Batik : Warisan Bangsa yang Patut Dijaga

Yully Khusniah
Karya Yully Khusniah Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Februari 2016
Batik : Warisan Bangsa yang Patut Dijaga

Indonesia salah satu negara yang memiliki kebudayaan, tradisi, adat istiadat, serta suku yang lebih beraneka ragam dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun seiring berjalannya waktu kebudayaan indonesia semakin luntur terbawa arus globalisasi. Hal ini terjadi karena bangsa kita terlalu latah terhadap perkembangan globalisasi tanpa dibarengi dengan sikap cinta tanah air sehingga sering dijumpai pemuda-pemuda yang lupa akan jati diri bangsa. Belum lagi kebiasaan masyarakat Indonesia yang konsumtif menjadikan mereka enggan mengembangkan hasil karya tanah air. Karya asli Indonesia-pun semakin tenggelam dan tak mampu bersaing di kancah global.

Salah satu fakta sederhana yang sering kita jumpai ialah mengenai pakaian, pemuda zaman sekarang lebih bangga memakai pakaian made in Import daripada memakai maupun mengembangkan pakaian produk Indonesia. Toko-toko baju berlabel impor lebih ramai diminati daripada toko-toko baju produk nusantara. Keadaan seperti inilah yang menjadi PR kita bersama.

Adalah batik, salah satu buah karya orang Indonesia sejak zaman kerajaan Majapahit. Dari tahun ke tahun Batik Indonesia kian berkembang, hingga pada 2 oktober 2009 secara resmi UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia dan pada tanggal itu pula dijadkan hari perayaan nasional Indonesia yang dikenal dengan Hari Batik Nasional. Hal ini semakin menempatkan batik tak hanya sebagai warisan budaya Indonesia tapi juga sebagai indentitas bangsa.

Namun dalam perjalanannya, kondisi globalisasi yang berorientasi pada pasar menimbulkan beberapa problematika baru terhadap perkembangan batik Indonesia. Dengan mengutamakan keuntungan pasar, nilai-nilai seni dan nilai-nilai falsafi batik semakin memudar sehingga kualitasnya pun semakin menurun. Belum lagi efek pasar bebas yang mengakibatkan pasar kita kebanjiran produk-produk impor.

langkah yang ditawarkan penulis guna mempertahankan eksistensi batik sebagai warisan bangsa ialah seperti meminimalisir masuknya pakaian-pakaian impor dan meningkatkan sumber daya manusia dalam memproduksi pakaian batik dengan memerhatikan kualitas serta estetika pembuatannya agar tidak mengurangi makna yang terkandung di setiap ukiran motif batik yang sebenarnya.

Pemerintah juga diharapkan turut berperan aktif dalam upaya pelestarian batik, seperti menyosialisasikan dan memperkenalkan batik ke tingkat lokal, nasional, maupun internasional secara berkesinambungan, mengadakan workshop/pelatihan pembuatan batik, memperkenalkan batik di ranah formal pendidikan, memfasilitasi para pengrajin batik guna meningkatkan kualitas dan kuantitas pembuatan batik, dan lain sebagainya.

Tak lupa pula bahwa media masa juga menempati posisi yang cukup penting dalam upaya pelestarian ini, karena media masa merupakan salah satu alat yang cukup paten untuk menanamkan mindset kepada masyarakat. Cara itu bisa ditempuh melalui informasi-informasi yang mereka suguhkan, seperti iklan, sinetron, jejaring sosial, penyiaran-penyiaran yang berkaitan dengan dunia batik pada khususnya dan budaya Indonesia pada umumnya, serta meminimalisir penyiaran-penyiaran yang menjurus kepada budaya-budaya berpakaian yang jauh dari jatidiri bangsa Indonesia.

Terakhir, founding father kita: Soekarno, pernah berpesan pada salah satu konsep trisaktinya bahwa sebagai bangsa Indonesia kita harus ?Berkepribadian dalam Bidang Kebudayaan?, tentu pesan ini selaras dengan upaya kita untuk senantiasa melestarikan batik sebagai warisan produk budaya bangsa.

?

foto diambil dari navakashop.com

  • view 384