Pemikiran Soekarno tentang Sarinah dan Pergerakan Perempuan

Yully Khusniah
Karya Yully Khusniah Kategori Tokoh
dipublikasikan 11 Februari 2016
Pemikiran Soekarno tentang Sarinah dan Pergerakan Perempuan

Sarinah

Ketika mendengar ?Sarinah? barang kali yang pertama teringat dibenak pembaca adalah nama Mall di Jakarta yang menjadi target teror Bom Januari 2016 lalu, siapa sangka dibalik nama itu ada sejarah yang terlupakan. Tidak banyak yang mengetahui siapakah sosok Sarinah dan apa perannya sehingga nama tersebut tidak hanya dijadikan sebagai nama Mall di Jakarta tapi juga judul buku karya Soekarno pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada Buku Sarinah bagian pendahuluan, Soekarno memperkenalkan kepada pembaca bahwa Sarinah pengasuh yang mengisi hidupnya semasa kecil, yang telah mengajarkan soekarno tentang keharusan mencintai rakyat kecil. Ia juga mendapat pelajaran budi pekerti tentang hidup dan tentang cinta kasih, maka tak heran jika bukunya tentang Wanita Indonesia yang berjudul ?Sarinah-Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia? pun diilhami dari sosok sarinah sebagai tanda terimakasih atas jasa-jasanya.

Masalah Perempuan

Dalam memandang masalah perempuan, Soekarno mengadopsi pemikiran penulis sekaligus aktivis sosial perempuan dari Belanda, Henriette Roland Holst (1869-1952), ia menyatakan bahwa perempuan di alam kapitalis mengalami keretakan jiwa yang terbelah akibat keharusan bekerja di luar rumah sekaligus mengabdi pada keluarga. Sistem Kapitalis mengakibatkan kaum perempuan memikul beban ganda. Di satu sisi mereka bertugas mengemban amanah mulia menjadi benteng keluarga; menjaga anak-anak sekaligus mengurus rumah tangga. Di sisi lain mereka dituntut untuk membantu menyelamatkan kondisi ekonomi keluarga.

Salah satu contoh nyata, himpitan ekonomi yang melekat pada kondisi keluarganya memaksa mereka meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri. Tahun 2015, ada 152.099 orang TKW yang terdata di BNP2TKI. Meskipun tahun 2015 mengalami penurunan, namun jumlah TKW masih 60% lebih besar dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja laki-laki yang berada di luar negeri. Belum lagi kasus-kasus kekerasan yang menimpa para TKW yang terbilang banyak.

Masalah perempuan ibarat gunung es yang nampak kecil dipermukaan namun sangat besar di dalamnya.

Pemikiran Soekarno terhadap Pergerakan Perempuan

Sejak awal, Soekarno menyadari kedudukan perempuan Indonesia tidak hanya sekedar berperan sebagai pendamping laki-laki. Ia resah karena persoalan perempuan belum pernah dipelajari dengan mendalam oleh pergerakan-pergerakan di Indonesia. Pemikiran Bung Karno yang tercakup di dalam buku Sarinah layak dinilai progresif, apalagi buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1947.

Dilihat dari perkembangan suatu bangsa, masyarakat, dan ideologi suatu negara, Soekarno mengemukakan tiga tingkatan pergerakan perempuan ;

Tingkat pertama, Pergerakan menyempurnakan ?keperempuanan? yang identik dengan pekerjaan domestik seperti memasak, menjahit, berhias, bergaul, memelihara anak, dan sebagainya.

Tingkat kedua, Pergerakan Feminisme, yang arahnya memperjuangkan persamaan hak dengan kaum laki-laki, persamaan hak untuk melakukan pekerjaan dan hak pemilihan. Pergerakan ini sering disebut sebagai ?emansipasi perempuan? dan seiring berjalannya waktu pergerakan tersebut mengalamai pergeseran makna karena cenderung menentang kepada kaum laki-laki.

Tingkat ketiga, Pergerakan Sosialisme, perempuan dan laki-laki bersama-sama berjuang untuk mendatangkan masyarakat yang sosialis. Pergerakan sosialisme ini merupakan cita-cita Soekarno yang ditujukan kepada pergerakan perempuan maupun negara.

Soekarno menyerukan kepada perempuan-perempuan Indonesia untuk menjadi seorang revolusioner, karena menurutnya tiada kemenangan revolusioner, jika tiada perempuan revolusioner, dan tiada perempuan revolusioner, jika tiada pedoman revolusioner.

Revolusi yang ia cita-citakan bukanlah suatu revolusi kelas tetapi revolusi suatu bangsa, karena hanya dengan revolusi yang didukung oleh semua elemen bangsalah yang dapat mewujudkan masyarakat sosialis.

Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh Gandhi bahwa banyak sekali pergerakan-pergerakan suatu bangsa kandas ditengah jalan karena keadaan kaum perempuannya. Perempuan itu syarat mutlak bagi pembangunan masyarakat vertikal dan horisontal.

Relevansi

Pemikiran Soekarno yang tercakup dalam buku Sarinah mengangkat nilai-nilai tanggung jawab perempuan sebagai dasar perubahan masyarakat dan negara untuk menuju kemanusian yang lebih bermartabat dan menuju keadilan sosial. Tentunya dalam hal ini pergerakan perempuan bukan hanya milik kaum perempuan saja tapi juga kaum laki-laki.

Secara garis besar masalah perempuan Indonesia tidak hanya menimpa kelompok buruh dan tani, perempuan kelas menengah perkotaan pun ikut mengalaminya. Permasalahan tersebut harus dicari solusi menyeluruh melalui kebijakan tentang gaji, jam kerja, pemukiman, kesehatan, keamanan, dan lain sebagainya. Perubahan ini dapat berjalan bila perempuan Indonesia aktif berjuang mengorganisasikan diri untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang berkeadilan sosial.

*) Artikel ini pernah dimuat di empatpilarmpr.com oleh Yully Khusniah

  • view 403