Naskah Asal Usul Kampung Waerebo

Yulita Irawati Jumun
Karya Yulita Irawati Jumun Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 25 Januari 2018
Naskah Asal Usul Kampung Waerebo

ASAL USUL KAMPUNG WAEREBO

Oleh : Yulita Irawati Jumun

( Pada suatu hari ada seorang pemuda tampan dari Minangkabau

yang bernama Maro. Maro beserta keluarganya berlayar dari Sumatera hingga tiba di Labuan Bajo. Ia yang pada saat itu sedang mencari jati diri mempunyai bakat yang cukup bagus yaitu melakukan permainan ayam taji dengan orang kampung Labuan Bajo yang bernama Tinus ).

          Maro            : Hai...orang Labuan Bajo, siapa yang ada ayam taji di kampung ini?

          Masyarakat  : Ada..( lalu masyarakat ini tunjuk ke salah satu orang yang bernama Tinus ).

          Maro            : Mana orangnya?

( Tiba-tiba Tinus muncul dari kerumunan orang banyak itu dengan membawa satu ekor ayam taji yang sangat besar ).

          Tinus           : Di mana orang yang ingin menantang ayam taji saya?

          Maro  : ( berdiri ). Saya yang ingin menantang ayam taji kamu.

Tinus : Oh. Jadi kamu ya.

Maro  : Ia kenapa?

Tinus : Baiklah kalau begitu, mari kita mulaikan permainan ayam taji ini!

Maro  : Oke...tapi ada perjanjian dalam permainan ayam taji ini!

Tinus : Perjanjiannya apa Maro?

Maro  : Siapa yang kalah, berarti orangnya tidak boleh tinggal di kampung Labuan ini.

Tinus : Oke,,,baiklah saya akan terima perjanjiannya.

( Tidak lama kemudian permainan ayam taji ini di mulai. Yang di mana pada saat itu ayam taji milik Tinus kalah, lalu Tinus berteriak ).

Tinus : Maro ! Kenapa kau itu bermain curang?

Maro    : Saya tidak bermain curang kok.

Tinus : Hahahaha..jelas-jelas kamu itu bermain curang

Maro  : Aduh Tinus buat apa saya bermain curang begitu, kau terima saja kau punya kekalahan itu.

Tinus : ( Tiba-tiba Tinus mengancam Maro untuk membunuhnya ), kau tidak boleh tinggal di kampung Labuan Bajo ini! Kalau tidak saya akan membunuh kamu.

Maro  : Tapi saya tidak bermain curang. Seharusnya kamu yang pergi dari kampung ini, karena berdasarkan perjanjian tadi, siapa yang kalah berarti dia yang pergi meninggalkan kampung Labuan Bajo ini.

Tinus : Bagaimana bapak-bapak bukankah Maro tadi yang bermain curang?

Masyarakat : Iya, kami juga melihat Maro bermain curang.

Tinus : Sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi, karena sudah banyak orang yang melihat kamu bermain curang.

Maro  : Tidak. Saya tidak melakukan itu!

Tinus : Kalau kamu tidak pergi dari kampung ini, maka terpaksa kami akan membunuhmu.

 ( Mendengar ancaman tersebut, Maro mulai tidak banyak bicara, ia langsung berkemas dan langsung meninggalkan kampung Labuan Bajo. Setelah Maro meninggalkan kampung Labuan Bajo. Ia pergi ke sebuah daerah yang bernama Nangapa’ang. Pada pagi hari yang cerah Maro duduk di depan teras rumahnya yang berada di Nangapa’ang sambil minum kopi, ia melihat ke arah gunung. Tiba-tiba Maro melihat asap di sebuah gunung. Gunung itu adalah kampung Todo. Maro merasa penasaran, ia pun pergi ke kampung itu. Karena keberuntungannya Maro langsung di terima baik oleh masyarakat kampung Todo. Masyarakat kampung Todo langsung mengadakan pemilihan ketua suku ).

Masyarakat Todo   : Maro, kami masyarakat Todo sudah sepakat memilih kamu sebagai ketua suku kampung Todo ini.

