Ketika Sandal Itu Hanya Tinggal Sebelah

Yuni S Tika
Karya Yuni S Tika Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
Ketika Sandal Itu Hanya Tinggal Sebelah

Terinspirasi dari kisah nyata ....

?

Didunia ini siapa yang tidak ingin mempunyai pasangan yang setia menemani sampai akhir hayat ? Impian yang wajar untuk semua orang, dan juga untukku yang walau pada akhirnya aku harus benar - benar bisa pasrah untuk berjalan sendiri. Tidak ada yang bisa menolak apa yang sudah di takdirkan oleh Tuhan.

Kita hanya manusia yang menjalani sekenario sang Maha Sutrada

Sebut saja aku Andi. Sudah hampir 10 tahun ini aku berada di Jakarta. Orang - orang selalu memandangku sebagai seseorang yang hidup serba berkecukupan, hidup enak, hidup nyaman dan sebagainya. Memang benar, posisiku sekarang adalah posisi yang benar - benar incaran banyak orang, posisi yang diidam - idamkan banyak orang. Aku seorang desainer grafis di sebuah perusahaan ternama di Ibu Kota. Dengan posisiku sekarang ini,?semua kebutuhan untuk masa depan sudah aku dapatkan. Aku sudah memiliki apartemen, mobil, tabungan dengan 9 digit angka dan semua apa yang aku inginkan benar - benar sudah aku dapatkan. Kecuali seorang Istri.

Masa laluku yang membuat aku lebih selektif memilih seorang wanita untuk kujadikan istri. Aku tiga bersaudara, dengan 1 adik perempuan dan 1 adik laki - laki yang semuanya tinggal di luar Ibu Kota. Mereka tinggal bersama dengan mama ku. Sedang papa ku sudah meninggal sewaktu aku duduk di kelas 2 SD. Dulu kami adalah orang yang sangat berkecukupan, samapi ketika papa meninggal satu persatu aset keluarga dijual. Sampai pada masa kita benar - benar tidak punya uang saku, dan kita harus membawa makanan untuk dijual di sekolahan demi mendapat uang saku. Mama yang sibuk kesana - kemari untuk meminta pekerjaan kepada teman - temanya, dan selalu pulang tanpa hasil yang membuat kita berupaya sekuat tenaga bagaimana caranya untuk membantu mama.

Dan sampai pada suatu ketika mama bertemu dengan seseorang yang dimana benar - benar bisa membuat mama bahagia. Tidak pernah kita melihat mama sebahagia itu. Bukan, bukan berarti mama sudah melupakan papa, tetapi pada saat itu yang kita tau adalah mama bahagia bersamanya. Dan akhirnya mereka pun menikah. Kami memanggilnya Ayah. Ayah merupakan ayah tiri yang baik, walaupun bukan seorang pengusaha yang sukses seperti papa, tapi ayah sangat perhatian kepada kita, sayang kepada kita seperti apa yang papa lakukan kepada kita. Yang membuat kita lebih tenang adalah ayah bisa membuat mama tersenyum setiap hari, membuat mama bisa beristirahat dirumah dan tidak kembali memikirkan kemana hari ini harus mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan kami.?

Hingga pada suatu hari sang Maha Sutradara memberikan sekenario baru yang diluar apa yang kita inginkan. Ayah dipanggil untuk selama - lamaya. Dan pada masa itu aku benar - benar menyalahkan keadaan. Kenapa ini semua berlangsung begitu cepatnya, kenapa hanya kebahagiaan yang fana yang aku dapatkan. Tetapi mama adalah seorang yang kuat, dia selalu menguatkan kami dan mengatakan untuk tidak menyalahkan apa yang terjadi. Baik atau buruk menurut kita adalah yang terbaik menurutNYa.

Akhirnya aku memutuskan untuk ke Ibu Kota melanjutkan sekolah dan mengadu nasib di sana. Aku sementara tinggal dengan nenekku. Semua apa yang kulakukan hanya untuk mama. Itu saja yang aku pikirkan pada saat itu. Karena itu semua aku benar - benar selektif untuk mencari seorang istri yang seperti mama. Seorang wanita yang kuat dalam kondisi apapun, bisa saling menguatkan satu sama lain dalam kondisi apapun.

Hingga pada suatu hari aku mengenal Mirna. Beberapa tahun aku jalani kehidupanku bersama dengan dia dan akhirnya kita menikah. Bahagia ... ya entah kebahagiaan yang aku rasakan sebelum papa meninggal baru bisa kurasakan sekarang ini, setelah menikah dengannya. Satu tahun setelah kami menikah, kami dikaruniai seorang anak laki - laki yang tampan. Benar - benar kebahagiaan yang luar biasa. Tapi ada kesediah yang kurasakan pada saat itu. alu membayangkan, coba papa dan ayah disini, bisa berkumpul bersama dan bisa melihat cucu mereka. Tapi, ah ya sudahlah, aku sudah tidak mau lagi menyalahkan keadaan.

Dua tahun kemudian kebahagiaanku bertambah, istriku melahirkan anak ke dua kami perempuan. Lengkap sudah keluarga kami. Dan aku sudah sangat bersyukur kepada Tuhan sudah benar - benar diberikan istri yang luar biasa dan dua orang buah hati yang lucu - lucunya. Hingga pada suatu hari musibah itu terjadi. Istriku mengalami pendarahan hebat ketika menstruasi. Dan setelah kita bawa ke dokter, dokter berkata istriku terkena kanker serviks stadium akhir. Benar - benar lemas pada waktu itu aku mendengarnya, kembali aku menyalahkan keadaan atas semua yang terjadi. Sehari setelah dia berada di Rumah Sakit mendadak istiku koma. Aku sudah pasrah akan semua yang terjadi. Aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk diberikan yang terbaik, dan aku belajar untuk ikhlas dengan kemungkinan yang terburuk. Seminggu setelah dia koma dan seminggu sebelum hari ulang tahunnya dia meninggalkanku untuk selama - lamaya.

Marah pada saat itu yang kurasakan, kenapa ini semua harus terjadi. Aku masih ingin menjalani hidup kita bersama - sama, membesarkan anak kita bersama - sama. Kakak masih butuh perhatian, adik juga masih butuh ASI yang baru 5 bulan saja kau berikan. Aku benar - benar terpuruk selama sebulan lebih. Seminggu lamanya aku benar - benar menutup diri dari siapapun bahkan anakku.?

Pada saat itu hanya Mama yang benar - benar bisa membangunkanku, menuntunku kembali untuk menghadapi kenyataan ini. Hidup masih panjang, perjuangan masih harus diteruskan. Ya, aku bagaikan sandal yang tinggal sebelah, ketika orang memandang sangat sulit?untuk dipergunakan tetapi aku masih bisa melangkah ..

?

Yuni S Tika?

Salatiga, 28 Januari 2015

?

  • view 200