Ketika Radikalisme Agama Menyentuh Dunia Pendidikan

Yully Khusniah
Karya Yully Khusniah Kategori Agama
dipublikasikan 11 Februari 2016
Ketika Radikalisme Agama Menyentuh Dunia Pendidikan

Oleh : Yully Khusniah

Paham radikalisme dan ekstrimisme agama kembali menampakkan diri, dunia pendidikan menjadi sasaran empuknya. Paham ajaran tersebut mereka kemas melalui bahan ajar buku Pendidikan Agama Islam untuk SMA yang sudah terlanjur tersebar dan terdeteksi di beberapa sekolah yang ada di daerah Jawa. baca beritanya di sini

Salah satu isi buku tersebut adalah mengenai ajakan untuk membunuh kaum musyrik. Sebagai penjelas, Istilah ?kafir? dan ?musyrik? sebenarnya memiliki konotasi historis dan sebaiknya digunakan dengan hati-hati agar agama tidak gampang melabelkan setiap keberagamaan orang lain dengan kafir atau musyrik karena setiap orang sebenarnya memiliki hak-hak sipil selama tidak menimbulkan kekacauan dan merusak kedamaian di masyarakat. Al-Qur?an juga memberikan hak ibadah kepada orang-orang non muslim dengan caranya sendiri sesuai dengan keyakinannya. Kebebasan hati nurani tidak bisa direbut oleh siapapun, apapun kepercayaannya. Dengan begitu, Islam jauh dari sikap-sikap ekstrim atau radikal.

Gerakan keagamaan yang bersifat radikal merupakan fenomena yang turut mewarnai citra agama itu sendiri. Sikap ini dibarengi dengan fanatik buta yang tidak menyadari hak-hak keberadaan golongan lain. Kuatnya keyakinan tersebut akan mengakibatkan munculnya sikap emosional di kalangan kaum radikalis.

Agama selalu mengajarkan tentang hal-hal baik dan menciptakan ketentraman dalam kehidupan sosial. Seperti dalam masyarakat Jawa terkenal dengan istilah ?gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo?. Dalam Islam ?baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur? (Q.S. Saba?/34:15), atau dalam pandangan sosiolog Barat, agama bertujuan untuk menciptakan ?the good society?. Hal ini yang menjadi fungsi umum agama-agama yang ada. Pada dasarnya, banyak kalangan umat beragama enggan untuk melihat potensi keterkaitan antara agama dengan ekstrimisme atau radikalisme. Sikap enggan ini bukan didasarkan untuk membela agama tertentu, melainkan karena fungsi agama bukan untuk mendorong tindakan yang bersifat ekstrim dan radikal.

Kekurang-jelian Para Penyelenggara Pendidikan

Bocornya buku ajar berbau radikal tersebut bisa jadi karena kekurang-jelian para penyelenggara pendidikan. Jika kita amati, penyelenggara pendidikan di Indonesia lebih cenderung disibukkan oleh pendekatan-pendekatan birokrasi yang begitu rumit dan jauh dari ranah subtantif mengenai pendalaman gerakan intelektual. Penyelenggara pendidikan banyak menjanjikan pelayanan pendidikan baik, tapi roh dari keilmuan itu sendiri jauh dari sasaran sehingga kelemahan itulah yang menjadi target bagi para kaum radikalis dan ekstrimis untuk menyebarkan ajaran-ajarannya.

Mengingat dunia pendidikan memiliki potensi yang cukup strategis untuk mendoktrin paham ajaran dan aliran apapun. Hal ini menjadi bahan evaluasi penting untuk semua komponen-komponen penyelenggara pendidikan dari mulai Kemendikbud, Kemenag, Supervisi, Kepala Sekolah, hingga guru mata pelajaran itu sendiri. Hendaknya mereka memfilter buku-buku yang masuk sebagai bahan ajar di sekolah agar tidak lagi ada kasus kecolongan materi yang dinilai menyimpang.

Peran Guru dan Kepala Sekolah

Jika buku ajar keagamaan yang berbau radikal dan ekstrim sudah terlanjur termuat hendaknya guru mampu berperan untuk menanggulanginya, karena guru merupakan jembatan menghubung antara sumber bahan ajar dengan siswa. Sebelum melakukan proses pembelajaran di kelas ada aturan main yang perlu disiapkan guru untuk memberikan materi kepada peserta didik seperti menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang di dalamnya memuat langkah-langkah pembelajaran, sumber bahan ajar yang relevan, media pembelajaran yang akan dipakai, strategi dan metode pembelajaran yang disesuikan dengan materi ajar, alat evaluasi, dan lain sebagainya. Maka jika guru menyiapkan pembelajaran secara matang berdasarkan kaidah-kaidah pembelajaran yang ada, kejadian bocornya ajaran radikalisme di ranah sekolah tidak akan terjadi.

Selain berkewajiban untuk melaksanakan tugas keprofesionalannya, seorang guru lebih khususnya guru Pendidikan Agama (agama apapun) dalam menangkal ajaran radikalisme maupun ekstrimisme sebaiknya memberikan pemahaman mengenai toleransi antar umat beragama serta dengan batasan-batasannya supaya tidak menyimpang pula dengan keyakinan agama yang dianutnya.

Kepala sekolah juga bertanggungjawab untuk menangkal ajaran tersebut. Seperti melakukan pengawasan dalam proses belajar mengajar antara guru dengan siswa serta membina guru dan karyawan. Hal ini dikarenakan potensi-potensi masuknya ajaran radikalisme di sekolah tidak hanya melalui sumber buku ajar, melainkan dari manapun. Sudah semestinya kepala sekolah sebagai pemimpin melakukan pembinaan-pembinaan serta pengawasan kepada guru dan karyawannya supaya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional pada umumnya dan tujuan pendidikan agama pada khususnya.

Pendidikan Kebangsaan

Pendidikan kebangsaan juga memiliki peran yang cukup penting guna menangkal gerakan ekstrimis agama karena di dalam pendidikan kebangsaan memuat nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang mengajak kita untuk saling menjaga, menghargai, dan menghormati keberadaan siapapun dan latar belakang apapun selama masih dalam kaidah-kaidah moral masyarakat dan berdasarkan nilai-nilai pancasila.

Para penyelenggara pendidikan harus berperan aktif sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing untuk mencegah radikalisme maupun ekstrimisme agama di dalam dunia pendidikan karena bibit-bibit generasi masa depan bangsa ada di dalamnya. Jangan sampai mereka disibukkan oleh pemikiran-pemikiran yang mengancam keutuhan NKRI, karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Untukmu Agamamu-Untukku Agamaku.

  • view 770