibangun atas kebenaran, keadilan, cinta kasih dan kebebasan.

Persatuan Indonesia menjelaskan bahwa bangsa ini menginginkan kesatuan bangsa yang utuh dan tidak terpisah-pisahkan. Persatuan yang telah kita hidupi beratus-ratus tahun yang lalu, hingga 71 tahun kemerdekaan kita raih. 

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Pemerintah hanyalah sebagai pelaksana kekuasaan yang diserahkan oleh rakyat kepadanya menurut teori terbentuknya negara oleh John Locke. Oleh karena itu maka pemerintah harus menjalankan kewenangan itu sebaik-baiknya dan sepenuhnya untuk kebaikan rakyat banyak. Agar keinginan masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik maka bangsa Indonesia mengedepankan musyawarah mufakat untuk penyelesaian dan mencapai tujuan bersama. Bangsa ini telah terbiasa dengan budaya musyawarah termasuk untuk mencapai solusi, hal ini juga yang sedang gencar-gencar dilakukan yaitu membangun dialog antar umat beragama dan kepercayaan.

Akhirnya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Alangkah mengagumkannya para pendiri bangsa ini. Dengan segala ilham dan rahmat merumuskan ideologi bangsa yang amat besar ini. Para pendiri bangsa telah merumuskan sedemikian rupa hingga bangsa ini akan terus bergerak bersama membangun perubahan dan menuju kebaikan masyarakat. Akankah kita yang muda ini terus diam saat diskriminasi terjadi di banyak tempat? Saat kelompok tertentu tak mendapat tempat dalam masyarakat? Mari kita bersatu menjaga keluhuran Pancasila sebagai anugerah kebhinekaan bangsa.

 

 

 

 

 

[1] http://www.ilmusiana.com/2015/07/asal-usul-nenek-moyang-bangsa-indonesia.html diakses pada 10 November 2016 pukul 14:47

  • view 250