Begini Hukum Gadai dalam Perspektif Islam

Yully Khusniah
Karya Yully Khusniah Kategori Ekonomi
dipublikasikan 21 Februari 2016
Begini Hukum Gadai dalam Perspektif Islam

?

Dewasa ini pegadaian telah menjamur dimana-mana dan menjadi alternatif solusi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Contoh kasus misalnya, kita sedang membutuhkan uang cepat tapi tidak mau berhutang di bank maka kita akan ambil jalan untuk menggadaikan barang-barang yang kita anggap bernilai dan bisa ditukarkan dengan uang seperti komputer, laptop, Hp, emas, dan lain sebagainya. Yang penting jangan sampai menggadaikan hati ya pemirsah...

Oke, kalau menurut definisi terminologi Gadai merupakan salah satu cara pinjaman meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan utang.

Dasar Hukum dalam Islam bisa dilihat pada QS. Al- Baqarah [2]: 283 yang artinya :

"Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya...."

Rukun Gadai

Menurut jumhur ulama rukun ar-rahn itu ada empat, yaitu :

  • Orang yang berakad ( ar-rahin dan al-murtahin)
  • Sighat ( lafadz ijab dan qabul)
  • Utang ( al-marhun bih )
  • Harta yang dijadikan jaminan (al-marhun)

Syarat

Menurut para ulama fiqih, syarat gadai sebagai berikut

  1. Orang yang berakad (ar-rahn dan al-murtahin) harus cakap atau mengerti hukum.
  2. Akad dalam proses gadai sama dengan akad jual beli. Apabila akad itu dibarengi dengan syarat tertentu maka syaratnya batal sedang akadnya sah. Misalnya, orang yang berutang mensyaratkan apabila tenggang waktu utang telah habis dan utang belum dibayar, maka jaminan itu diperpanjang satu bulan, sementara jumhur ulama mengatakan bahwa apabila syarat itu ialah syarat yang mendukung kelancaran akad itu maka syarat itu dibolehkan, tetapi apabila syarat itu bertentanngan dengan akad ar-rahn/gadai, maka syaratnya batal.
  3. Merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada yang memberi utang
  4. Utang itu jelas dan tertentu serta boleh dilunasi dengan jaminan.?
  5. barang jaminannya boleh dijual, nilainya seimbang dengan utang, berharga, boleh dimanfaatkan dan milik sah orang yang berutan
  6. barang tersebut tidak terkait dengan milik orang lain, merupakan harta utuhboleh diserahkan baik materinya maupun manfaatnya

Resiko Kerusakan Barang yang Digadaikan

Menurut Syafiiyah bila barang gadai atau al-marhun hilang di bawah penguasaan al-murtahin, maka al-murtahin tidak wajib menggantinya, kecuali jika rusak atau hilangnya itu karena kelalaian al-murtahi atau karena disia-siakan. Konkritnya al-murtahin diwajibkan memelihara al-murtahin al-marhun secara layak dan wajar, sebab bila tidak demikian, ketika ada cacat atau kerusakan apalagi hilang maka menjadi tanggung jawab al-murtahin.

Masalah Riba Dalam Gadai

Perjanjian pada gadai atau ar-rahn pada dasarnya adalah akad atau transaksi utang piutang, hanya saja dalam gadai ada jaminanya. Ada beberapa hal yang memungkinkan pada gadai mengandung unsur riba yaitu :

  1. Apabila dalam akad gadai tersebut ditentukan bahwa ar-rahin atau penggadai harus memberikan tambahan kepada al-murtahin atau penerima gadai ketika membayar utangnnya.
  2. Apabila akad gadai ditentukan syarat-syarat, kemudian syarat tersebut dilaksanakan.
  3. Apabila ar-rahin tidak mampu membayar utangnya hingga pada waktu yang telah ditentukan, kemudian al-murtahin menjual al-marhun dengan tidak memberikan kelebihan harga al-marhun kepada ar-rahin padahal utang ar-rahin lebih kecil nilainya dari al-marhun.

Finally, menurut hemat penulis Gadai (rahn) adalah sesuatu benda yang dapat dijadikan kepercayaan/jaminan dari suatu hutang untuk dipenuhi harganya, rahn sebagai jaminan bukan produk dan untuk kepentingan sosial maka tidak boleh dijadikan modal investasi karena pada dasarnya gadai ini bukan untuk kepentingan bisnis, jual beli atau bermitra.

  • view 257