Gadis Rambut Pirang

Yuni Ananindra
Karya Yuni Ananindra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 September 2016
Gadis  Rambut Pirang

Sore itu –sudah lewat pukul lima sepertinya- saya pulang kuliah mampir mengisi bahan bakar di pom. Saya bersyukur bahwa antreannya tidak terlalu banyak. Di sore seperti itu, menunggu tentu agak menjemukan karena dihadapkan dengan keinginan untuk lekas sampai rumah.  Tapi sejak kapan menunggu menjadi sesuatu yang menyenangkan? Itu barangkali terjadi ketika yang kita lakukan sambil menunggu ternyata  lebih menyenangkan dibandingkan apa yang sedang kita tunggu.

Di depan antrean saya, ada seorang perempuan. Masih muda. Usianya mungkin dua puluhan. Yang menarik perhatian saya dan mungkin beberapa orang yang melihatnya  adalah bahwa perempuan itu rambutnya diwarna pirang. Rambut dicat memang  bukanlah hal yang luar biasa. Tapi di tempat itu, di sebuah titik di kota Yogyakarta, hal semacam itu sepertinya belum terlalu menjadi pemandangan biasa.  Kalaupun dianggap biasa, persepsi yang dimunculkan biasanya tidak terlalu baik. Apalagi jika tidak kenal.

Petugas pengisi bahan bakar itu seorang lelaki. Saya taksir usianya  tiga puluhan akhir atau awal empat puluhan. Dia terlibat pembicaraan dengan gadis rambut pirang. Saya tidak terlalu mendengar apa yang dibicarakan petugas pom dengan gadis itu. Saya pikir petugas itu sedang sok akrab sama gadis rambut pirang. Atau memang mereka berdua kenal? Saya mencoba tidak peduli.

Ketika tiba giliran saya, tahulah apa yang dilakukan petugas isi bahan bakar tadi. Dia melakukan “interogasi” singkat kepada gadis rambut pirang. Dalam bahasa Jawa, dia bilang ke saya yang kira-kira begini isinya, “Kerja kok dandanannya kayak begitu. Kalau kayak mbaknya begini (saya, maksudnya) aku percaya. Paling dia habis nyalon. Iya, to mbak?”

Penampilan saya memang bisa dikatakan kontras dengan gadis rambut pirang itu. Waktu itu, saya pakai rok, baju  yang tertutupi jaket, sama jilbab. Kira-kira sesuai definisi rapi dan sopan menurut kacamata umum.

Saya bingung mau menanggapi apa. Akhirnya saya cuma diam saja sambil nyengir karena masker yang saya pakai kebetulan sedang saya pelorotkan. Untungnya lagi, obrolan itu cuma sebatas obrolan singkat di tempat isi bahan bakar. Saya tidak bisa membayangkan jika saya mesti terjebak dalam percakapan semacam itu di tempat dan waktu yang lebih leluasa.

***

Selamat datang  di era masyarakat yang gemar menghakimi. Apa-apa serba diukur dari yang bisa terlihat di depan mata. Orang sering kali lupa atau bahkan tidak tahu bahwa kadang yang tidak tampak itu sebenarnya jauh lebih penting. 

Saya dan petugas POM barangkali punya standar norma atau lingkungan hidup yang hampir sama. Di sisi lain, gadis rambut pirang itu mungkin punya lingkungan yang memang seperti itu sehingga segala hal yang ada pada dirinya adalah hal yang biasa saja. Atau bisa jadi, gadis berambut pirang tadi justru sedang melawan sebuah  konvensi. Dan masih ada banyak kemungkinan lain. Kita tidak pernah tahu.

Dalam menjalani hidup, kita sering berada di posisi yang serba salah. Membiarkan  dibilang tidak peduli dan tidak memiliki tanggung jawab sosial.  Tapi ketika kita mengurusinya, kita memangnya siapa? Kita punya wewenang apa atas pilihan hidup orang lain?

Memang di dunia ini ada nilai yang bisa berlaku  universal. Tapi itu tidaklah banyak. Pandangan hidup kita dimungkinkan akan berbeda dengan orang lain yang setiap hari kita temui di jalan. Bahkan dalam satu keluarga pun sering kali  terjadi ketidaksamaan.

Identitas adalah perkara yang rumit. Ketika masih remaja, mungkin bisa saja seseorang hanya meniru sesuatu tanpa alasan yang jelas. Meniru sesuatu yang dia suka atau  diaggap baik bagi dirinya. Dan ukuran baik-buruk, benar-salah, itu sayangnya tidak pernah sama.

Ketika tumbuh dewasa, identitas  menjadi perkara yang semakin meruncing. Kita dihadapkan kepada dunia yang punya banyak muka dan lebih sering terlihat wajah bengisnya. Pada beberapa kasus, identitas adalah hasil begelut dengan pengalaman serta proses  bergulat  dengan  diri sendiri.

Saya tidak akan membuat kesimpulan apa-apa di penghujung tulisan singkat ini. Saya hanya akan bilang bahwa menjadi berbeda itu memang tidak mudah. Dan di luar sana, mungkin banyak orang yang menaruh iri kepada si gadis rambut pirang. Mereka tidak pernah punya cukup keberanian menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

***

 

Sumber gambar: d68shop.com

  • view 206