Merdeka, Untuk kehidupan baru

Yunita Junior
Karya Yunita Junior Kategori Kesehatan
dipublikasikan 20 Agustus 2016
Merdeka, Untuk kehidupan baru

Di banyak daerah di negeri ini, masih akan kita dapat dimana seorang wanita harus di tandu, di gendong, dan segala upaya lainnya yang masih menggunakan tenaga manusia sendiri demi menyelamatkan wanita tersebut dan bayi yang di dalam kandungan. Rasa sakit yang tidak terperi, lemah yang semakin bertambah-tambah, bahkan darah yang terus-terusan mengalir menjadi suatu kondisi yang tidak bisa terelakan. Belum ditambah kondisi cuaca yang bisa jadi semakin menguji membuat perjuangan itu semakin butuh pengorbanan. Keterbatasan alat-alat kesehatan yang tersedia, sumber daya tenaga kesehatan yang teramat terbatas baik kuantitas maupun kualitas, ataupun kebijakan yang kurang tepat sasaran menambah lagi pengorbanan yang harus diikhaskan. 

71 tahun negeri ini telah lewat dari proklamasi yang diucapkan presiden Soekarno yang menandakan bahwa negeri ini merdeka. Ya, merdeka dari penjajahan Sekutu dan Jepang. Merdeka dari menjadikan warga sendiri dari kerja rodi dan romusha. Merdeka untuk bebas mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di seluruh penjuru negeri ini tanpa takut ditembak karena dikira melawan penjajah. Merdeka selalu memiliki makna yang berbagai macam tergantung dilihat dari sudut pandang yang mana. 

Sejauh itu pula Indonesi merdeka, pembangunan terus dan terus diupayakan agar akses kesehatan dapat dengan mudah dinikmati oleh pengaksesnya.  Pengiriman tenaga-tenaga kesehatan ke daerah terus diupayakan sebagai program unggulan dari Kementerian Kesehatan sebagai solusi atas permasalahan kesehatan di daerah-daerah. Dan aku selalu salut dengan mereka-mereka yang telah mau dan mencoba memampukan diri mereka, memberikan waktu berharga mereka, umur mereka, dan yang lainnya dalam hidup mereka untuk memperbaiki negeri ini dimana tak semuanya berkesempatan ataupun berkenan berlelah-lelah seperti mereka. 

Posyandu kembali dihidupkan sebagai ujung tombak kesehatan. Bersama para kader yang sungguh ketulusan mereka tak terbayar, terus mengupayakan segala yang dapat diraih di kota juga mampu mereka rasakan di daerah-daerah. Dengan pendampingan dari puskesmas, mereka berlelah-lelah mengunjungi satu rumah kemudian ke rumah lain hanya demi pemerataan fasilitas kesehatan. Bagi mereka, lelah itu pasti tetapi akan terbayar dengan senyuman dari masyarakat. 

Pemeriksaan kehamilan diupayakan dapat sesuai standar seperti pemberian imunisasi tetanus, tablet tambah darah, vitamin, pemantauan kondisi janin, kontrol nutrisi yang memang di daerah itu sayuran bisa menanam sendiri tetapi variasi nya sangat terbatas. Kondisi tempat tinggal yang berjauhan diupayakan tidak menjadi alasan tidak terfasilitasinya para ibu hamil untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Karena kebanyakan mereka begitu acuh dengan kehamilannya tanpa mengetahui risiko-risiko yang mungkin terjadi pada mereka dan bayi mereka. Tingkat pendidikan serta kurangnya informasi menjadi salah satu penyebab kondisi acuh ini terjadi. Nyawa menjadi pertaruhan pada kondisi yang mereka alami ini.

Apa yang diceritakan dalam kondisi di atas hanyalah sebagian kecil cerita. Maka di usia yang tidak muda lagi dari bangsa ini merdeka, saatnya kita berhenti hanya sebagai penghujat. Silahkan menghujat jika hujatan itu menumbuhkan solusi. Karena bangsa ini tidak butuh para penghujat yang hanya sebagai pecundang tetapi pengkritik yang mampu menghadirkan solusi. Bangsa ini dibangun berdasarkan para pahlawan yang kritis, yang berani bersuara solusi atas kondisi negeri ini. Merdeka, Jadilah kita bagian dari kemerdekaan yang sebenar-benarnya merdeka. Kerena kita bangga menjadi bagian negeri ini. Indonesia.

  • view 177