Maro  : Terima kasih atas kepercayaan masyarakat kampung Todo mohon kerja samanya. Mari kita bersama-sama membangun kampung Todo ini dengan baik.

Masyarakat Todo  : Iya. ( jawab masyarakat Todo secara serempak).

 

( Pada suatu malam, ada seekor kera datang ke kamarnya Maro di Popo. Kera itu duduk di atap rumahnya Maro. Maro merasa bahwa kera itu bukanlah sembarang kera. Maro berusaha berbicara dengannya ).

          Maro  : “ Hai kera, kalau kau membawa berita baik padaku maka bersuaralah ‘’ ( ujar Maro sambil melihat ke arah kera itu ).

Kera  : Maro, tolong kamupindah dari kampung Popo ini.

Maro  : Hmmm...Mengapa aku harus pindah?

Kera    : Karena sebentar lagi kampung Popo ini akan terjadi kebakaran

Maro  : Saya tidak percaya kera, kamu itu sok tahu sekali.

Kera  : Hahahaha...( sambil ketawa ), saya bukan sok tahu Maro.

Maro : Terus?

Kera  : Karena saya mendengar berita ini dari kampung Lamba.

Maro : Mereka bilang apa?

Kera   : Mereka akan datang untuk membakar kampung Popo ini di tengah malam

Maro : Hmmm..., kalau begitu sya secepatnya meninggalkan kampung Popo ini (jawab Maro).

Kera  : Oke...,baiklah kawan.

 

( Beberapa hari kemudian, Maro meninggalkan kampung Popo bersama kera itu. Kera itu menuntun Maro untuk pergi ke sebuah kampung bernama Modo dan ia menetap di kampung itu. Setelah beberapa bulan Maro di kampung itu, ia mulai menguasai kampung Modo dan di sini timbullah percekcokkan antara Maro dan warga kampung Modo ).

Warga kampung Modo : Hei Maro, kau tidak boleh tinggal di kampung Modo ini lagi.

Maro : Kenapa saya tidak boleh tinggal di kampung ini lagi?

Warga kampung Modo : Karena kamu banyak sekali membuat masalah di kampung ini.

Maro : Saya tidak pernah membuat masalah, selama saya tinggal di kampung Modo ini!

Warga kampung Modo : Kalau kau tidak mau pindah dari kampung ini, kami warga kampung Modo akan membunuh kamu.

Maro : Baiklah, saya akan pindah dari kampung ini.

 

( Setelah berapa menit kemudian, Maro langsung pergi meninggalkan kampung Modo. Ia langsung pergi ke sebuah kampung yang bernama Golodamu. Sampai di kampung Golodamu,Maro langsung mendapat istri. Di kampung ini, Maro mulai menanam jagung dan memanen hasil yang sangat memuaskan untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya. Hari demi hari Maro dan istrinya selalu bertengkar. Maro dan istrinya mendapat kutukan yang sangat berat, bahwa Maro dan istrinya tidak boleh tinggal di Golodamu karena ada sebuah kutukan yang mungkin saja datang karena karma yang di perbuatnya di masa lalu. Maro dan istrinya tidak pernah putus asa, mereka akan memutuskan untuk pindah ke sebuah daerah yang bernama Waraloka. Hingga pada suatu malam penuh bintang, Maro mendapat sebuah mimpi yang bisa merubah cara hidupnya. Dalam mimpinya ada seorang nenek tua datang menghampirinya dan menyampaikan sebuah pesan).

Nenek tua : Maro, coba kamu memandang ke bawah, di sana ada tanah yang sangat besar dan kamu akan berkembang di tempat itu.

Maro : Di tempat yang mana nenek? ( jawab Maro )

Nenek tua : Pokoknya kamu pergi saja, di situ ada tanah yang sangat besar dan kamu akan menamai tempat itu dengan Waerebo.

Maro : Oke, baiklah Nek. Saya akan segera pindah ke kampung Waerebo itu.

( Setelah mimpi itu datang padanya, Maro mulai berpikir agar segera pindah ke kampung Waerebo itu. Di kampung waerebo inilah Maro menetap dan sampai sekarang keturunan Maro masih ada di Waerebo ).

  • view 55